Catatan Mahasiswi: Introduction


Setelah dua tahun postpone keinginan untuk ngelanjutin ke Universitas, akhirnya hari ini, tanggal 5 September 2012, gue sah menjadi seorang mahasiswi. Mungkin lo nanya, "Two years?! Ngapain aja lo?" Well, a lot. Gue ngajar, gue nge-MC, gue modeling, gue kerja lah pada dasarnya. Dan bener kata kebanyakkan orang, kerja tuh bikin lo lupa diri. Tau namanya nyari duit bikin gue nyaris lupa sama keinginan awal gue. Gue juga bukan tipe yang ngoyo pengen dapet gelar biar keliatan pinter, jadi gue ngerasa kenapa engga nyari duit dari usia muda? Toh halal, toh di luar negri juga banyak kok orang yang udah kerja seumur gue, toh gelar ga dibutuhkan kan?
Well, I was wrong. Seberapa besar keinginan gue membuktikan kalo lo ga butuh gelar untuk make it in this life, gue ga bisa. Karena sistem telah mengalahkan segala pembenaran di otak gue. Cause apparently, in Jakarta specifically, you are what your major is.
Ya, begitulah kurang lebih pendoktrinan dari generasi ke generasi. Seberapa baik skill lo, seberapa besar talenta lo, ga akan dianggep kok. Mereka butuh sepucuk kertas untuk membuktikan kalo lo berharga.
Kesian ya? Kesian sama orang-orang yang ga mendapatkan kesempatan yang sama.
Hari pertama dan gue udah belajar banyak. Awal hari yang dimulai dengan motor yang mogok dan nyaris terlambat bukan sesuatu yang ada dalam benakku saat bangun pagi tadi. Hari pertama belajar tentang Advertising, alias Periklanan. Gurunya terlihat kece walau umur ga bisa lagi boong. Ya, pada akhirnya semua orang mencoba untuk 'menjual' diri mereka dalam kemasan yang lebih menarik, bukan? Dia seorang lulusan Amerika, gelar Masters pula. Dia punya Advertising Agency sendiri, and so I can't help but ask, "Why teach?" Jawabannya simple, katanya karena it's fun. Jawaban yang mengejutkan adalah saat dia bilang dia butuh teman. Dia bilang saat client membutuhkan dia, ya berarti basa basinya pasti seputar kerjaan, atau kalo dia mencari sang client, ujung-ujungnya karena butuh project. Which makes me realize, everyone in the work cycle will just come across as professional companionship, not a personal bond. With students, dia bisa sharing, bisa ngobrol banyak. Dan yang dia pelajari dari dosen Indonesia adalah kebanyakkan dari mereka pelit ilmu, seakan takut tersaingi oleh muridnya. Sedangkan yang ia dapatkan dari Amerika berbeda, bahwa lecturernya selalu memberikan lebih dari seharusnya. Bahwa ia selalu mendapatkan ilmu yang diluar textbook saja. Makanya ia ingin menjadi guru yang seperti itu. A lecturer who shares every aspect of knowledge.
Pelajaran berikutnya adalah General English, something I really felt safe with. Tapi aku bertekad dalam 3 tahun ke depan, aku tidak akan mencoba menjadi murid menonjol. I hate being the teacher's pet because my friends would think I'm trying to steal the spotlight. Jadi gue berkeinginan untuk lay low, just be invisibly good. Ga mesti jadi murid yang bersinar, hanya biasa saja tapi yang kualitasnya bagus.
I'm really thankful though, for college and my job. Sepulang dari kampus, gue jalan menuju studio KIS FM, which is located on top of Grand Indonesia. Gue berpikir pada diri gue sendiri, banyak anak yang physically talented, but academically challenged. Mereka bisa jadi atlit, bisa jadi penari profesional, tapi ga dianggep karena mentok di gelar. Kembali lagi, menurut gue setiap orang diciptakan berbeda, kalo ditekan dengan keberadaan gelar malah membuat seseorang merendahkan dirinya. Gue bukannya mengiyakan seseorang saat ia mau putus sekolah, no. Junjunglah pendidikan setinggi langit, tapi apakah tingginya pendidikan jadi takaran keberhargaan seseorang? Ga juga. Think of a diamond as an example. If it was in a jewelry store, it would have value. But if it was in the mine, it's worthless. But it is still a diamond, isn't it? It doesn't make it less valuable, just not the same chance to prove to the world what its value really is. Chance. Why we think life is unfair. Well, at the end, we're all robots living a system. Kita cuma ikutin prosedur. Hidup, sekolah, kerja, mati. Kalo ada yang keluar jalur dikit, dianggep salah. Padahal bukan orang yang menulis takdir seseorang, tapi Tuhan. Masih ada gitu yang nganggep skenarionya Tuhan? Bukannya pada sibuk merancang skenario mereka sendiri?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment