Proses Pendewasaan

Growing old is a must, growing up is a choice.

Kalo kata Raditya Dika, manusia harus melewati tahap alay menuju pendewasaan. Itu bener. Pasti semua orang pernah lihat ke belakang dan berpikir, "And I thought that was cool?" Dari gaya rambut sampe gaya foto, I'm sure we've been through those days. Menurut gue, proses pendewasaan paling instan adalah rasa sakit. Orang yang paling berpotensi sukses adalah orang yang bisa mengubah kelemahannya menjadi keuntungan. Orang yang tahu kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Pemikiran absurd orang tua gue kalo tanggung jawab mereka berhenti di SMA dan sisanya adalah tanggung jawab anak-anaknya sendiri karena "tugas" mereka telah selesai membuat gue berpikir. Pola pikir mereka disebabkan pengalaman mereka, yang hanya disekolahkan sampai SMP. Gue pribadi ga suka disama-samain sama jaman dulu, menurut gue, dulu sama sekarang beda banget. Bahkan seseorang yang masih suka "hidup di masa lalu" seperti gue aja membenci hal seperti melihat ke belakang. Menurut gue yang paling bener adalah orang tua-- bahkan ibaratnya mati-matian-- mencoba agar anaknya bisa hidup jauh di atas kehidupan mereka dulu, tapi gue ga nyalahin mereka. Karena mau gimanapun juga, mereka tetep orang tua gue. Mungkin itu juga salah satu alesan gue masih kepikiran belom mau punya anak nanti ke depannya. Somehow, I just feel terrified that they'll end up like I did. I don't want to see them suffer the way I suffered. That's why I swore to myself that if one day I get to have kids, I'll make sure they'll have an amazing future that awaits ahead.

Kalo mau ngomongin soal perceraian, bayangin berapa juta anak Indonesia juga mengalami hal yang sama? Semua orang kalo ngomongin perpisahan orang tua gue ke gue pasti segan. Mereka takut nyakitin perasaan gue. Gue ngerti kok mereka kenapa berpikiran seperti itu. Karena sebagian besar pasti kurang mau terbuka dalam hal itu. Tapi memang itu yang membuat gue berpikir seperti sekarang. Rasa sakit. Butuh sakit untuk tau rasanya seneng. Butuh berada di bawah untuk bisa bener-bener merasakan nikmatnya di atas.

Jakarta keras ya? Mungkin pemikiran harus kerja di umur 16 tahun walaupun anak bontot, alias bungsu dari dua bersaudara, udah melekat pekat sama diri gue. Dan karena sifat yang ga bergantung sama orang lain inilah-- muncul rasa nyaman hidup sendiri tanpa pasangan. Tapi gue juga bersyukur akhirnya ada yang bisa merubah paradigma gue. I don't care if you're a Buddhist or a Muslim or a Catholic, atau bahkan mungkin lo ga percaya kekuatan ilahi, but this is guaranteed: Everything happens for a reason.

Pain is like the traffic jam. Mau lo Mercedes, mau lo bajaj, everyone stops at the same traffic light, right? The rules of the game are the same. Big or small, rich or poor, semua pasti ada di bawahnya. Yang ga pernah sakit tau ga apa? Zombie. Zombie itu apa? Manusia yang hidup tapi seluruh organnya udah ga berfungsi lagi, alias mati. Jadi kalo hidup ga pernah ngerasain sakit dalam hidup, sama aja kayak hidup tapi sebenernya mati.

Jadi buat orang yang bilang gue self-pity karena mengumbar hampir segalanya tentang hidup gue di blog, thank you for noticing. Karena seperti yang Oprah bilang-- setelah dilecehkan secara seksual dan verbal semasa hidupnya-- perbedaan dia dengan wanita lain adalah dia berani membuka masa lalu pahitnya dan menjadikan itu salah satu kekuatannya di masa depan. Ga heran kalo dia selalu come up with the most touching and unbelievable questions, setiap nonton episode Oprah, gue bisa sampe nangis terisak-isak saking tersentuhnya. Ternyata rasa pahit yang dia lalui udah di atas level kebanyakkan orang. Salah satu orang yang gue jadikan panutan, Joel Osteen, bahkan pernah bilang kalo apa yang ada di belakang tidak mempengaruhi apa yang telah tersedia di depan. Contohnya kaca yang ada di mobil. Kenapa kaca spion dibuat kecil? Karena ada pentingnya untuk melihat ke belakang, tapi kaca yang ada di depan untuk melihat ke jalanan dibuat jauh lebih besar. Kenapa? Karena yang di depan jauh lebih berarti dari yang di belakang. Namanya juga proses, setiap orang punya cara proses yang berbeda tentunya. I don't need your sympathy, really. I just want to welcome you to my reality. Dan gue ga perlu dijadiin seseorang yang harus di-look up to. Enggak. Gue sepenuhnya sadar kalo gue masih perlu banyak belajar. Gue ga sempurna, dan ga akan pernah sempurna. Yang pasti, jangan pikir kalau halangan terbesar itu adanya di luar sana. Engga. Halangan terbesar adalah diri kita sendiri. Yang di luar sana; segala sesuatu itu, pada dasarnya adalah mungkin. Jadi kalo ditanya, "Siap buat 2012?" Heck yes. I was born ready.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment