Walk The Talk

A lot of people can talk the talk, but can you walk the talk?

Mungkin buat yang belum familiar sama pribahasa di atas, atau agak sedikit bingung cara menginterpretasikan ke kehidupan sehari-hari, santai aja siiiiik... Ini cuma blog iseng, bukan majalah Tempo. Kemaren adalah hari ulang tahun John Lennon, the ever-so-famous Beatle, dan gue teringat oleh lagu yang dibuatnya yang berjudul Imagine yang terkenal di seluruh pelosok dunia. Isn't it kinda ironic? Dimana dia mendeklarasikan ke semua orang tentang keinginannya akan perdamaian, tapi di rumah tangganya sendiri, hubungannya antar dirinya dan anaknya, tidak ada rasa damai sama sekali?

Kayak Michael Jackson, icon musik yang ga asing dan lewat musiknya bisa langsung bikin semua orang pengen joget, seketika menganggul-ngangguk mengikuti irama lagu saat lagunya diputarkan, tapi sebenernya yang butuh dihibur adalah dirinya sendiri?

Atau Jim Carrey, seorang sosok komedian terkenal, bisa membuat begitu banyak orang tertawa saat melihat aksinya di layar lebar, namun bahkan mantan istrinya sendiri mengakui kalau sebenernya ia bukanlah pribadi yang menyenangkan seperti yang dikira orang.

Bisa juga dipersempit ruang lingkupnya; seperti dokter contohnya, seseorang yang ahli dalam menyembuhkan orang, namun siapa yang mengira jika ia sendiri mengidap penyakit kanker yang tidak bisa disembuhkan bahkan oleh dirinya sendiripun?

Ya, mungkin hidup ini tidak adil, tapi Tuhan selalu adil. Setiap orang punya porsinya masing-masing. Tapi semua yang bisa dilihat kasat mata, belum tentu sama indahnya dengan realita.

Intinya, ga semua orang yang lo lihat sebagai penghibur, penyembuh, penyelesai masalah orang lain berarti hidupnya bebas dari masalah tersebut. Bisa jadi dia cuma memakai topeng agar semua orang percaya sama profesi yang dikerjakannya. Then again, everyone wears a mask, right? Semua orang kalo ditanya, "How's life," mereka hanya bisa menjawab, "All good." Kenapa? Because it's easier to say that it's all going right than to explain why it is not. Karena ga ada yang tau apa yang sebenernya mereka alami, ga ada yang pernah tau apa yang sebenernya terjadi.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Why Women Ask Questions & Why Men Can't Handle Them

"Women need men like a fish needs a bicycle... EXACTLY! We don't need men. It's men who need us."

Berapa banyak pria yang akan membenci gue karena meng-quote statement di atas di awal blog. Sebenernya udah terbukti, udah menjadi fakta, atau bahkan udah kodratnya kalo wanita bisa lebih hidup sendiri dan hidup mandiri. I mean, contoh simple-nya aja, kalo putus, yang lebih cepet cari pengganti siapa? Pria atau wanita? Cenderung pria, kan? Mau ngomong, "Aku ga bakal bisa gantiin kamu," atau "Aku mendingan sendiri daripada gak sama kamu." Give them 6 months top! Nanti juga ada pacar baru, all those things men say are strictly crap. 

I have a friend who is doing well with her business, dia seorang shop owner, umur 23 tahun, setahun minimal 2 atau 3 kali jalan-jalan ke luar negri, masih betah ngejomblo. I asked her why, kalo aja dia punya pasangan, hidup dia sempurna. And her answer is simple, "Men think it's women who are complicated, yang sebenernya wanita think the opposite." Setiap wanita pasti pernah merasa kalo cowo juga rumit, tergantung pengalaman si wanita ini dengan pria bagaimana definisi 'rumit' dalam kamus percintaan mereka. 

Kurang lebih rumitnya pria bisa dirangkum dalam satu kalimat, "Ga diladenin, nyamperin. Diladenin, malah ngejauhin." Take for granted, jenuh, pada dasarnya emang relationship equals drama, ya gak sih? Tapi bukannya semakin lo menjauhkan diri dari sesuatu yang lo ga suka, semakin disudutkan untuk menghadapinya? 

Pria pada dasarnya love the chase, alias mereka akan melakukan hampir segalanya untuk mendapatkan wanita. Wanita pada dasarnya peka dan sensitif terhadap perubahan, jadi apapun yang dilakukan pria dalam hubungan akan menjadi tolak ukur dari saat pendekatan. Pria pada dasarnya bisa memutuskan hubungan semudah memotong tali, wanita pada dasarnya akan menuntut penjelasan terhadap perubahan yang pria lakukan. Pria pada dasarnya ingin yang mudah, mempersingkat segala sesuatu biar ga ribet. Wanita pada dasarnya ingin menyelesaikan masalah sampai tuntas. Pria pada dasarnya akan mati-matian di awal dan akan merasa puas saat telah mendapatkan, sehingga usaha yang ia keluarkan tidak segencar di awal. Wanita pada dasarnya tidak akan tertarik di awal, namun saat ia sudah jatuh hati dengan seseorang, mereka akan melakukan apapun untuk menjaga hubungan. 

Yes, it's men who choose women, but it's the women who keep the relationship going most of the time. Mungkin salah satu bukti kalo peran wanita penting dan ga bisa dianggap remeh adalah kalo kehidupan itu sendiri dimulai dari wanita. Lo lahir dari Nyokap, kan? Ya iya kali lo lahir dari Bokap lo, serem bet dah. Riset aja udah ngebuktiin, kalo duda (yang tidak mempunyai pasangan setelah berpisah) akan lebih cepat meninggal dibanding janda (yang tidak mempunyai pasangan setelah berpisah). Pasti deh, kalo masalah jomblo, cewe lebih bertahan dan lebih betah lama-lama. Tapi ga cuma betah sendiri aja, cewe juga betah berkutat pada memori yang lama-lama, which makes us so much harder to move on. Pada akhirnya, sendiri atau berdua, yang diinginkan pria dan wanita adalah untuk bahagia.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Satu Dari Seribu

Tuhan memang menciptakan miliaran orang di muka bumi, namun kenapa dari sekian banyaknya manusia, Ia hanya memberikan kita satu pasangan hidup? Karena Ia ingin mengajarkan kita bahwa satu saja cukup. Satu, jika ia adalah yang orang yang benar, takkan membuatmu menyesal. Manusia tidak pernah luput dari kesalahan, jadi memang wajar kalo manusia mengecewakan, tapi pertanyaannya adalah, apakah ia membuatmu menyesal? Membuatmu mengeluarkan kata-kata seperti, "Ia bukan yang terbaik untukku."

Bicara soal yang terbaik, tentu saja takkan ada habisnya. Di atas darat ada langit, di atas langit ada lagi langit yang lebih tinggi. Kadang bukanlah yang terbaik, atau yang serba 'paling' karena kadang seseorang yang mendekati sempurna saja masih membuat kita merasa hampa di dalam, karena tidak ada yang terbaik. Pencarian untuk mendapatkan yang terbaik akan melelahkan, karena kamu tidak akan pernah merasa puas. Pada akhirnya bukan yang paling sedap dipandang, tapi yang mengerti dirimu bahkan kadang lebih baik dari dirimu sendiri. Bukan yang paling bisa membahagiakan dengan materi, tapi mengisi kekosongan batinmu tanpa bahkan mengucapkan sepatah katapun.

Ya, aku rasa itulah yang terindah. Untuk menemukan satu di antara seribu. Kebanyakkan hanya datang dan pergi, tidak memberikan kesan yang mendalam, sampai akhirnya seseorang datang dan memberikan rasa yang berbeda.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan Mahasiswi: Introduction


Setelah dua tahun postpone keinginan untuk ngelanjutin ke Universitas, akhirnya hari ini, tanggal 5 September 2012, gue sah menjadi seorang mahasiswi. Mungkin lo nanya, "Two years?! Ngapain aja lo?" Well, a lot. Gue ngajar, gue nge-MC, gue modeling, gue kerja lah pada dasarnya. Dan bener kata kebanyakkan orang, kerja tuh bikin lo lupa diri. Tau namanya nyari duit bikin gue nyaris lupa sama keinginan awal gue. Gue juga bukan tipe yang ngoyo pengen dapet gelar biar keliatan pinter, jadi gue ngerasa kenapa engga nyari duit dari usia muda? Toh halal, toh di luar negri juga banyak kok orang yang udah kerja seumur gue, toh gelar ga dibutuhkan kan?
Well, I was wrong. Seberapa besar keinginan gue membuktikan kalo lo ga butuh gelar untuk make it in this life, gue ga bisa. Karena sistem telah mengalahkan segala pembenaran di otak gue. Cause apparently, in Jakarta specifically, you are what your major is.
Ya, begitulah kurang lebih pendoktrinan dari generasi ke generasi. Seberapa baik skill lo, seberapa besar talenta lo, ga akan dianggep kok. Mereka butuh sepucuk kertas untuk membuktikan kalo lo berharga.
Kesian ya? Kesian sama orang-orang yang ga mendapatkan kesempatan yang sama.
Hari pertama dan gue udah belajar banyak. Awal hari yang dimulai dengan motor yang mogok dan nyaris terlambat bukan sesuatu yang ada dalam benakku saat bangun pagi tadi. Hari pertama belajar tentang Advertising, alias Periklanan. Gurunya terlihat kece walau umur ga bisa lagi boong. Ya, pada akhirnya semua orang mencoba untuk 'menjual' diri mereka dalam kemasan yang lebih menarik, bukan? Dia seorang lulusan Amerika, gelar Masters pula. Dia punya Advertising Agency sendiri, and so I can't help but ask, "Why teach?" Jawabannya simple, katanya karena it's fun. Jawaban yang mengejutkan adalah saat dia bilang dia butuh teman. Dia bilang saat client membutuhkan dia, ya berarti basa basinya pasti seputar kerjaan, atau kalo dia mencari sang client, ujung-ujungnya karena butuh project. Which makes me realize, everyone in the work cycle will just come across as professional companionship, not a personal bond. With students, dia bisa sharing, bisa ngobrol banyak. Dan yang dia pelajari dari dosen Indonesia adalah kebanyakkan dari mereka pelit ilmu, seakan takut tersaingi oleh muridnya. Sedangkan yang ia dapatkan dari Amerika berbeda, bahwa lecturernya selalu memberikan lebih dari seharusnya. Bahwa ia selalu mendapatkan ilmu yang diluar textbook saja. Makanya ia ingin menjadi guru yang seperti itu. A lecturer who shares every aspect of knowledge.
Pelajaran berikutnya adalah General English, something I really felt safe with. Tapi aku bertekad dalam 3 tahun ke depan, aku tidak akan mencoba menjadi murid menonjol. I hate being the teacher's pet because my friends would think I'm trying to steal the spotlight. Jadi gue berkeinginan untuk lay low, just be invisibly good. Ga mesti jadi murid yang bersinar, hanya biasa saja tapi yang kualitasnya bagus.
I'm really thankful though, for college and my job. Sepulang dari kampus, gue jalan menuju studio KIS FM, which is located on top of Grand Indonesia. Gue berpikir pada diri gue sendiri, banyak anak yang physically talented, but academically challenged. Mereka bisa jadi atlit, bisa jadi penari profesional, tapi ga dianggep karena mentok di gelar. Kembali lagi, menurut gue setiap orang diciptakan berbeda, kalo ditekan dengan keberadaan gelar malah membuat seseorang merendahkan dirinya. Gue bukannya mengiyakan seseorang saat ia mau putus sekolah, no. Junjunglah pendidikan setinggi langit, tapi apakah tingginya pendidikan jadi takaran keberhargaan seseorang? Ga juga. Think of a diamond as an example. If it was in a jewelry store, it would have value. But if it was in the mine, it's worthless. But it is still a diamond, isn't it? It doesn't make it less valuable, just not the same chance to prove to the world what its value really is. Chance. Why we think life is unfair. Well, at the end, we're all robots living a system. Kita cuma ikutin prosedur. Hidup, sekolah, kerja, mati. Kalo ada yang keluar jalur dikit, dianggep salah. Padahal bukan orang yang menulis takdir seseorang, tapi Tuhan. Masih ada gitu yang nganggep skenarionya Tuhan? Bukannya pada sibuk merancang skenario mereka sendiri?

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

You Win...

Ya, kalian menang. Kalian selalu jadi yang diutamakan, dan aku hanya hidup dalam bayang-bayang. Cape juga ternyata hidup berpura-pura. Berpura-pura gapapa. Berpura-pura ga terganggu. Ya… Silahkan.
Obrak abrik terus hubungan saya. Orang emang paling ga seneng liat orang lain bahagia. Iya, saya ngalah. Saya ngalah karena saya bahagia liat orang yang saya cinta bahagia. Walaupun bukan saya alasan di balik sebuah senyuman. Bukan bermaksud ga mau memperjuangkan apa yang saya cinta, tapi saya harus tahu batasan antara terus mencoba dan tahu kapan harus sudah merasa cukup dalam berusaha.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Yaudah.....

Mulai sekarang gue ga akan temenin lo ketemu groupies lo. Cape gue berdebat soal bedain apa yang profesional dan apa yang personal. Yaudah. Gue akan kasi lo kebebasan mau ngapain aja. Tapi sekali lagi… Sekali lagi lo main hati… I’m done.
Ga cuma sekali dua kali, tapi lo udah melakukannya berulang-ulang kali…
I never met any of my Grandpas, but when I saw your Grandpas, Kakung, and when I saw Gongka, gue tau cowo kayak apa yang gue mau. Cowo yang nyadar apa yang dia punya, betapa berharganya wanita yang mendampinginya. Lo yang bilang, siapa juga sih yang mau hidup sendiri? Yaudah…
Gue emang bukan orang yang dulu punya pemikiran yang selalu ingin sendiri, tapi setidaknya gue sekarang tau gue mau cowo yang merasa cukup dengan satu cewe. Emang lo bakal menghabiskan hari-hari lo sama groupies lo? Mereka ada pas lo ngeluh-ngeluh lagi cape atau merasa ga enak badan? Ya mungkin quote itu bener, “Don’t take anyone for granted. You might lose a diamond while you’re too busy collecting stones.”
No. Enough with being ignorant. Enough with pretending I don’t have feelings. The more I try not to care, I just prove myself that I really do care. Gue ga butuh cowo ganteng-ganteng. Please ya, gue ketemu lo tuh masih gendut, rambut gondrong, bahkan siapa yang bikin lo galau sampe dapetin image Penyiar Galau lo itu?
Gue ga butuh medali apresiasi, but at least make me feel appreciated…
Cape gue liat lo bagi-bagi hati kayak lo masih sendiri. Perlu diingetin lagi? Lo udah ga sendiri… Lo ga sendiri. I really don’t know what else to do. Semua orang sabar juga ada batasnya. Kalo kata lagu Jason Mraz, I don't ask for much, just be honest with me.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Burung @IndraHerlambang

Beberapa hari ini lagi demen-demennya ngebongkar abis soal buku Kicau Kacau karya Indra Herlambang. I know, I know... Not a new book, tapi best-seller akan terpampang cantik di toko buku sampe pamornya pudar, kan? Atau at least sampe ada berjibun buku best-selling lainnya yang berhasil menggeser posisi best-selling books sebelumnya. Atau malah sampe berakhir di rak buku pribadi di rumah. Whichever comes first. Dari sempet ngobrol via Twitter sampai pernah ketemu langsung (Cieh sok eksis banget padahal boro-boro dia masih inget gue sekarang), gue bisa nebak kalo dia seorang sosok yang cerdas dan brilian. But even by then, gue masih ga habis pikir dia bisa nulis buku. Ya, dari cara pembawaan diri dia di TV, gue bisa nebak dia itu cowo metroseksual, which results to being in love with himself, atau bahasa kerennya 'narsis.' Jadi kesimpulan terakhir gue sebelum kenal dia lewat buku ini adalah: "Ah, paling isi bukunya cuma pamer soal karir dia, ngewawancara artis, jalan-jalan ke luar negri atau pamer otot dengan foto di kaca pake Blackberry (Ya kale)."  Gue udah lama follow Twitternya. Semenjak dia jarang nge-Tweet, gue berpikir kalo bisa ketemu di Timeline itu mahal, alias pasti gue inget deh seberapa meaningful atau random Tweetnya Indra hari itu. Kenapa gue kasi judul "Burung @IndraHerlambang"? Alasannya  karena dia diumpamakan sebagai burung di buku ini, isinya semua kicauan jenius (atau absurd) nya. Cara berpikirnya itu lumayan eksentrik, abstract, but relatable, which is fun to read. Lawakannya juga di perbatasan garis adat Timur dan Barat, jadi aman lah. Ga frontal, ga kuper. Ya buat seseorang seumur dia, untungnya market anak muda masih bisa enjoy baca. Serunya adalah buku ini adalah kumpulan cerita nyata karya Indra sendiri, jadi kalo mau baca dari sisi manapun, masih seru tuh. But not your typical bedtime story you would want to read to your kids/little brothers and sisters, karena ada pembahasan yang cukup dewasa. Satu bahasan favorit gue ada di Bab 2 cerita ke 6, yaitu penjelasannya tentang perasaan cinta yang terpengaruh oleh unsur kimiawi, intinya tentang pembahasan selingkuh yang bisa dijelaskan secara teori. Jadi ada sebuah penelitian kalo rasa ketertarikan lo dengan seseorang itu disebabkan bukan dengan gejolak tak terduga di jiwa, tapi karena pengaruh hormon di tubuh juga, yang menjelaskan kenapa orang setelah berpasangan-- bahkan berumah tangga sekalipun-- masih bisa tertarik dengan orang lain. Secara ga langsung mungkin artikel yang Indra baca itu mengesahkan orang selingkuh unyu atau flirting kecil; secara rasa tertarik itu datang dengan sendirinya, dengan orang tak terduga, di saat yang tak termasuk rencana. Gue langsung lemes baca bagian itu, muncul banyak pemikiran dan pembelaan yang siap melawan penelitian itu. Dan lagian, ini lagi, ngapain disebarluasin fakta sesat itu di buku? Mentang-mentang cowo jadi dia bisa seenaknya dapet pembenaran soal perselingkuhan, gitu? Wah, siap neror via Twitter nih gue! But I was surprised by his next statement, bagaimana seorang Indra Herlambang menentang pemikiran itu. Terlebih lagi, gue suka caranya mengungkapkan opini pribadinya itu. Dia bilang manusia itu kan diciptakan dengan kekuatan paling besar di bumi, yaitu kekuatan memilih. Makanya mau seberapa besar ketertarikan seseorang terhadap orang lain, saat dia sudah memiliki pasangan, seharusnya secara sadar juga dia memilih untuk setia. Gue baru tau kenapa Indra bisa 'nyampe' ke pemikiran itu, alasannya adalah sesimpel karena seorang Indra Herlambang pernah diselingkuhin juga. Oh... Gini toh alasan kenapa dia bisa ngomong gitu. Tapi emang gue percaya kalo seseorang bisa ngomong yang 'ngena' banget, itu karena dia pernah ngalemin sesuatu yang ngubah hidupnya, baik cuma bagian kecil maupun seluruh hidupnya.

"Percaya deh, sebagai salah satu orang yang pernah menjadi korban, saya tahu sekali seperti apa rasanya dikhianati. Tapi ketika hal itu memang harus terjadi, sepertinya tidak semudah itu untuk menghakimi." - Indra Herlambang, Kicau Kacau.
Gue masih ga nyangka Indra bisa merangkai kata-kata sebegitu ngena-nya sampe bener-bener bikin gue mikir. But seriously, don't judge a book by its cover. No, listen to me, seriously. Kalo lo ilfil liat covernya yang kuning mentereng dan gaya dia yang entah mencoba impersonate Michael Jackson atau Sid dari film Ice Age, think again. It really was worth the read.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS