My Other Half

Gue pernah baca artikel, entah beneran atau rumor, kalo setiap orang punya 7 orang yang tersebar di seluruh dunia yang miriiiiip banget sama dia. As in physically. Itu membuat gue berpikir… Semua orang tau istilah “Soulmate,” tapi tentu definisi tentang kata itu selalu berbeda menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Ini mau cerita apa berdoa?). Apa definisi soulmate menurut kamu? Teman hidupkah? Sahabat kamu-kah?

Gue mau cerita sedikit tentang pengalaman gue beberapa hari ke belakang. Entah kenapa, I have this ability of people opening up to me, and I mean really open up to me, even at our first conversation. Gue bertemu seorang dokter gigi, parasnya ayu, tahi lalat yang ada di pipinya mengingatkan gue sama Paramitha Rusady saat jaman muda dulu. Dia ga cerita banyak, tapi entah kenapa kita tiba-tiba bicara soal cinta. Umurnya tergolong muda untuk seorang dokter gigi; 25 tahun. Gue melontarkan pertanyaan yang bisa dibilang gabungan antara basa basi dan keingintahuan, “Belom married?” Dia tersenyum manis. “Kemaren dilamar, tapi aku tolak.” Gue heran. Kenapa juga ditolak lamarannya? Akhirnya gue beraniin diri buat nanya, masalah dianggep kepo atau ga, urusan belakang. Jawabannya simple, “Aku belom siap. Dan belom mau serius juga.”

Serius lo?! Umur udah ga bisa bohong juga kali. 25 tahun, man. Akhirnya dia jelasin… Dia udah jalanin satu tahun sama seorang pria, beda 6 tahun lebih tua diatasnya. Dia bilang dia selalu anggap pria ini temennya, dan ga ada kata resmi bilang “jadian” juga. Ya tapi mereka jalanin hubungan, dan hubungan itu deket. Gue tanya lagi, “Tapi kalau ditanya temen-temen itu siapanya, dijawab apa?” Dia jawab, “Ya, pacar.” Santai banget jawabnya. Terus gue tanya lagi, makin lama makin terdengar seperti interogasi, “Keluarga kamu udah kenal dia?” Jawabannya mengingatkan gue kepada seseorang, “Ya aku ga gitu dekat sama Mama juga. Jadi dia ga banyak tanya.” Terus gue makin tanya lebih dalem, “Emang kenapa ga mau serius?”

“Aku bukan tipe orang yang bisa diajak married deh menurut aku, kayak Papa aku,” aku menyimpulkan kalau orang tuanya udah pisah, meskipun agak lancang tapi aku tanyakan juga, dan bener aja… Emang udah pisah katanya. “Aku orangnya karir banget deh. Dan aku ga menemukan alasan kenapa aku harus habisin hidup sama seorang pria kalo itu memperumit semuanya. Aku Muslim, jadi aku pikir, ya daripada aku nantinya semakin menyadari kalo hubungannya ribet, mendingan aku didik anak, pahalanya juga besar kok.” Ga gitu deket sama nyokap, karir banget, pengen ngadopsi anak tapi ga usah married, gue berasa ngobrol sama diri gue dari masa depan (Since she’s 6 years older than I am). Fix.

Terus gue cari permasalahannya… I searched for the roots. Takarannya gampang, ya coba gue bercermin sama diri gue sendiri. Gue menanyakan the million dollar question: Pernah disakitin banget ya sama cowo? Dia tersenyum sinis sambil agak menolehkan kepalanya sebelum dia melanjutkan ceritanya. “Aku udah ngelewatin semuanya. Yang namanya nangis-nangisan di kamar mandi, sakit hati parah deh. Pas aku pacaran sama cowo aku di SMA, aku ditinggal ke Belanda. Akhirnya ngejalanin LDR. Singkat cerita, satu tahun LDR, aku tahu dia selingkuh, dia sendiri ngaku. Belum lama ini, beberapa bulan yang lalu, setelah hampir 8 tahun kita putus, dia ngajak balikkan, bahkan mau married. Pas dia nyariin pertama kali aku merasa nyes-nyesan. Dia malah salahin aku, “Kenapa kamu ga pertahanin aku?” Tapi aku sadar kalo it won’t work out, penasaran aku terjawab juga, dan itu hilang. Katanya aku denger dia lagi pacaran sama cewe habis itu. Eh, kemaren aku dapet undangan dia mau married.”

Gue ketemu titik “pencerahan” hidupnya. Tuh cowo-lah yang mengubah persepsi dia tentang cinta. “Wow, it’s like the perfect ending to the fairytale, just 8 years too late,” pikir gue. Akhirnya dia bilang, “That’s why, gue ga mau married. Gimana mau kasi kepastian sama cowo, kalo aku sendiri belom percaya sama diri aku sendiri?” Gue kena banget pas dia ngomong gitu. Ni orang… Kayak soulmate gue. Dimana gue bisa melihat banyak gambaran diri gue dalam orang ini. Gue tanya terakhir, “Kamu bintangnya apa sih?” Jawabannya memperkuat pemikiran gue. Dia jawab, “Cancer.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 comments:

Menciptakan Dunia Baru said...

Harusnya dia tegar dan segera menemukan pasangan yang tepat.. :)

Post a Comment