Irreplaceable

Kata orang, moving on adalah hal yang sulit dalam hal cinta-cintaan. Gue menemukan sesuatu yang lebih sulit diterima dalam hal beginian-- being replaced.

Lihat tempat kita dulu ditempatin sama orang lain emang gak asik. Contohnya bisa beragam sebenernya. Misalnya, dengan kehadiran seorang adik di tengah keluarga aja kadang kita jadi merasa 'tergeser' posisinya. Atau orang yang lebih pinter di kelas bikin kita bukan menjadi favorit guru. Atau mungkin orang yang kita sayang menemukan seseorang yang baru. Semuanya membuktikan kalo kita pengen dianggep, mean something to someone. Ya emang, maybe the things that happened made it impossible for you to stay, tapi tetep aja gak rela liat dia sama orang lain. It's sad to see them find happiness when you just lost your own.

Manusiawi sih sebenernya, manusia selain pengen dicintai kan dia harus mencintai, hukum alam yang ga bisa dilawan. Menjadi seseorang yang berarti buat orang lain mungkin salah satu keinginan terdalam kita. Dimana kita bisa buat hari-harinya bahagia, even if it means doing nothing with them. Yang disayangkan adalah saat kita masih bersedia memberikan semua yang kita punya, tapi dia udah gak lagi membutuhkannya, atau ada orang yang lebih baik yang bisa menawarkan yang kita ga bisa tawarkan. Hanya karena ada seseorang yang akan selalu lebih baik, bukan jadi alesan kita berhenti mencintai seseorang. Gue percaya akan ada satu orang yang ga akan bisa menggantikan elo, karena dia sadar sepenuhnya kalo elo tak tergantikan.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak Cupu

"Lo gak pernah pacaran, ga ngerokok, ga minum, ga pernah clubbing... Nadia... Masih ada cewe kayak lo ya di era ini?"

Call me a nerd, but I have nothing against the term, to be honest. I kinda like being the nerd among the clan. The one that you can tease or mock with all your might without having the slightest thought of being annoyed or offended. I like nerdy guys too. Suspenders, glasses, checkered shirts. Yes, you got the vision right. The nerdier, the better. I recently saw a movie that has Michael Cera starring in it, and yes, he turns me on, in a less provocative way, of course.

Boro-boro aneh-aneh sama cowo, dipegang tangannya sama cowok aja gemeteran. Yes, I would definitely want to know how it feels like to change boyfriends every week, tapi apa daya, mimpi tak sampai. Make-up ga beres, boro-boro bisa jalan lurus pake hak, kadang gue mempertanyakan jati diri gue sebagai wanita.

"Gue umur 19 mah lagi gila-gilanya 'berhubungan' sama cowo gue, Nad, waktu itu," kata temen gue yang berumur 23. "Gila, umur segitu, ya lagi menggebu-gebunya lah," dia melanjutkan ceritanya. Ini emang gue yang ga waras atau emang jaman makin edan sih? Gue kayaknya tinggal di dalem goa deh selama ini. What exactly am I missing out?

The answer? Nothing. Pertanyaannya sama kayak gini, "Do you want to have kids?" And my answer is as common as other girls would have to say about it. "Sure I do." But do I want to have kids NOW? 'Now.' You see, one word change the whole question. Of course not. Most of us aren't ready, even we have a hard time taking care of ourselves, with the laundry, and the chores, and the homework and other things to complicate life along. "So do you want to have sex?" Yes, at the right time, I do. But do I want to have sex "now" is when I have to shake my head and disagree with popular belief.

Bukan masalah siapa yang benar atau siapa yang salah. Kembali lagi sama pegangan hidup. Mereka bilang suruh coba dulu baru bisa ngomong. That is like saying, "You have to kill someone to know that it's illegal." Seperti halnya sama pisau. Pisau itu bisa digunakan untuk kebaikan, atau untuk kejahatan, depends on the person who has it, right? Pisau bisa digunakan buat masak, bisa juga untuk membunuh, the person who holds the knife make the call. But it doesn't take a genius to realize that you don't have to commit a sin to know something is wrong.

Mereka suruh gue 'cobain' aja pacaran. Dimana-mana orang ulangan harian (Baca: Pacaran) dulu, masa langsung Ujian Akhir (Baca: Menikah). Timing is everything, when the time's right, everything will be beautiful. Gue ga harus menurunkan standard gue, just to please people I don't even like, do something I don't even want to do, with the person I don't want to be with. "Ya elah, Nad, udah mau masuk kepala 2, boleh lah sekali-sekali pacaran." Kalo udah merasa siap, gue akan siap kok. "Umur segini jangan serius-serius amat, Nad, cari cowonya. Santai aja lagi." Ya, mungkin cara pandang gue beda. Harus serius dong, kalo main-main kapan abisnya?

Risih ga sih dicomelin sama orang-orang yang cara pikirnya berbeda jauh? SANGAT. But I look at it this way, I can go to their level any day if I want it to, endless night in clubs, smoke weed, crack, sleep with guys, but they can't go back to the level where I'm standing even if they want or plead or beg to.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Other Half

Gue pernah baca artikel, entah beneran atau rumor, kalo setiap orang punya 7 orang yang tersebar di seluruh dunia yang miriiiiip banget sama dia. As in physically. Itu membuat gue berpikir… Semua orang tau istilah “Soulmate,” tapi tentu definisi tentang kata itu selalu berbeda menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Ini mau cerita apa berdoa?). Apa definisi soulmate menurut kamu? Teman hidupkah? Sahabat kamu-kah?

Gue mau cerita sedikit tentang pengalaman gue beberapa hari ke belakang. Entah kenapa, I have this ability of people opening up to me, and I mean really open up to me, even at our first conversation. Gue bertemu seorang dokter gigi, parasnya ayu, tahi lalat yang ada di pipinya mengingatkan gue sama Paramitha Rusady saat jaman muda dulu. Dia ga cerita banyak, tapi entah kenapa kita tiba-tiba bicara soal cinta. Umurnya tergolong muda untuk seorang dokter gigi; 25 tahun. Gue melontarkan pertanyaan yang bisa dibilang gabungan antara basa basi dan keingintahuan, “Belom married?” Dia tersenyum manis. “Kemaren dilamar, tapi aku tolak.” Gue heran. Kenapa juga ditolak lamarannya? Akhirnya gue beraniin diri buat nanya, masalah dianggep kepo atau ga, urusan belakang. Jawabannya simple, “Aku belom siap. Dan belom mau serius juga.”

Serius lo?! Umur udah ga bisa bohong juga kali. 25 tahun, man. Akhirnya dia jelasin… Dia udah jalanin satu tahun sama seorang pria, beda 6 tahun lebih tua diatasnya. Dia bilang dia selalu anggap pria ini temennya, dan ga ada kata resmi bilang “jadian” juga. Ya tapi mereka jalanin hubungan, dan hubungan itu deket. Gue tanya lagi, “Tapi kalau ditanya temen-temen itu siapanya, dijawab apa?” Dia jawab, “Ya, pacar.” Santai banget jawabnya. Terus gue tanya lagi, makin lama makin terdengar seperti interogasi, “Keluarga kamu udah kenal dia?” Jawabannya mengingatkan gue kepada seseorang, “Ya aku ga gitu dekat sama Mama juga. Jadi dia ga banyak tanya.” Terus gue makin tanya lebih dalem, “Emang kenapa ga mau serius?”

“Aku bukan tipe orang yang bisa diajak married deh menurut aku, kayak Papa aku,” aku menyimpulkan kalau orang tuanya udah pisah, meskipun agak lancang tapi aku tanyakan juga, dan bener aja… Emang udah pisah katanya. “Aku orangnya karir banget deh. Dan aku ga menemukan alasan kenapa aku harus habisin hidup sama seorang pria kalo itu memperumit semuanya. Aku Muslim, jadi aku pikir, ya daripada aku nantinya semakin menyadari kalo hubungannya ribet, mendingan aku didik anak, pahalanya juga besar kok.” Ga gitu deket sama nyokap, karir banget, pengen ngadopsi anak tapi ga usah married, gue berasa ngobrol sama diri gue dari masa depan (Since she’s 6 years older than I am). Fix.

Terus gue cari permasalahannya… I searched for the roots. Takarannya gampang, ya coba gue bercermin sama diri gue sendiri. Gue menanyakan the million dollar question: Pernah disakitin banget ya sama cowo? Dia tersenyum sinis sambil agak menolehkan kepalanya sebelum dia melanjutkan ceritanya. “Aku udah ngelewatin semuanya. Yang namanya nangis-nangisan di kamar mandi, sakit hati parah deh. Pas aku pacaran sama cowo aku di SMA, aku ditinggal ke Belanda. Akhirnya ngejalanin LDR. Singkat cerita, satu tahun LDR, aku tahu dia selingkuh, dia sendiri ngaku. Belum lama ini, beberapa bulan yang lalu, setelah hampir 8 tahun kita putus, dia ngajak balikkan, bahkan mau married. Pas dia nyariin pertama kali aku merasa nyes-nyesan. Dia malah salahin aku, “Kenapa kamu ga pertahanin aku?” Tapi aku sadar kalo it won’t work out, penasaran aku terjawab juga, dan itu hilang. Katanya aku denger dia lagi pacaran sama cewe habis itu. Eh, kemaren aku dapet undangan dia mau married.”

Gue ketemu titik “pencerahan” hidupnya. Tuh cowo-lah yang mengubah persepsi dia tentang cinta. “Wow, it’s like the perfect ending to the fairytale, just 8 years too late,” pikir gue. Akhirnya dia bilang, “That’s why, gue ga mau married. Gimana mau kasi kepastian sama cowo, kalo aku sendiri belom percaya sama diri aku sendiri?” Gue kena banget pas dia ngomong gitu. Ni orang… Kayak soulmate gue. Dimana gue bisa melihat banyak gambaran diri gue dalam orang ini. Gue tanya terakhir, “Kamu bintangnya apa sih?” Jawabannya memperkuat pemikiran gue. Dia jawab, “Cancer.”

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kapan Gue?

(Lagi cari parkiran di Senayan City, abis nemenin @HeiHeiCJ siaran)

Titin: Iya, tinggi banget...
Nadia: Ganteng lagi.
Titin: Terus kemaren gue liat dia nge-Retweet cewenya, cewenya bilang, "Thanks ya lunch-nya," dia tulis, "Anytime."
Nadia: Aww...
Titin: Kapan ada yang bikinin gue lunch?
Nadia: Ngau... Iri.
Titin: Terus ada lagi dia nge-Tweet cewenya...
Nadia: Lo follow cewenya? Buset!
Titin: Kaga! Dia Retweet.
Nadia: Oh...
Titin: Cewenya bilang, "Duh, capenya abis seharian kerja," terus dia Retweet, "Aku tunggu di luar ya."
Nadia: AWWWWW... Kok baik!!! Asdfghjkl;lkjhgas *error*
Titin: Kapan ada yang nungguin gue di luar abis gue siaran?!

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS