Converse & Nutella

By: Nadia Juliana
(C)2011

Valen tersenyum lebar melihat setiap foto lama yang ia simpan dalam folder komputer-nya. Beberapa bulan yang lalu semuanya terlihat seperti dongeng. Terlampau sempurna. Setiap tempat yang didatangi, setiap lagu yang mereka dengar, setiap film yang mereka tonton, semua hampir terlihat tidak nyata. Satu foto membuat matanya berkaca-kaca. “Dua tahun yang lalu, dia berbeda,” pikir Valen dalam hati. Ia terus bertanya-tanya, “Mengapa kita selalu menyia-nyiakan semua yang kita punya, hanya karena kita menyadari itu sudah jadi milik kita?” Valen terhentak oleh bunyi handphone-nya yang menandakan ada SMS masuk. “Pagi, Sayang. Ngampus dulu ya, nanti aku kabar-kabarin lagi. Have a nice day.” Ia tersenyum. “Panjang umur banget kamu, baru aja aku pikirin,” ucapnya dalam hati. Valen mulai masuk ke folder lama di HP-nya. Semua SMS yang terdengar manis itu seperti menusuk ke ruang hati Valen yang pernah terluka.



Imajinasi membawanya kembali ke hari Jumat minggu lalu. Suasana dingin masih terasa jelas, saat keheningan mengisi kehampaan malam itu. “Tapi kamu kan janji, Ray,” kata Valen memelas saat mendengar Raymond harus keluar kota saat 1 tahunan anniversary hari jadian mereka. Satu janji yang pernah terucap seakan tak memiliki arti lagi. “Ya, mo gimana lagi, Len. Aku kira kamu akan ngerti,” pernyataan Raymond pun semakin membuat Valen merasa terpuruk. Situasi sepele seperti itupun seakan terlihat seperti hal besar. “Terserah kamu deh,” Valen akhirnya menyerah sama keadaan. Valen memikirkan gimana dulu Raymond udah menjanjikan mau membawanya ke Planetarium saat peringatan satu tahunan hari jadian mereka, karena Valen gak pernah kesana. Valen bingung, tidak bisa membedakan apa dia kecewa karena Raymond membatalkan janjinya, atau cuma karena keinginannya pengen ke Planetarium. Apapun itu, hal itu tidak mengurangi kesedihan Valen malam itu.


Keesokkan harinya, Valen menunggu permintaan maaf dari Raymond, bahkan sedikit berangan agar Raymond membatalkan kepergiannya demi Valen. Tapi SMS yang ditunggunya tak kunjung datang. Valen mulai merangkai semua kata perpisahan, bagaimana ia akan memulai sebuah percakapan untuk mengakhiri semuanya. Ia merasa terlalu banyak menyimpan semuanya dalam hati. Ia merasa selalu dituntut untuk mengerti tapi dia tidak pernah ditanya bagaimana ia sebenarnya ingin dimengerti. Akhirnya ia mengerahkan semua kekuatan untuk memberitahu Raymond kalo dia telah mencoba membendung semua untuk kesekian kalinya, tapi ini sudah melampaui batasnya. Ia merasa kalau dirinya tidak dihargai, selalu disingkirkan saat Ray punya kepentingan lain.


1 SMS RECEIVED. Hatinya berdebar cepat. Valen sedikit ragu untuk membaca isi SMS-nya. Namun ia mempersiapkan semua kata-kata dalam otaknya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengakhirinya. “Sayang… Maaf ya. Aku tau aku udah janji, dan mau bikin alasan kayak apapun, tetep aja namanya alasan, dan kamu tau aku ga suka bikin alasan, apalagi ke kamu. Hati aku ga enak harus ninggalin ke luar kota dan kita harus berdebat kayak kemaren. Aku tau aku perginya dadakkan, tapi aku janji nanti pulang kita ke Planetarium ya. Maaf kalo aku selama setahun ini belom bisa sepenuhnya jadi yang kamu mau, tapi kamu harus tau kalo aku selalu berusaha.”


Valen terdiam. Sepertinya semua yang ia pikirkan sebelum menerima SMS itu tidak ada artinya. Ia merasa seperti orang bodoh. Hanya karena keinginan kecil yang tidak terpenuhi, ia menyadari kalau dia hampir kehilangan segalanya. Tetes air mata menyusul senyum kecil yang terlukis di bibirnya. Valen langsung menekan tombol Call dan meminta maaf kepada Raymond atas kelakuannya Jumat lalu. Akhirnya Valen merasa lega, “Ya, mungkin dia ga sempurna. Tapi dia sayang aku apa adanya,” pikirnya dalam hati.


Memikirkan hal di masa lampau bisa melelahkan. Valen mematikan komputernya dan meninggalkan HP-nya dalam kamar. Valen beranjak keluar ingin melihat menu makan siang di meja makan- sebelum sesuatu yang aneh menarik perhatiannya. Sebuah kotak yang dibungkus kertas kado berwarna biru duduk manis diatas sofa. Perhatian Valen teralih oleh sebuah kartu hijau yang menempel di kotak itu. “Pasti yang baca Valen!” Ia terkejut membaca tulisan kecil di depan kartu itu. Ia mengambil kartu tersebut, membukanya dan membacanya dalam hati. “Coba sekarang buka isi kotaknya, baru lanjutin baca lagi…” Valen kaget membaca petunjuk kartu tersebut. Ia menerka-nerka apa isi kotaknya. “Agak berat,” pikir Valen dalam hati sambil menimbang-nimbang kotak itu. Perlahan ia membuka kotak tersebut dan ia melihat sepasang sepatu Converse berwarna biru dan satu toples Nutella di dalamnya. Ia bingung, lalu teringat oleh kartu yang dicantumkan di kotak tersebut dan Valen membacanya kembali. “Inget gak pertama kali kita ketemu dan aku tanya kamu, “Apa dua hal yang akan lo bawa kalo terjebak di sebuah pulau terpencil?” Dan kamu jawab, “Converse sama Nutella! Converse karena gue butuh sepatu nyaman buat keliling pulau, dan Nutella karena segala sesuatu jadi lebih enak pake Nutella. Tinggal cari buah-buahan siap makan buat dilumurin pake Nutella deh!” Dan jawaban kamu itu yang bikin aku sadar kalo kamu adalah cewe yang selama ini aku cari-cari. Converse ini buat kamu, buat ngingetin kalo aku ada sama kamu kemanapun kamu pergi. Nutella, dengan harapan aku bisa jadi pemanis hari-hari pahit kamu. Semoga satu tahun pertama jadi awal dari seratus tahun lamanya. Happy Anniversary. Love you, V.”


Tangisan bahagia membasahi pipi Valen. Bahkan disaat-saat menyebalkan sekalipun, dia masih aja bisa nyenengin. What was I thinking, wanting to break up with him?! Valen kira Raymond yang terlalu menyia-nyiakan semuanya, ternyata di balik semua itu, Valen yang terlalu menganggap semua enteng, bahkan terlalu cepat ingin mengakhiri semuanya. Penyesalan memang akan selalu datang terakhir, dan memang mudah untuk kita ga berpikir panjang saat kita emosi, tapi orang yang kita sayangi seringkali adalah orang yang kita paling sering sakiti. Jangan sampe kita kehilangan orang yang paling bermakna karena kita lupa betapa berharganya mereka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment