Scared Or Scarred?

Recent Song On Play: In My Place (Acoustic)- Coldplay

"You're like a little sister to me..." Bullshark!
Ya, gue mencoba menjaga kata-kata yang dipake di blog biar semua kalangan bisa menikmatinya, bahkan anak-anak di bawah umur yang ngaku ke orang tuanya bikin PR padahal Facebook-an dan browsing di internet sekalipun. Pengalaman, jaman gue dulu Friendster.

Berapa banyak wanita disini yang pernah kemakan pria yang pake hubungan "Kakak-Dede" sebagai alibi HTS atau TTM-an?! Yak, gue pernah jadi salah satu korban juga. Gue sayang banget... Entah emang polos atau beneran cinta setengah mati, gue sampe ga pake otak gue. Perbedaan 5 tahun ga menjadi halangan buat gue (Emang selera gue tua... Tapi bukan Om-Om!). Saking cintanya (Atau kata lain, bodohnya...), gue bahkan rela anter jemput dia (Waktu itu masih ada supir) buat jalan bareng ke Dufan (Dimana tiket masuk dan segala pengeluaran gue yang tanggung), beli-beliin pulsa (Up to three times a week!), bahkan semua hal mengingatkan gue sama dia. Gue inget banget kalo warna favoritnya adalah hitam... Sampe-sampe semua orang yang jalan-jalan di mall pake baju hitam ngingetin gue sama dia (Bisa dibayangin berapa banyak orang pake baju item di mall?!).

Iya, gue sebodoh itu dulu. Pria yang sekarang udah menikah ini (Ga perlu deh kayaknya nulis nama) bisa dibilang adalah cinta pertama gue. Atau pemeras uang jajan gue lebih tepat kayaknya? Move on nya... Bisa dibilang sesuatu yang ga gampang. Dia adalah orang yang gue impi-impikan bisa jadi pacar pertama gue. Tapi pupus sudah harapan gue.

Pria berikutnya, bisa dibilang juga pria ideal. Suka main basket, lucu, ga jelek kok. Singkat cerita kita deket dan dia nembak gue... Karena deketnya baru beberapa bulan, gue suruh dia tunggu, rencananya 3 hari kemudian mau gue terima. Ternyata dua hari kemudian gue find out kalo dia nembak cewe lain... Sebagai "jaminan" kalo misalnya gue ga terima, dia masih ada cewe lain. Hebat ya, mentang-mentang hobinya otomotif, belom apa-apa aja udah punya ban serep. Thumbs up!

Yang berikutnya, temen baik kakak gue. Gue suka karena dia lucu banget, gue paling luluh deh kalo cowo lucu dan kocak, bisa memeriahkan suasana (Yak, kenapa gue ga berpikir cari di sirkus, I may never know)... Ternyata ritual yang selalu gue pull off with guys adalah making them wait after asking me to be their girlfriend. Gue suruh tunggu tiga bulan abis nembak, dia ga mau. Sekarang maksud gue gini, apa bedanya jadian nanti sama sekarang? Toh nanti jadi juga. Ya sabar, temenan aja dulu. Kan kita juga "road to jadian," menuju kesana kan. Eh, dia ga mau. Salah siapa jadi penantian seumur hidup sekarang? Sorry, Bet, kalo lo baca sekarang... I really did fall for you.

Pria berikutnya ga berbeda banyak, pengharapan gue ga banyak, gue kira cowo ini akan nembak gue dan kita akan jadian. Bukannya itu yang diinginkan semua orang yang lagi deket sama seseorang? For some reasons, dia tiba-tiba ngilang. Malam sebelum "aksi menghilang" dia, semuanya biasa aja. He wished me good night, sweet dreams, and (sekarang baru tau kalo cuma asal ngomong) I love you. Ga ada kabar... Tiga bulan kemudian cuma kelarin pake SMS yang bilang, "Sorry gue ga bisa ama lo"

Ga pake titik, ga pake koma. Udah gitu aja gitu.

Ternyata ga lama kemudian gue baru tau dari salah satu temen deketnya kalo gue membosankan menurut dia... Dan alasan kuat dia mengakhirinya adalah kita bukan dari ras yang sama.

Gue bertanya-tanya apa ada yang salah sama gue, kenapa gue ga jadian-jadian dimana temen-temen gue udah putus, jadian lagi sama yang baru, putus, balikkan sama mantan yang kedua, putus lagi, menikah... Gue ga jadian-jadian. Bahkan orang-orang kira gue yang terlalu tertutup sama cowo, padahal ga sama sekali. Oke mungkin gue dingin terhadap cowo, tapi please... I got my own issues. Gue baca satu quote yang mengukuhkan keinginan gue untuk single lebih lama lagi. It goes like this: "The best girls in this world choose to never have any boyfriends. Because the guys think they're not good enough, and they're right."

Akhirnya gue jatuh cinta lagi, kali ini sama sahabat gue sendiri. Kita udah kenal lama, kenalnya dari SD, tapi baru contact lagi karena temen gue ngasih MSN dia ke gue. Kita ngobrol banyak, klik luar biasa. Karena dia sekolah di luar, dia baru pulang untuk menetap di Indo dan saat itu kita ketemu setelah sekian lama ga berjumpa. Apalagi setelah kita ketemu itu, dia bilang di mobilnya, "I don't know why none of the girls I've been close to have made me feel like you do. You make sense to me." It felt right, everything felt right. Kasarnya, gue tinggal tunggu tanggal mainnya... I thought this was going to be it. Singkat cerita, dia menyatakan perasaannya via BBM, tapi gue ga jawab apa-apa karena menurut gue itu bukan "pertanyaan untuk jadi cewenya," hanya sekedar "ngungkapin apa yang ada di hatinya." Dia ajak ketemuan, gue kira dia akan tembak gue secara live. Menyiapkan diri lahir bathin...

We planned to meet on a Saturday night. "Asik, pertama kali malem mingguan sama pacar," I thought wishfully. Ternyata dia bilang dia mendadak harus ketemu sama orang lain. Gue agak kesel, tapi ya sudahlah... Mungkin diundur.

Besok paginya, hari Minggu, dia BBM gue. Ternyata dia bilang kemaren malem dia baru kopi darat sama cewe yang dia baru kenal di Facebook. Jleb. Gue tanya... "Loh, katanya... Lo suka sama gue?" Terus dengan polosnya (atau bodohnya), dia bilang dia cuma butuh mastiin apakah dia beneran ada feeling sama gue apa ga... Dan untuk cari tau itu, dia akirnya mencoba untuk ketemu dan jalan sama cewe lain. Gue shock. Gue jelasin, kalo misalnya emang dia beneran ada rasa sama gue, ga butuh cewe lain untuk memperjelas perasaan itu, ya perasaan itu ada dengan sendirinya. Intinya, gue bilang gue ga bisa cuma jadi pilihan kayak gitu, dia ngaku kalo mungkin dia belum siap jadian, entah kenapa kita jadi jauh setelah kejadian itu. Eh, ga sampe 3 bulan kemudian dia cari-cari lagi... Dengan seenak jidat dia bilang, "Gue mencoba cari cewe lain, I went out with like... 4 to 5 chicks, but none of them are you. They don't get me like you do. Mereka beda, ga kayak kamu." I'm like... Ya kali lo harus menempuh tiga sampe empat pertemuan dengan wanita berbeda untuk menyadari hal itu.

Gue ga mencoba mencari simpati dengan ceritain semua hal tentang kisah cinta gue. Gue cuma mau orang tau, kalo gue kayak gini ada sebabnya. Orang bilang gue pemilih, so be it, gue pemilih banget. Banyak orang yang mendengar cerita gue menyarankan gue satu hal: Jadilah orang yang lebih egois. Katanya sih, menurut mereka, being selfish sometimes makes you happier. Tentu aja, di saat kita mementingkan keinginan kita dibandingkan orang lain, kita terpuaskan. Tapi menurut gue kesenangannya sementara. Ada lagi orang-orang yang nyaranin gue untuk ngebales mereka yang pernah nyakitin gue, biar gue merasa enakkan. The thing is, when revenge is done, you'll feel satisfied... But then, now what? Itu cuma membuktikan kalo lo ga lebih baik dari orang yang nyakitin lo. Gue belajar satu hal yang sama setiap saat abis sakit hati, gue jadi semakin pintar. That is why there's a quote that said, "The smarter a woman becomes, the harder it will be for her to find the right man." Sumpah, ini bener banget. Kalo Taylor Swift selalu nge-hits lagu-lagunya karena secara frontal dia ceritain detail di lagu-lagunya, I swear I'll write a freakin' book about those guys who broke my heart. I'm so over crying over a guy, thinking this time will be right. We will fall in love for the right reasons, to the right person. When that time comes, that love will be worth the long wait, the tears and the pain. Right then we will forget we ever cried.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Enough Is Enough

Recent Song On Play: So Simple- Stacie Orrico
"Take it down, down, down and strip it to the core,
I don't really need much, less is more, more, more..."


Banyak orang diberikan kenyamanan tapi masih merasa belum terpenuhi. Banyak orang di sekeliling kita masih butuh bantuan, tapi kita cuek. Masalahnya bukan lebih atau kurang, tapi keadaan dimana kita merasa cukup. Masalahnya adalah, Tuhan selalu memberi kecukupan, tapi buat kita cukup selalu kurang. Manusiawi untuk selalu menginginkan lebih, tapi pernahkah terlintas kalau kadang yang kita punya sekarang, itu adalah definisi kesempurnaan? Mungkin roda kehidupan akan berputar, dan akankah kita sadar kalau saat itulah dimana kita menyadari kalau dulu kita punya segalanya? Jadi sebenarnya statement, "Don't take things for granted," atau bahasa simple-nya adalah untuk menyadari apa yang kita punya sekarang, itu yang kita perlu lakukan setiap hari. Semuanya, dari yang kelihatan sampai yang tidak terlihat, itu anugerah. Punya keluarga, teman, atau seseorang untuk dicintai, consider yourself the lucky ones. Emang bener, semua akan berasa lebih berharga kalo udah ga ada. Indahnya adalah, di saat kita kehilangan sesuatu, kita akan mendapatkan sesuatu juga. You lose some, you'll get some. Siapa bilang lagi kalo Tuhan ga adil? Hidup punya cara sendiri dalam mengajarkan kita banyak hal. Kadang kita harus mengikhlaskan segala sesuatu yang udah ga ada di hidup kita, biar sadar-- kalo suatu saat, cepat atau lambat, semuanya akan sirna jua.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teori Cacat

Gue jadi inget quote lucu yang pernah gue baca beberapa waktu yang lalu, "Kalo cinta seseorang, pake hati aja jangan pake jiwa. Jadi kalo nantinya harus sakit, cuma sakit hati, bukan sakit jiwa." Ternyata cinta berbanding lurus sama hal-hal yang terjadi di keseharian kita. Contoh simpel-nya gini: Kalo organ tubuh kita ga berfungsi dengan benar, itu dinamainnya cacat, kan? Jadi mata gunanya buat apa? Melihat. Kalo ga ngeliat, namanya buta. Kalo telinga, bukan beda bukan lain, hanya untuk mendengar. Kalo ga bisa mendengar? Namanya budek, conge, tingkat akutnya ya tuli.

Ya eya lah, ponakkan gue umur 4 taun juga tau beginian.

Jadi ibaratnya, kalo cinta itu harus gunain semua organ tubuh dan indera dengan sebaik mungkin. Mata untuk melihat dia sebagai pribadi yang utuh, termasuk segala kebaikkan yang orang itu telah lakukan buat kita, telinga untuk mendengarkan semua keluh kesah dia, mulut untuk menegur dan ngasi-tau kesalahannya, untuk saling membangun, dan yang paling penting adalah hati. Karena organ paling penting yang jadi penentu hidup dan mati kan hati, kalo mencintai ga pake hati, cintanya berarti udah mati. Fix.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BTW (Born This Way)

No, this is not a Coming-Out-Of-The-Closet post to declare that I'm a lesbian (Oh, you would sooo love to see that, wouldn't you? Better luck next time!), last time I check I still feel a sudden rush of adrenaline when I saw Chris Evans transform to Captain America. Those... Abs... *drools*
By the way, the movie sucked.

This is just to write about the person behind all this posts, if there happen to be a curiosity in your mind about the person blabbing all alone in cyber world. Lahir di keluarga yang separuhnya kuat budaya barat dan separuhnya lagi kuat sifat militer. Budaya barat bukan berarti standard hidup orang barat, lebih ke kebiasaan, seperti kemandirian terhadap segala sesuatu. Kalo militer mungkin membentuk sifat perfeksionis, which is something I'm not proud of. Kalo bisa jabarin beberapa poin penting from growing up, it's the following:

Jadi cewe jangan manja.
Prinsip ini membentuk karakter tomboy gue as I grew up. Cuek, ga menye dan gesit sana sini. Panas-panasan gapapa, keringetan-pun ga heran, akhirnya kadang gue mempertanyakan jati diri gue... Ya walaupun pas nunduk ke bawah tetep aja ada dua buah gunung (Oke, fine, bukit...) yang menonjol, pertanda kalo gue wanita tulen.

Jangan bergantung sama siapa-siapa, do things yourself.
Despite how I look like in real life, darah Jawa mengalir kental dalam tubuh gue. Jadi gue paling anti yang namanya nyusahin orang. Kira-kira begitulah pelajaran yang gue pegang, akhirnya gue dituntut untuk jadi cewe yang serba bisa. Ibaratnya kalo di rumah beresin kamar hayo, masak hayo, ngutak ngatik komputer hajar, no boundaries whether it's a man or a woman's job to do.

Ga perlu cowo untuk buat lo bahagia.
Nah, ini nih... Ini nih... Kalo lo bertanya-tanya kenapa gue ga jadian-jadian. Perpisahan Bokap dan Nyokap gue mengambil andil besar in terms of how I see relationships. Oma gue yang ditinggal Opa gue karena penyakit kanker, perceraian Nyokap gue sama Bokap, sampe Kartini sekalipun (Lah Kartini apa relasinya sama gue, yak?) mengajar gue kalo cewe tuh bisa kok berdiri sendiri. Bahkan di kesendirian lo, lo terkadang bisa lebih leluasa bergerak, gue ga against this opinion ya karena gue pribadi ngerasain itu.

Uang bukan segalanya.
Having it all doesn't guarantee you a complete and whole happiness. Buat apa lo jadi billionaire tapi lo gak punya temen? Sendirian di apartment mewah lo di Amerika tapi hidup lo kesepian... I know this point make me sound hypocritical, but I mean it. Having the most loving friends sometimes... Is all you need.

Above all... Do what you love.
I believe in this wholeheartedly. I don't see the point of living in luxury if what I'm doing is not me. I can look in the mirror and not recognize the person looking back at me and I can imagine how bad that would feel.

Kalo ditanya apa rasanya kerja semenjak usia muda... Ya ada enak ada ga enaknya. Ada lah pasti ego atau sifat kekanak-kanakkan yang ngelonjak, apalagi anak terakhir, gue merasa kehilangan hak gue sebagai anak bungsu. Gimana sih, masih muda, masih pengen seneng-seneng, bukan maksudnya mau habisin separuh hari gue di club atau buat belanja ya, lebih ke... Ketemu temen, ngabisin uang buat beli buku apa CD, being normal in general. Yang pasti dari awal gue lahir, kanak-kanak, remaja, sampe sekarang ini (Kalo mau ngaku masih remaja ga enak, bilang udah dewasa juga belom saatnya) gue ga merasa normal. Bukannya ga normal dalam artian keterbelakangan mental, mungkin lebih ke... Spesial.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dari Hati Ke Hati, Hari ke Hari dan Tai ke Tai

It is obvious. And I'm not going to lie because the title says it all...
Inspirasi blog ini adalah gejolak-gejolak di perut hasil dari makan kebanyakkan setelah menginap di Puncak. Ga perlu dong secara rinci gue jelasin seperti apa akibat dari perut gue yang menyebabkan gue bolak balik ke belakang terus?

...sorry bikin ilfeel.


Masa sukanya kalo gue lagi serius doang sih, ga suka pas gue lagi bercanda? I have a crazy and wild side to me too that I just don't show to anyone, you know;) Ngomong-ngomong soal ngasih liat aslinya seseorang, kalo lo udah tau aslinya seseorang, biasanya lo akan gimana sih? Menjauh? Apa malah makin suka?

In time, people show who they really are. How we respond to it determines who really are as a person. Ya tapi kalo orang ini emang ga baik buat hidup lo, derita lo untuk pertahanin dia dalam hidup lo. Banyak orang, particularly men (or should I say, boys?), mundur teratur saat udah liat aslinya gue; from my sweet (I mean disgusting) sides, my fun (actually, boring...) hobbies, and even my (not-so-interesting) background. Bahkan ada cowo yang bilang gue membosankan hanya karena gue suka buku. Ya sutra lah ya...

Ya mendingan langsung kasi liat aslinya sih, daripada berpura-pura suka padahal aslinya engga. Tapi mungkin beberapa orang lebih memilih hidup dalam kebohongan, karena takut ga diterima kalo mereka kasi liat aslinya mereka. Hasilnya? They live a double life. Bohongin diri sendiri lebih menyedihkan daripada membohongi orang lain.

Hati Ke Hati
Kejujuran, itu yang bisa membuat sebuah hubungan langgeng alias bertahan. People who are attached to each other need a heart to heart conversation. This is where they strip down to the core, dimana ga ada satupun yang diumpetin. Di saat kejujuran ambil alih suatu hubungan, gue rasa susah untuk konflik masuk ke dalam hubungan itu. Kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi itu yang kita butuhkan agar dua orang bisa mempertahankan hubungan tersebut. Ibaratnya, Bluetooth kan baru bisa connect kalo dua-duanya nyala, bahasa kerennya on the same page, baru bisa berfungsi seutuhnya. Apalagi saat lo menganggap semuanya hanya sekedar kebiasaan, di mana lo stuck di zona nyaman tersebut. Lo mungkin berpikir: Oke, gue mau telpon dia karena ya emang gue jam segini biasa telpon dia. Atau karena keseringan ngumbar kata-kata manis, lo jadi terpatok kebiasaan ngomong "Love you, honey," or like "Sweet dreams, Sayang," tapi nada lo datar. Deep down, lo ga ngerasa apa-apa lagi. What you need is a Heart to Heart conversation. Find out where is the pebble that made it feel rough to walk on. Kadang kerikil-kerikil kecil dalam satu hubungan malah yang bahaya. Mereka ga keliatan, tapi malah bisa merusak.

Hari Ke Hari
It is true how I once read a quote that says, "The key to a successful relationship involves falling in love over and over again. But with the same person everyday." Itu tuh bener banget. Mendapatkan sesuatu ga sesulit mempertahankan sesuatu. The challenge is to keep that feeling over and over every day, tanpa mengubah apa-apa. Tentu dari hari ke hari kita akan menemukan aslinya pasangan kita. Kadang di satu sisi, ada rasa dimana kita merasa kita deserve better, kita ga terima, but hey... Masa iya sih, lo cuma mau ada buat dia di saat dia seneng doang, dan saat dia lagi bukan dirinya yang sebenernya, lo akan segampang itu give up on them? Temukan satu alasan kenapa lo semakin cinta sama dia dari hari ke hari. Pasti ada deh satu orang yang lo pengen kasitau saat suatu kejadian menarik terjadi di hari lo. I didn't say a name, but somehow a name pops in your head, did it?

Tai Ke Tai
Day by day, lo akan menemukan satu alasan lagi yang akan menambah pemikiran kenapa lo ga usah mempertahankan hubungan lo. Disini deh, letak tantangan lo untuk lanjutin apa kelar. Ibaratnya lo makin hari makin tau kejelekkannya dia nih, tai-tai nya dia nih, dan itu kadang buat lo untuk mempunyai second thoughts. Yang lo perlu lakukan adalah menerima dan menyesuaikan. Toh, ga ada orang di dunia ini yang sempurna. Kalo semua orang mencari orang yang sempurna, ga ada yang nikah kali di bumi (dan itulah mengapa saya single, Saudara-Saudara...). Secara logika aja, orang ga ada yang sempurna. Justru saat lo menemukan orang yang mau deal with the worst scenario possible and where you're at your lowest, lo udah menemukan seseorang yang ibaratnya mau "memegang" atau handle tai lo nih (jangan dibayangin woy, gue tau frontal, tapi kadang gue butuh perumpamaan), lo dikaruniai seseorang yang mau menerima lo apa adanya, what else in the world could you possibly need?

Menurut gue orang yang ga bisa menerima lo apa adanya, ga pantes untuk ada di dalam hidup lo. Saat salah satu dari lo udah mulai nuntut-- in this case, I mean in a relationship-- that is when it's just not healthy anymore. At the end of the day, we need people to love us as who we are. Dimana seseorang bisa secara ikhlas menerima segala tingkah aneh lo, kebiasaan-kebiasaan lo yang ga biasa, hingga mimpi-mimpi absurd lo.

Random thought: Ironis ya ngomongin masalah relationships padahal sendirinya ga pernah jadian.

Hey, ga pernah jadian bukan jaminan ga pernah jatuh cinta. Bukan jaminan pula ga pernah sakit hati.

Yang gue heran adalah, kadang orang udah dapet pasangan yang sifatnya bagus, rupa ga buruk-buruk amat, tapi tetep aja disia-siain. Ya namanya juga manusia, kalo bisa merasakan yang namanya kepuasan sejati, udah ga lagi di bumi berarti.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pasangan Hidup VS Prinsip Hidup

Wow. Can't remember the last time I actually blog in Bahasa.
Lah ini niatnya mau blog pake bahasa Indo kenapa intro-nya pake Inggris yak?

Well, this random thought of mine just came in yesterday, jadi bahasa keren-nya ya... Fresh from the oven lah. Jadi gue kalo nge-blog kan kadang ditulis di HP dulu, atau di kertas, atau di Mac, ini ide kemaren yang terpaksa tertunda karena sambungan internet ga bersahabat. Tapi mumpung koneksi sembuh tiba-tiba (provider sedang galau nampaknya, kita cari uang bersama setelah libur lebaran ya, Mbak Operator), jadi langsung tumpah deh jadi blog.

Prinsip. Apa sih prinsip? Menurut gue prinsip itu pegangan hidup. Tentu cara di-raise orang kan beda-beda, your view on standards otomatis jadi beda-beda. Seberapa besar prinsip lo di hidup ini adalah pengukur seberapa jauh atau seberapa kuat lo akan bertahan kalo ada guncangan. Contoh kasarnya, kalo cowo punya prinsip hidup "SCSC" (Baca: Satu Cewe Saja Cukup), pasti, without a doubt, dia ga akan selingkuh. Ya secara jiwa, bohong deh kalo cewe bukan kelemahan cowo. Orang sekuat Ade Rai atau Dwayne Johnson aja pasti kelemahannya juga cewe. Fix. Tapi kembali lagi, seberapa besar cowo itu bisa berpegang pada prinsip hidupnya?


Iya, emang penting, perlu ada foto.

Gimana cara orang lihat apakah seseorang punya prinsip alias ga plin plan? Orang yang suka nyepelein hal-hal kecil biasanya ga bisa berpegang sama prinsip hidupnya. Kalo lo bilang, "Ya yaudah lah, gapapa selingkuh dikit, siapa juga sih yang bisa tahan sama satu orang aja seumur hidupnya," mungkin lo bilang, "Ya yaudah lah, gapapa boong sekali-sekali. Dia juga pasti pernah boongin gue," atau bisa juga, "Telat dikit gapapa lah, siapa sih yang ga pernah telat?!" Kalo lo tau banget orang yang suka kayak gitu, berarti lo tau just how much he/she worth. There's no excuse in cheating or lying or being late, that's like being absolutely okay for being a jerk. Justru kalo hal kecil aja dia ga bisa dipegang omongannya, gimana mau dipercayain sama hal-hal yang lebih besar? Apalagi cowo-cowo nih (buat para cewe), mereka tuh harusnya tau apa yang mereka mau, gimana ngeraihnya, dan pasti mereka ngelakuin apapun juga caranya buat ngeraihnya. Prinsip emang butuh kegigihan. Punya prinsip berarti orang itu punya integritas, ngomong A ya A, ngomong B ya B. Jujur ya memang ga gampang jadi orang yang berpegang pada prinsip hidup.

Seseorang yang berpegang pada prinsip hidupnya emang harus walk the extra mile alias lebih bersusah-susah sedikit. Tapi seseorang yang punya prinsip pasti ga gampang diinjek-injek orang, percaya deh. Nah, itu juga bisa jadi takaran dalam mencari pasangan hidup. Pasangan hidup yang ideal itu yang penting punya prinsip. Komitmen kan butuh banget yang namanya berpegang sama prinsip. Prinsip ini luas loh. Rajin kan juga prinsip, jadi kalo lagi diuji masalah finansial misalnya nih, tapi kalo prinsipnya "Kerjain yang terbaik walaupun pemasukkan ga asik," menurut gue cuma a matter of time sebelum nanti akan sepenuhnya berhasil. Kalo prinsipnya no nyeleweng allowed, atau no kompromi sana sini, udah aman deh. Kalo prinsip aja jelas, pasti tujuan hidup juga jelas. Fix.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS