#nadiASK


Gimana sih kak, kalo mantannyaa cowok kita really really annoying sampe kita nggak tahan trus nyalahin cowok kita atas 'teror-teror' yang dibikin mantannya dia itu? Gimana juga kalo cowok kita itu tipe cuek yang nggak mau ngurusin ini smw krn gak mau brurusan lg sama cewek itu? Gimana sih rasanya dibilang kyk orang ketiga padahal kenal sm cowok aku aja lama setelah mereka putus dan ironisnya lagi, cewek itu yg selingkuh? Gimana sih kak ngebiarin aja cewek itu tapi males banget karena disindir-sindir di status facebook?



- via anonymous

Pertama-tama, tarik nafas dalam-dalam :) Karena kalau hati gundah, kita akan membuat keputusan yang salah. Oke, jadi mantannya cowok kamu neror-neror kamu terus, ya? Selama itu ga merugikan kamu, secara fisik apalagi, cuekkin aja. Masa lalu kadang emang suka menghantui kita, tapi 'hantu' yang satu itu emang ga bisa bohong deh, emang yang paling nyebelin. Siapa sih yang mau difitnah sama mantannya cowok kita sendiri? Apalagi jelas-jelas kamu tau kebenarannya. Nah, itu dia kuncinya. Kamu kan tau nih kebenarannya, kalo bisa kamu delete contact dia aja apapun itu bentuknya, biar ga ganggu kamu lagi. Risih kan lama-lama kalo kamu kemana-mana kalau online, adanya komentar ga sedap dari dia? Mending kamu fokus sama yang kamu dan cowok kamu jalanin sekarang. Toh cowo kamu juga bisa cuek kan? Nah, coba belajar dari dia. Coba ga gubris si mantannya ini. Karena kalo kamu marah, kamu udah kalah. Jadi coba ikhlasin aja kalo emang dia jahatin kamu, malah pahala kan! :)


For more questions or comments, find me Twitter or Formspring.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Never Grow Up

Kalo ada satu kekuatan super yang bisa gue milikin, gue ga pengen tambah tua. Bukan takut mati atau apa, tapi gue ga pengen 'kehabisan waktu' karena gue bertambah tua. Kemaren nonton konser Jason Mraz dan melihat di umur 30-an dia yang bisa mencapai mimpinya, sampe di titik itu dalam hidupnya, makes me wonder, will I ever get to fulfill my destiny? Kalo liat Justin Bieber (Oke, dua post berturut-turut gue pake contoh Justin Bieber, ada apa dengan gue? Think it's the Bieber fever), Sherina, Agnes Monica, artis-artis muda yang udah accomplish so much, sometimes I wonder how my life will fold? Gue ga mengharapkan berkelimpahan harta, dikenal atau apapun. I wanna make an impact. It is the best and the worst that caught attention, no one remembers the average.

Speaking of Jason Mraz, sore tadi pas lagi jogging dan tiba-tiba sistem shuffle yang menurut gue mempunyai kekuatan magis untuk membaca pikiran atau perasaan orang, tiba-tiba maenin lagu The World As I See It-nya Jason Mraz. Sayang banget dia ga bawain lagu itu di konser kemaren. Okay, not going to make a review out of the concert, gue cuma tersentuh sama lagu yang tiba-tiba teralun merdu di telinga gue dan air mata langsung netes ke pipi gue. Man, I'm turning 20 soon. Udah ngapain aja sih gue di umur gue yang udah mau beranjak jadi wanita dewasa?

There's a lot of goals and dreams that I haven't accomplished just yet. Salah satunya itu impian lama gue yang pengen beli mobil Yaris (entah kenapa suka banget sama Yaris dari jaman bahela, sampe kakak gue tanya kalo tiba-tiba menang undian mobil Mercy gimana, dan gue tetep jawab akan jual Mercy dan beli Yaris dong... Sekian cerita singkat gue tentang obsesi aneh gue kepada Yaris.) Tapi gue ga pengen minta dari orang tua, gue pengen nabung dan beli sendiri. Impian lain gue adalah gue pengen ngebawain satu show di TV, but I never get further than off-air shows dan paling jauh ya cuma sampe tahap screen test atau training nya. Other things, gue pengen bawa Nyokap ke Yerusalem. Itu kayak Mekkah-nya orang Kristen, ibaratnya Umroh-nya umat Nasrani. Lagi-lagi belagu sok-sok an mimpi mau bayarin semua sendiri. Mimpi (muluk) nya sih pengen sebelum Beliau berumur 50. But she's turning 50 in August, so I think I'll just put down that dream to rest. Pengen punya charity sendiri, talk show sendiri, nulis buku best-seller, ke Italy, so much to do... So little time.

Mungkin kalo liat ke belakang, there's not much that I've done. Baru nge-MC dari satu event ke event lain, malah ga jelas mau jadi presenter apa model, semua kerjaan diembat. But one of the things I'm thankful for is that one of my (strange) wish actually came true. Temen gue waktu itu iseng nanya, "Nad, taun ini lo pengen apa?" Dan gue cuma iseng jawab, "Mau masuk TV ah," if you know me well enough, gue itu kurang suka jadi sorotan, entah main sinetron atau apa, I think of myself as the opposite of an Entertainer. But then again, life has a funny way of proving us wrong. Dan hidup mempunyai caranya sendiri untuk membawa kita ke jalan yang kita ga pernah mau, atau ga pernah terpikir untuk ambil. Sampe akhirnya dapet iklan ga lama setelah temen gue tanya itu. Terus gue mikir, kalo keinginan iseng aja bisa kesampean, apa kabar sesuatu yang gue niatin?! It's so hard for me to focus, I like doing a lot of things, I like writing, presenting, singing, modeling, sampe gue kadang bingung mau gue sendiri apa sih buat ke depannya. Tapi dengan beberapa project nge-MC, foto, bahkan jadi penulis kontributor majalah online berbasis di Amerika, gue nyadar kalo I'm a few steps closer to my dreams. Di salah satu acara radio gue pernah dengerin kalo passion seseorang diliat dari seberapa besar keinginannya melakukan sesuatu, bahkan saat ia tidak dibayar sepeserpun. Call me a hippie, but there's a lot of things in life that I do for the pleasure of it, not for the money. Bukan karena gue ga butuh uang atau gue itu pewaris hotel Hilton, but there's so many things in life that can't be measured with visible material.

Tapi hari ini gue belajar, that everyone's paths are different. It's not that life's unfair, no. Hidup itu selalu adil lagi. Cuma Tuhan kita aja yang terlalu kreatif sampe kadang otak kita ga nyampe apa aja skenario berikutnya yang udah Dia siapin buat kita. Kalo kita bandingin hidup kita sama orang, it will be endless, karena cerita kita dengan mereka ga sama. Gue bersyukur kalo di umur segini mungkin gue belum sampai di titik dimana gue merasa puas dengan semua yang gue udah capai, then again, I don't think I'll ever be satisfied with the things I've accomplished because it's human nature, to always want more than what they already achieved. Tuhan cuma punya 3 jawaban dalam hidup, "Engga," "Iya," atau "Tunggu." Kalo "Engga," berarti Dia udah siapin yang lebih baik. Kalo "Iya," berarti lo udah siap nerima rejeki-Nya. Kalo "Tunggu," berarti lo lagi disiapin biar ga 'kaget' atau ga siap nantinya. Intinya, timing Tuhan tuh paling pas. His timing is not yours. Tapi gue belajar satu hal: Proses sukses itu bisa cepat, bisa lambat, tapi kalo memang sudah takdirmu, Ia tidak pernah terlambat.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ups & Downs Of Being With An Entertainer

Recent Song On Play: Fuck You- Cee Lo Green


Terkenal itu mudah. Dikenang itu susah. Contohnya, lo mau nge-hits? Ya bikin aja video gokil di YouTube, nyanyi lagu NangNengNengNong pake gamelan, unik kan? Sesuatu yang unik menjadikan lo beda. Yang menjadikan lo beda, membuat lo menarik. Sesuatu yang menarik akan dilirik orang. Semakin banyak orang melirik, semakin membuat lo dikenal. Tapi apakah lo akan terus dikenang? 





Gue ga bilang gue deket sama Justin Bieber apa Ridho Rhoma, gue cuma mau menggambarkan dari beberapa segi rasanya deket sama seseorang yang digemari banyak orang. Kebanyakkan ya dari sudut pandang gue, jadi harap koordinasinya kalo memang tidak setuju, ya monggo di close aja window-nya, tuh tombol yang merah-merah ada tanda silangnya yang di atas. 

Sebenernya karir itu ga bisa disama-samain dengan percintaan, secara itu bidang yang beda banget. Bisa dibilang malah bertabrakkan, walaupun harus tetap imbang. Tapi ya mau gimana lagi kalo pekerjaannya menuntut untuk mencampur-adukkan karir dan cinta, dimana cinta juga jadi bagian dari karir, sehingga cinta ga bisa dipisahkan dengan karir. Bingung yak, gue juga bingung. Tapi gimana kalo menurut lo udah melewati batas? Apakah lo tetep diem aja karena itu bersangkutan dengan karirnya? Hear me when I say this, ladies. Whatever his occupation is, if he's doing things that you're against with, go tell him that you disagree. Kembali lagi, setiap bidang dalam hidup harus imbang, baik agama atau karir atau kesehatan atau percintaan, apapun itu dalam hidup harus imbang. Jadi kalo karir-nya udah mengganggu cinta, mending dilurusin aja. But what if he says it's what he does? He always says "It's related to work," so it's okay for him of being a jerk? Of course not. Ya pake logika aja, misalnya seorang pria mau jadi dokter bedah, cuma karena bisa ngeliat cewe telanjang, janggal ga sih alasannya? Apakah menurut akal sehat lo itu bener? Tentunya semua batasan atau masukkan yang kamu kasi ke cowo kamu harus membangun dan masuk akal. Bukannya menjauhkan dia dari menjadi orang yang lebih sukses. Karena yang baik belum tentu benar, tapi yang benar ya udah pasti yang terbaik. Berlaku dari cowo ke cewe juga kok.

Entertainers kan kebanyakkan kiblatnya ke Hollywood. And Hollywood is very free and liberal, while me, I'm born and raised in a very old fashioned eastern culture. So even though we have a lot of things in common, we're really just different. He enjoys being in the spotlight, while me, I enjoy laying low. He likes to be seen, I enjoy being invisible. Walaupun kerjaan gue ga beda jauh dari sorotan publik, because it somehow involves a huge amount of audience too, but I do it not more than just for the money. Ya setiap orang kan tujuannya beda, ada yang karena tuntutan uang, ada yang emang suka perhatian, ada yang karena keduanya. Well, one thing I learned from life is that it has a funny way of proving us wrong. Gue sebelumnya pernah deket sama seorang drummer dan setelah gue ga deket lagi, gue mikir, "Oh, God. Please jangan biarin gue suka sama public figure lagi." Gue merasa gue ga cocok sama seorang Entertainer. Kenapa? Ya karena gue sangat old school alias jadul, while entertainers, they have to create new things, they create images, rumors, all this things that I feel like I can't keep up with. They live a very fast-paced life. Changing hairdos or fashion, ongoing rumors about who's dating who, intinya mereka cepet banget kan berubahnya, entertainers live a very fast-paced life. Me, on the other hand, I'm very settled and it takes time for me to change. Okay, some time to change. Okay, okay, it takes a long LONG time for me to change. Every time someone knows gue deket sama anak band, they make a bet that it won't last long. Tapi gue merasa heran, karena gue kan kenalnya sebelum gue tau dia itu siapa atau apa pekerjaannya, and then again, can you really choose who you fall in love with? Gue pun merasa gue kenal sama seseorang yang orang lain ga liat. Keanehannya, tingkah laku absurd-nya; I see a side not many people get to see, and that's what makes me feel I'm more than lucky. And even when it's against your own moral or your own definition of normal, the heart wants what the heart wants, doesn't it? Tapi gue ga bisa boong, karena terlalu banyak berubah-ubah, lo kayak ketemu orang yang baru tiap hari. Sampe bikin gue bingung, gue berasa deket sama orang amnesia, dimana ingatannya ga selalu sama setiap hari. It's a little scary, to be honest.

Don't get me wrong, I'm straight. I love guys. Tapi emang dari dulu, ya gue cuma suka-sukaan aja, gue ga sampe berpikiran mau pacaran atau gimana-gimana. SMP-SMA gue sibuk belajar karena gue dapet beasiswa dari SMP sampe SMA, jadi mindset gue selalu ga mau main-main. Gue sibuk sama sekolah, bahkan sampai lulus SMA pun, gue malah ribet kerja dan menitih karir, but as I aged, semua orang di sekeliling gue mulai kuatir, nyuruh gue membuka hati dan ga galak-galak amat sama spesies pria, and (no) thanks to my friends yang dorong gue (atau ngejorokkin gue tepatnya?) untuk kasi kesempatan ke semua cowo dengan adil. Ya tapi in the back of my mind, kalo ada seorang Entertainer deketin gue, ya paling ni orang main-main doang. Jadi ya, temenan aja lah. Kembali lagi, life has a funny way of proving us wrong, doesn't it?

Di dunia cuma ada dua tipe orang: Yang diperhatiin dan yang merhatiin. Kalo lo bersangkutan sama seseorang yang diperhatiin, otomatis juga akan ada yang merhatiin lo. Truth is, it's hard to see someone you care about being surrounded by other girls, I mean, no matter how ignorant you are, you just can't deny the fact that girls have feelings. HECK, all people have feelings, not just girls! Bahkan saat gue merasa ga nyaman dengan suatu keadaan dan gue tanya ke orang lain kenapa gue ngerasain itu, mereka malah balikkin, "Merasa kayak gitu tuh normal, lo malah ga normal kalo lo biasa aja dia nge-gituin lo." I was a pretty laid back and chilled person, ga ngurusin hal yang ga perlu, but then I became curious, atau bahasa ga kerennya: Kepo. Or as a writer, I'd like to call it; Journalism. Emang kalo lo deket sama seseorang yang berurusan dengan masyarakat banyak, ada untungnya lo ga usah tau banyak deh, daripada nyakitin lo. Don't get me wrong, fans are an important part to an Entertainer's life. And I've met some of the most amazing fans, yang sekarang udah jadi bagian dari hidup gue juga, sampe jadi temen curhat yang menyenangkan. But honestly, speaking from girl to girl, bukan hal yang menyenangkan membaca orang-orang yang lo ga kenal bilang kangen sama seseorang yang lo sayang atau liat foto-foto dia saat lo lagi ga bisa ketemu dan lagi kangen-kangennya. Resiko bersama seseorang yang ga bisa jauh dari mata publik adalah dia itu milik publik. Sekarang gue tanya, toilet di tempat umum, seperti pom bensin contohnya, bandingin sama toilet milik pribadi di rumah, ya pastinya lebih nyaman toilet lo di rumah dong? Setidaknya walaupun di rumah lo bukan toilet gede, lo merasa lebih nyaman karena lo tau toilet itu ga dipake banyak orang, itu toilet milik rumah lo sendiri. Kembali lagi, kalo ga mau sakit, ya ga usah tau banyak hal. Atau quote di film Men In Black III: Don't ask questions that you don't want to know the answer of. Inti dari pelajaran yang diri gue dapetin, kalo ga mau sakit ya jangan kepo deh. 

Wanita dan segala pertanyaan aneh dalam kepalanya. Ada yang karena trauma, ada yang karena curiga, ada juga yang emang bener-bener cuma halusinasi semata. But sometimes I wonder, with all these pretty girls, why choose me out of anyone in the world? Lagi lagi dengan seseorang yang bekerja di bidang yang melibatkan banyak wanita, membuat gue bertanya-tanya, "Emang bisa?" Ya ga boong dong kalo cowo kan melihat dengan mata, cewe lebih cenderung melihat dengan hati. Menurut gue ga perlu memperjuangin seseorang yang lo cintai, karena setiap orang selalu mempunyai hak untuk memilih tetap tinggal atau pergi. Karena yang terindah belum tentu yang terbaik, yang terbaik udah pasti yang terindah.

Kadang kalo udah males banget, gue selalu kembali ke pemikiran awal gue yaitu enakkan jalanin apa-apa sendiri. Tapi gue belajar satu hal: If you wanna go fast, go alone. If you wanna go further, then go together. Hubungan apapun yang lo bangun dengan siapapun, harus membuat lo jadi lebih baik. Jadi kalo ga membuat lo jadi lebih baik, buat apa diperjuangin? Gue selalu bilang dari awal kalo gue ga bisa menawarkan banyak, but when I love, I give all that I've got. Gue ga pernah ngelarang seseorang untuk memilih cinta dibandingin karir, itu ga adil. Masa sih tega nyuruh seseorang berhenti menjalankan sesuatu yang dia cintai? Ya tapi, gue selalu bilang, "You have to learn what's enough, when's enough and who's enough." I mean, what's the meaning of conquering the world when that one person who matters most can't congratulate you? Kadang saking banyaknya personality yang dia punya, gue mikir, "Which one exactly did I fall in love with?" The one I share dreams with, the one I gave my heart to. There are times when I feel like I don't know the man who's staring back at me. It's an unexplainable joy, to see someone happy doing what they love but at the same time it kills you inside too. That's the best definition of how bittersweet love can be. Too much of anything can kill you. I've risen from the dead many times now.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS