Dari Hati Ke Hati, Hari ke Hari dan Tai ke Tai

It is obvious. And I'm not going to lie because the title says it all...
Inspirasi blog ini adalah gejolak-gejolak di perut hasil dari makan kebanyakkan setelah menginap di Puncak. Ga perlu dong secara rinci gue jelasin seperti apa akibat dari perut gue yang menyebabkan gue bolak balik ke belakang terus?

...sorry bikin ilfeel.


Masa sukanya kalo gue lagi serius doang sih, ga suka pas gue lagi bercanda? I have a crazy and wild side to me too that I just don't show to anyone, you know;) Ngomong-ngomong soal ngasih liat aslinya seseorang, kalo lo udah tau aslinya seseorang, biasanya lo akan gimana sih? Menjauh? Apa malah makin suka?

In time, people show who they really are. How we respond to it determines who really are as a person. Ya tapi kalo orang ini emang ga baik buat hidup lo, derita lo untuk pertahanin dia dalam hidup lo. Banyak orang, particularly men (or should I say, boys?), mundur teratur saat udah liat aslinya gue; from my sweet (I mean disgusting) sides, my fun (actually, boring...) hobbies, and even my (not-so-interesting) background. Bahkan ada cowo yang bilang gue membosankan hanya karena gue suka buku. Ya sutra lah ya...

Ya mendingan langsung kasi liat aslinya sih, daripada berpura-pura suka padahal aslinya engga. Tapi mungkin beberapa orang lebih memilih hidup dalam kebohongan, karena takut ga diterima kalo mereka kasi liat aslinya mereka. Hasilnya? They live a double life. Bohongin diri sendiri lebih menyedihkan daripada membohongi orang lain.

Hati Ke Hati
Kejujuran, itu yang bisa membuat sebuah hubungan langgeng alias bertahan. People who are attached to each other need a heart to heart conversation. This is where they strip down to the core, dimana ga ada satupun yang diumpetin. Di saat kejujuran ambil alih suatu hubungan, gue rasa susah untuk konflik masuk ke dalam hubungan itu. Kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi itu yang kita butuhkan agar dua orang bisa mempertahankan hubungan tersebut. Ibaratnya, Bluetooth kan baru bisa connect kalo dua-duanya nyala, bahasa kerennya on the same page, baru bisa berfungsi seutuhnya. Apalagi saat lo menganggap semuanya hanya sekedar kebiasaan, di mana lo stuck di zona nyaman tersebut. Lo mungkin berpikir: Oke, gue mau telpon dia karena ya emang gue jam segini biasa telpon dia. Atau karena keseringan ngumbar kata-kata manis, lo jadi terpatok kebiasaan ngomong "Love you, honey," or like "Sweet dreams, Sayang," tapi nada lo datar. Deep down, lo ga ngerasa apa-apa lagi. What you need is a Heart to Heart conversation. Find out where is the pebble that made it feel rough to walk on. Kadang kerikil-kerikil kecil dalam satu hubungan malah yang bahaya. Mereka ga keliatan, tapi malah bisa merusak.

Hari Ke Hari
It is true how I once read a quote that says, "The key to a successful relationship involves falling in love over and over again. But with the same person everyday." Itu tuh bener banget. Mendapatkan sesuatu ga sesulit mempertahankan sesuatu. The challenge is to keep that feeling over and over every day, tanpa mengubah apa-apa. Tentu dari hari ke hari kita akan menemukan aslinya pasangan kita. Kadang di satu sisi, ada rasa dimana kita merasa kita deserve better, kita ga terima, but hey... Masa iya sih, lo cuma mau ada buat dia di saat dia seneng doang, dan saat dia lagi bukan dirinya yang sebenernya, lo akan segampang itu give up on them? Temukan satu alasan kenapa lo semakin cinta sama dia dari hari ke hari. Pasti ada deh satu orang yang lo pengen kasitau saat suatu kejadian menarik terjadi di hari lo. I didn't say a name, but somehow a name pops in your head, did it?

Tai Ke Tai
Day by day, lo akan menemukan satu alasan lagi yang akan menambah pemikiran kenapa lo ga usah mempertahankan hubungan lo. Disini deh, letak tantangan lo untuk lanjutin apa kelar. Ibaratnya lo makin hari makin tau kejelekkannya dia nih, tai-tai nya dia nih, dan itu kadang buat lo untuk mempunyai second thoughts. Yang lo perlu lakukan adalah menerima dan menyesuaikan. Toh, ga ada orang di dunia ini yang sempurna. Kalo semua orang mencari orang yang sempurna, ga ada yang nikah kali di bumi (dan itulah mengapa saya single, Saudara-Saudara...). Secara logika aja, orang ga ada yang sempurna. Justru saat lo menemukan orang yang mau deal with the worst scenario possible and where you're at your lowest, lo udah menemukan seseorang yang ibaratnya mau "memegang" atau handle tai lo nih (jangan dibayangin woy, gue tau frontal, tapi kadang gue butuh perumpamaan), lo dikaruniai seseorang yang mau menerima lo apa adanya, what else in the world could you possibly need?

Menurut gue orang yang ga bisa menerima lo apa adanya, ga pantes untuk ada di dalam hidup lo. Saat salah satu dari lo udah mulai nuntut-- in this case, I mean in a relationship-- that is when it's just not healthy anymore. At the end of the day, we need people to love us as who we are. Dimana seseorang bisa secara ikhlas menerima segala tingkah aneh lo, kebiasaan-kebiasaan lo yang ga biasa, hingga mimpi-mimpi absurd lo.

Random thought: Ironis ya ngomongin masalah relationships padahal sendirinya ga pernah jadian.

Hey, ga pernah jadian bukan jaminan ga pernah jatuh cinta. Bukan jaminan pula ga pernah sakit hati.

Yang gue heran adalah, kadang orang udah dapet pasangan yang sifatnya bagus, rupa ga buruk-buruk amat, tapi tetep aja disia-siain. Ya namanya juga manusia, kalo bisa merasakan yang namanya kepuasan sejati, udah ga lagi di bumi berarti.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment