Posting Malam Hari

Hidup itu seimbang, ada kalanya tertawa, ada kalanya menangis. Ada kalanya berjumpa, ada kalanya tiada. Ada kalanya menemukan, ada kalanya kehilangan. Aneh, bukan? Di kala semua cerita biasanya mengakui kalau penggunaan nama atau tempat hanya fiktif belaka, seharusnya mereka memberitahu semuanya-- kalau bukan cuma itu yang palsu, tapi ceritanya pun semua bualan semata. Happy endings. Do they even exist? Mungkin. Hidup terlihat sempurna hanya di layar kaca atau saat kita mendengarnya di telinga.

Ya. Musik. Bahkan lirik lagupun membuat semua orang berangan-angan. Too good to be true. That probably explains everything. Malam Natal, Christmas Eve. Natal jadi berbeda semenjak Oma sudah tiada. Tahun kedua merayakan Natal tanpa kehadiran Oma. Ditambah kepergian Om yang berumur 52 tahun... Semua terlihat begitu cepat. Sampai mimpiku terlihat buram. Dipikir-pikir, apa masih penting itu semua?

Desember dan Juli. Dua bulan yang seharusnya menjadi bulan paling menyenangkan, malah jadi bulan-bulan yang tidak ku tunggu-tunggu. Desember, dimana umat Kristiani selalu merayakannya dengan meriah, aku selalu menghabiskannya dengan merenung. Renungan itu kurang lebih berbunyi seperti ini, "Apakah tahun yang kulewati benar-benar sudah maksimal?" Kebanyakkan jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak. Juli, yang menandakan terjadinya hari kelahiranku, malah membuat aku bertanya-tanya, "Semakin hari semakin tua, lalu apa?" Mungkin aku sama seperti kalian, kita masih sama-sama mencari. Masih sama-sama belajar. Masih sama-sama mencoba. Masih sama-sama berlari. Entah kapan berhenti. Entah kapan berakhir. Melelahkan, tapi semoga terbayarkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment