Scared Or Scarred?

Recent Song On Play: In My Place (Acoustic)- Coldplay

"You're like a little sister to me..." Bullshark!
Ya, gue mencoba menjaga kata-kata yang dipake di blog biar semua kalangan bisa menikmatinya, bahkan anak-anak di bawah umur yang ngaku ke orang tuanya bikin PR padahal Facebook-an dan browsing di internet sekalipun. Pengalaman, jaman gue dulu Friendster.

Berapa banyak wanita disini yang pernah kemakan pria yang pake hubungan "Kakak-Dede" sebagai alibi HTS atau TTM-an?! Yak, gue pernah jadi salah satu korban juga. Gue sayang banget... Entah emang polos atau beneran cinta setengah mati, gue sampe ga pake otak gue. Perbedaan 5 tahun ga menjadi halangan buat gue (Emang selera gue tua... Tapi bukan Om-Om!). Saking cintanya (Atau kata lain, bodohnya...), gue bahkan rela anter jemput dia (Waktu itu masih ada supir) buat jalan bareng ke Dufan (Dimana tiket masuk dan segala pengeluaran gue yang tanggung), beli-beliin pulsa (Up to three times a week!), bahkan semua hal mengingatkan gue sama dia. Gue inget banget kalo warna favoritnya adalah hitam... Sampe-sampe semua orang yang jalan-jalan di mall pake baju hitam ngingetin gue sama dia (Bisa dibayangin berapa banyak orang pake baju item di mall?!).

Iya, gue sebodoh itu dulu. Pria yang sekarang udah menikah ini (Ga perlu deh kayaknya nulis nama) bisa dibilang adalah cinta pertama gue. Atau pemeras uang jajan gue lebih tepat kayaknya? Move on nya... Bisa dibilang sesuatu yang ga gampang. Dia adalah orang yang gue impi-impikan bisa jadi pacar pertama gue. Tapi pupus sudah harapan gue.

Pria berikutnya, bisa dibilang juga pria ideal. Suka main basket, lucu, ga jelek kok. Singkat cerita kita deket dan dia nembak gue... Karena deketnya baru beberapa bulan, gue suruh dia tunggu, rencananya 3 hari kemudian mau gue terima. Ternyata dua hari kemudian gue find out kalo dia nembak cewe lain... Sebagai "jaminan" kalo misalnya gue ga terima, dia masih ada cewe lain. Hebat ya, mentang-mentang hobinya otomotif, belom apa-apa aja udah punya ban serep. Thumbs up!

Yang berikutnya, temen baik kakak gue. Gue suka karena dia lucu banget, gue paling luluh deh kalo cowo lucu dan kocak, bisa memeriahkan suasana (Yak, kenapa gue ga berpikir cari di sirkus, I may never know)... Ternyata ritual yang selalu gue pull off with guys adalah making them wait after asking me to be their girlfriend. Gue suruh tunggu tiga bulan abis nembak, dia ga mau. Sekarang maksud gue gini, apa bedanya jadian nanti sama sekarang? Toh nanti jadi juga. Ya sabar, temenan aja dulu. Kan kita juga "road to jadian," menuju kesana kan. Eh, dia ga mau. Salah siapa jadi penantian seumur hidup sekarang? Sorry, Bet, kalo lo baca sekarang... I really did fall for you.

Pria berikutnya ga berbeda banyak, pengharapan gue ga banyak, gue kira cowo ini akan nembak gue dan kita akan jadian. Bukannya itu yang diinginkan semua orang yang lagi deket sama seseorang? For some reasons, dia tiba-tiba ngilang. Malam sebelum "aksi menghilang" dia, semuanya biasa aja. He wished me good night, sweet dreams, and (sekarang baru tau kalo cuma asal ngomong) I love you. Ga ada kabar... Tiga bulan kemudian cuma kelarin pake SMS yang bilang, "Sorry gue ga bisa ama lo"

Ga pake titik, ga pake koma. Udah gitu aja gitu.

Ternyata ga lama kemudian gue baru tau dari salah satu temen deketnya kalo gue membosankan menurut dia... Dan alasan kuat dia mengakhirinya adalah kita bukan dari ras yang sama.

Gue bertanya-tanya apa ada yang salah sama gue, kenapa gue ga jadian-jadian dimana temen-temen gue udah putus, jadian lagi sama yang baru, putus, balikkan sama mantan yang kedua, putus lagi, menikah... Gue ga jadian-jadian. Bahkan orang-orang kira gue yang terlalu tertutup sama cowo, padahal ga sama sekali. Oke mungkin gue dingin terhadap cowo, tapi please... I got my own issues. Gue baca satu quote yang mengukuhkan keinginan gue untuk single lebih lama lagi. It goes like this: "The best girls in this world choose to never have any boyfriends. Because the guys think they're not good enough, and they're right."

Akhirnya gue jatuh cinta lagi, kali ini sama sahabat gue sendiri. Kita udah kenal lama, kenalnya dari SD, tapi baru contact lagi karena temen gue ngasih MSN dia ke gue. Kita ngobrol banyak, klik luar biasa. Karena dia sekolah di luar, dia baru pulang untuk menetap di Indo dan saat itu kita ketemu setelah sekian lama ga berjumpa. Apalagi setelah kita ketemu itu, dia bilang di mobilnya, "I don't know why none of the girls I've been close to have made me feel like you do. You make sense to me." It felt right, everything felt right. Kasarnya, gue tinggal tunggu tanggal mainnya... I thought this was going to be it. Singkat cerita, dia menyatakan perasaannya via BBM, tapi gue ga jawab apa-apa karena menurut gue itu bukan "pertanyaan untuk jadi cewenya," hanya sekedar "ngungkapin apa yang ada di hatinya." Dia ajak ketemuan, gue kira dia akan tembak gue secara live. Menyiapkan diri lahir bathin...

We planned to meet on a Saturday night. "Asik, pertama kali malem mingguan sama pacar," I thought wishfully. Ternyata dia bilang dia mendadak harus ketemu sama orang lain. Gue agak kesel, tapi ya sudahlah... Mungkin diundur.

Besok paginya, hari Minggu, dia BBM gue. Ternyata dia bilang kemaren malem dia baru kopi darat sama cewe yang dia baru kenal di Facebook. Jleb. Gue tanya... "Loh, katanya... Lo suka sama gue?" Terus dengan polosnya (atau bodohnya), dia bilang dia cuma butuh mastiin apakah dia beneran ada feeling sama gue apa ga... Dan untuk cari tau itu, dia akirnya mencoba untuk ketemu dan jalan sama cewe lain. Gue shock. Gue jelasin, kalo misalnya emang dia beneran ada rasa sama gue, ga butuh cewe lain untuk memperjelas perasaan itu, ya perasaan itu ada dengan sendirinya. Intinya, gue bilang gue ga bisa cuma jadi pilihan kayak gitu, dia ngaku kalo mungkin dia belum siap jadian, entah kenapa kita jadi jauh setelah kejadian itu. Eh, ga sampe 3 bulan kemudian dia cari-cari lagi... Dengan seenak jidat dia bilang, "Gue mencoba cari cewe lain, I went out with like... 4 to 5 chicks, but none of them are you. They don't get me like you do. Mereka beda, ga kayak kamu." I'm like... Ya kali lo harus menempuh tiga sampe empat pertemuan dengan wanita berbeda untuk menyadari hal itu.

Gue ga mencoba mencari simpati dengan ceritain semua hal tentang kisah cinta gue. Gue cuma mau orang tau, kalo gue kayak gini ada sebabnya. Orang bilang gue pemilih, so be it, gue pemilih banget. Banyak orang yang mendengar cerita gue menyarankan gue satu hal: Jadilah orang yang lebih egois. Katanya sih, menurut mereka, being selfish sometimes makes you happier. Tentu aja, di saat kita mementingkan keinginan kita dibandingkan orang lain, kita terpuaskan. Tapi menurut gue kesenangannya sementara. Ada lagi orang-orang yang nyaranin gue untuk ngebales mereka yang pernah nyakitin gue, biar gue merasa enakkan. The thing is, when revenge is done, you'll feel satisfied... But then, now what? Itu cuma membuktikan kalo lo ga lebih baik dari orang yang nyakitin lo. Gue belajar satu hal yang sama setiap saat abis sakit hati, gue jadi semakin pintar. That is why there's a quote that said, "The smarter a woman becomes, the harder it will be for her to find the right man." Sumpah, ini bener banget. Kalo Taylor Swift selalu nge-hits lagu-lagunya karena secara frontal dia ceritain detail di lagu-lagunya, I swear I'll write a freakin' book about those guys who broke my heart. I'm so over crying over a guy, thinking this time will be right. We will fall in love for the right reasons, to the right person. When that time comes, that love will be worth the long wait, the tears and the pain. Right then we will forget we ever cried.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment