KB (Kaya Atau Bahagia)

Banyak hal di bumi yang kita ga bisa mengerti. Seperti mungkin untuk apa manusia diciptain atau tujuan semua diberikan kehidupan. Misteri-misteri itu cuma bakal bikin kita keki sendiri karena emang banyak hal yang ga masuk di akal, kita sebagai manusia hanya bisa terima aja. Mungkin banyak orang mencari-cari... Mereka mencari, mencari, dan terus mencari. Mereka mencoba sekeras mungkin untuk mengubah hal-hal yang diluar kendali. Lalu... Apa yang terjadi jika hidup tidak seperti yang kita ingini?

Yang namanya hidup, ya udah pasti ada masa-masa jaya, ada masa-masa duka. Menurut gue, mungkin hidup yang kita jalanin tuh bakal bosen banget sebosen-bosennya bosen kalo ga ada masa-masa di atas dan masa-masa di bawah. Ya iya masa stabil-stabil aja, kapan belajarnya?

Coba lihat hidupnya Sirivat. Mungkin lo mikir, "Siapa tuh?" Well, this guy was once a multi-millionaire. Dia mengalami masa kejayaannya saat bergelut di dunia property, tapi harus kehilangan segalanya saat perusahaan yang dimilikinya bangkrut. Untungnya, dia masih punya keluarga yang mencintainya dan walau dia gagal, itu tetap menginspirasikan dia terus bekerja untuk keluarganya. He didn't try hard, he just worked with what he got. Istrinya bisa membuat roti isi alias sandwich dan ia memikirkan bagaimana caranya ia bisa menjual sandwich buatan istrinya itu. Ia mulai dengan modal pas-pasan, mungkin sandwich-nya juga ga spesial-spesial amat, tapi dibekali dengan tekad yang keras dan semangat yang ga pernah pudar, ia menjual sandwich dengan memakai sebuah kotak. Ya, kalo di Indo tuh kayak abang-abang yang suka teriak, "Mijon, mijon, mijon" (Mizone, nama minuman isotonik), atau kotak es krim yang bisa dibawa kemana-mana dengan cara digendong di depan. Minggu-minggu awal dia menjual sandwich di rumah sakit, di jalanan dan di semua tempat keliling Bangkok selalu ga laku. Namanya juga usaha, ga langsung mulus walaupun artinya udah mencoba. Sirivat bahkan mengakui kalau dulu dia bisa menjual kondominium sampai 1 miliar dollar, sekarang penghasilannya hanya 1 dollar per sandwich. Ironis, bukan? Tapi dengan dukungan istri dan ketiga anaknya, akhirnya dia mempunyai banyak cabang di seluruh Bangkok dan perlahan mulai bangkit dari keterpurukkan lagi.

I came across an article that I recently read not too long ago, it has a quote that goes like this, "There are people so poor, the only thing they have is money." I mean, think about it. Banyak banget orang menghabiskan waktunya mencari uang, lalu dengan semua uang di dunia, mereka mencari-cari waktu. You have a house, but you don't have a home to go to. To have someone as shelter is love. To have someone to come to is a home. To have both is a blessing. Nah, bayangin ga punya itu semua? Ga punya sahabat, ga punya keluarga, ga punya sesuatu yang bener-bener berarti buat hidupnya. Mikirinnya aja udah menyedihkan, ya ga sih? Makanya gue ngejalanin apa aja yang ada di depan muka gue, mau bayarannya kecil, ga dibayar sama sekali, if I enjoy it, why not do it? Banyak orang bahkan mikir gue ga jago dalam "menjual" diri gue, or let's say, "how to market myself." Well I tell them that I do things that make me happy and not for the sake of money. "Ya elah, kalo kayak gitu mulu, kapan kaya-nya, Nad?" Mungkin kalo orang tanya apa sih tujuan hidup gue, dengan mudah gue bisa berangan-angan, ngebayangin apa rasanya punya ini, punya itu. Sampe akhirnya gue mencapai satu titik dimana gue merasa kalo itu bukan yang gue cari. Karena semua itu berawal dari mimpi, lalu dipimpin oleh hati, sampai akhirnya menemukan kebahagiaan sejati.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment