Why Women Ask Questions & Why Men Can't Handle Them

"Women need men like a fish needs a bicycle... EXACTLY! We don't need men. It's men who need us."

Berapa banyak pria yang akan membenci gue karena meng-quote statement di atas di awal blog. Sebenernya udah terbukti, udah menjadi fakta, atau bahkan udah kodratnya kalo wanita bisa lebih hidup sendiri dan hidup mandiri. I mean, contoh simple-nya aja, kalo putus, yang lebih cepet cari pengganti siapa? Pria atau wanita? Cenderung pria, kan? Mau ngomong, "Aku ga bakal bisa gantiin kamu," atau "Aku mendingan sendiri daripada gak sama kamu." Give them 6 months top! Nanti juga ada pacar baru, all those things men say are strictly crap. 

I have a friend who is doing well with her business, dia seorang shop owner, umur 23 tahun, setahun minimal 2 atau 3 kali jalan-jalan ke luar negri, masih betah ngejomblo. I asked her why, kalo aja dia punya pasangan, hidup dia sempurna. And her answer is simple, "Men think it's women who are complicated, yang sebenernya wanita think the opposite." Setiap wanita pasti pernah merasa kalo cowo juga rumit, tergantung pengalaman si wanita ini dengan pria bagaimana definisi 'rumit' dalam kamus percintaan mereka. 

Kurang lebih rumitnya pria bisa dirangkum dalam satu kalimat, "Ga diladenin, nyamperin. Diladenin, malah ngejauhin." Take for granted, jenuh, pada dasarnya emang relationship equals drama, ya gak sih? Tapi bukannya semakin lo menjauhkan diri dari sesuatu yang lo ga suka, semakin disudutkan untuk menghadapinya? 

Pria pada dasarnya love the chase, alias mereka akan melakukan hampir segalanya untuk mendapatkan wanita. Wanita pada dasarnya peka dan sensitif terhadap perubahan, jadi apapun yang dilakukan pria dalam hubungan akan menjadi tolak ukur dari saat pendekatan. Pria pada dasarnya bisa memutuskan hubungan semudah memotong tali, wanita pada dasarnya akan menuntut penjelasan terhadap perubahan yang pria lakukan. Pria pada dasarnya ingin yang mudah, mempersingkat segala sesuatu biar ga ribet. Wanita pada dasarnya ingin menyelesaikan masalah sampai tuntas. Pria pada dasarnya akan mati-matian di awal dan akan merasa puas saat telah mendapatkan, sehingga usaha yang ia keluarkan tidak segencar di awal. Wanita pada dasarnya tidak akan tertarik di awal, namun saat ia sudah jatuh hati dengan seseorang, mereka akan melakukan apapun untuk menjaga hubungan. 

Yes, it's men who choose women, but it's the women who keep the relationship going most of the time. Mungkin salah satu bukti kalo peran wanita penting dan ga bisa dianggap remeh adalah kalo kehidupan itu sendiri dimulai dari wanita. Lo lahir dari Nyokap, kan? Ya iya kali lo lahir dari Bokap lo, serem bet dah. Riset aja udah ngebuktiin, kalo duda (yang tidak mempunyai pasangan setelah berpisah) akan lebih cepat meninggal dibanding janda (yang tidak mempunyai pasangan setelah berpisah). Pasti deh, kalo masalah jomblo, cewe lebih bertahan dan lebih betah lama-lama. Tapi ga cuma betah sendiri aja, cewe juga betah berkutat pada memori yang lama-lama, which makes us so much harder to move on. Pada akhirnya, sendiri atau berdua, yang diinginkan pria dan wanita adalah untuk bahagia.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Satu Dari Seribu

Tuhan memang menciptakan miliaran orang di muka bumi, namun kenapa dari sekian banyaknya manusia, Ia hanya memberikan kita satu pasangan hidup? Karena Ia ingin mengajarkan kita bahwa satu saja cukup. Satu, jika ia adalah yang orang yang benar, takkan membuatmu menyesal. Manusia tidak pernah luput dari kesalahan, jadi memang wajar kalo manusia mengecewakan, tapi pertanyaannya adalah, apakah ia membuatmu menyesal? Membuatmu mengeluarkan kata-kata seperti, "Ia bukan yang terbaik untukku."

Bicara soal yang terbaik, tentu saja takkan ada habisnya. Di atas darat ada langit, di atas langit ada lagi langit yang lebih tinggi. Kadang bukanlah yang terbaik, atau yang serba 'paling' karena kadang seseorang yang mendekati sempurna saja masih membuat kita merasa hampa di dalam, karena tidak ada yang terbaik. Pencarian untuk mendapatkan yang terbaik akan melelahkan, karena kamu tidak akan pernah merasa puas. Pada akhirnya bukan yang paling sedap dipandang, tapi yang mengerti dirimu bahkan kadang lebih baik dari dirimu sendiri. Bukan yang paling bisa membahagiakan dengan materi, tapi mengisi kekosongan batinmu tanpa bahkan mengucapkan sepatah katapun.

Ya, aku rasa itulah yang terindah. Untuk menemukan satu di antara seribu. Kebanyakkan hanya datang dan pergi, tidak memberikan kesan yang mendalam, sampai akhirnya seseorang datang dan memberikan rasa yang berbeda.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan Mahasiswi: Introduction


Setelah dua tahun postpone keinginan untuk ngelanjutin ke Universitas, akhirnya hari ini, tanggal 5 September 2012, gue sah menjadi seorang mahasiswi. Mungkin lo nanya, "Two years?! Ngapain aja lo?" Well, a lot. Gue ngajar, gue nge-MC, gue modeling, gue kerja lah pada dasarnya. Dan bener kata kebanyakkan orang, kerja tuh bikin lo lupa diri. Tau namanya nyari duit bikin gue nyaris lupa sama keinginan awal gue. Gue juga bukan tipe yang ngoyo pengen dapet gelar biar keliatan pinter, jadi gue ngerasa kenapa engga nyari duit dari usia muda? Toh halal, toh di luar negri juga banyak kok orang yang udah kerja seumur gue, toh gelar ga dibutuhkan kan?
Well, I was wrong. Seberapa besar keinginan gue membuktikan kalo lo ga butuh gelar untuk make it in this life, gue ga bisa. Karena sistem telah mengalahkan segala pembenaran di otak gue. Cause apparently, in Jakarta specifically, you are what your major is.
Ya, begitulah kurang lebih pendoktrinan dari generasi ke generasi. Seberapa baik skill lo, seberapa besar talenta lo, ga akan dianggep kok. Mereka butuh sepucuk kertas untuk membuktikan kalo lo berharga.
Kesian ya? Kesian sama orang-orang yang ga mendapatkan kesempatan yang sama.
Hari pertama dan gue udah belajar banyak. Awal hari yang dimulai dengan motor yang mogok dan nyaris terlambat bukan sesuatu yang ada dalam benakku saat bangun pagi tadi. Hari pertama belajar tentang Advertising, alias Periklanan. Gurunya terlihat kece walau umur ga bisa lagi boong. Ya, pada akhirnya semua orang mencoba untuk 'menjual' diri mereka dalam kemasan yang lebih menarik, bukan? Dia seorang lulusan Amerika, gelar Masters pula. Dia punya Advertising Agency sendiri, and so I can't help but ask, "Why teach?" Jawabannya simple, katanya karena it's fun. Jawaban yang mengejutkan adalah saat dia bilang dia butuh teman. Dia bilang saat client membutuhkan dia, ya berarti basa basinya pasti seputar kerjaan, atau kalo dia mencari sang client, ujung-ujungnya karena butuh project. Which makes me realize, everyone in the work cycle will just come across as professional companionship, not a personal bond. With students, dia bisa sharing, bisa ngobrol banyak. Dan yang dia pelajari dari dosen Indonesia adalah kebanyakkan dari mereka pelit ilmu, seakan takut tersaingi oleh muridnya. Sedangkan yang ia dapatkan dari Amerika berbeda, bahwa lecturernya selalu memberikan lebih dari seharusnya. Bahwa ia selalu mendapatkan ilmu yang diluar textbook saja. Makanya ia ingin menjadi guru yang seperti itu. A lecturer who shares every aspect of knowledge.
Pelajaran berikutnya adalah General English, something I really felt safe with. Tapi aku bertekad dalam 3 tahun ke depan, aku tidak akan mencoba menjadi murid menonjol. I hate being the teacher's pet because my friends would think I'm trying to steal the spotlight. Jadi gue berkeinginan untuk lay low, just be invisibly good. Ga mesti jadi murid yang bersinar, hanya biasa saja tapi yang kualitasnya bagus.
I'm really thankful though, for college and my job. Sepulang dari kampus, gue jalan menuju studio KIS FM, which is located on top of Grand Indonesia. Gue berpikir pada diri gue sendiri, banyak anak yang physically talented, but academically challenged. Mereka bisa jadi atlit, bisa jadi penari profesional, tapi ga dianggep karena mentok di gelar. Kembali lagi, menurut gue setiap orang diciptakan berbeda, kalo ditekan dengan keberadaan gelar malah membuat seseorang merendahkan dirinya. Gue bukannya mengiyakan seseorang saat ia mau putus sekolah, no. Junjunglah pendidikan setinggi langit, tapi apakah tingginya pendidikan jadi takaran keberhargaan seseorang? Ga juga. Think of a diamond as an example. If it was in a jewelry store, it would have value. But if it was in the mine, it's worthless. But it is still a diamond, isn't it? It doesn't make it less valuable, just not the same chance to prove to the world what its value really is. Chance. Why we think life is unfair. Well, at the end, we're all robots living a system. Kita cuma ikutin prosedur. Hidup, sekolah, kerja, mati. Kalo ada yang keluar jalur dikit, dianggep salah. Padahal bukan orang yang menulis takdir seseorang, tapi Tuhan. Masih ada gitu yang nganggep skenarionya Tuhan? Bukannya pada sibuk merancang skenario mereka sendiri?

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS