Negara Maju

Sebelumnya gue mau ngucapin selamat Hari Kebangkitan Nasional, semoga yang baca ini bisa kasi kontribusi ke negara untuk membuat Indonesia lebih maju!

Entah kenapa di tahun ini gue banyak diijinin ketemu orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis, politik atau yang ga jauh-jauh dari orang pemerintahan. Perusahaan-perusahaan tersebut mungkin udah ga asing lagi di telinga kita, bahkan yang jadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Dari situ gue belajar banyak, dari yang mereka mulai segalanya dari nol sampe setiap hari Paris-Amsterdam-Hong Kong-Jakarta. Intinya hidup itu kayak roda, pasti berputar. Bisa keliling dunia itu bonus, tapi kalo bisa dapet wawasan kelas dunia di negri sendiri, kenapa engga, ya 'ngga? Berikut adalah beberapa pelajaran yang pengen gue share selama 5 bulan awal tahun 2011.

Salah satu event besar yang diadakan Telkom kemaren, gue bertemu dan ngobrol-ngobrol sama seorang Ibu yang memberitahu gue kalo salah satu wujud negara lain memperbaiki cara kerja suatu perusahaan adalah dengan memberi hadiah kepada mereka yang memberikan kritik dan komentar sebagai tanda terima kasih kepada konsumen yang mengikutsertakan diri mereka dalam pembangunan perusahaan mereka. Sedangkan Indonesia, kurang peduli sama kritik, bahkan cenderung ga memperbaiki diri kalo salah. Mungkin maksud Ibu ini adalah Indonesia terlalu menerapkan sistem musyawarah, alias suara yang paling banyak ya yang menang, walaupun itu salah. Contoh simpelnya aja saat lampu merah, walaupun lampu hijau belum nyala, tapi kalo semua mobil udah tancap gas, polisi pun gak bisa berkutik lagi. Indonesia tuh harus berani bilang engga sama hal-hal yang ga bikin kemajuan sama negaranya. Gue tau ini merupakan perubahan tersulit, karena Indonesia sangat nyaman dengan kebiasaan. Kadang kita nyalahin pemerintah, atau orang-orang tinggi negara, tapi gue rasa yang perlu diubah itu mindset kita sendiri.

Di suatu kesempatan yang gak kalah seru, seorang Bapak cerita tentang perjalanan menggali ilmunya ke Texas, dengan memperdalam ilmu Psikologi dan meraih gelar Professor-nya disana. Walaupun budaya negri Paman Sam tergolong liberal, tapi mereka punya standar tinggi di bidang pendidikan. Disana diutamain kualitas, makanya mereka menjor-jorkan beasiswa karena banyak otak encer yang gak dapet kesempatan yang sama dengan mereka yang berlebihan secara materi. Di Indonesia mah ya yang penting uang, uang dan uang. Uang bisa bawa orang kemanapun yang mereka mau. Kuantitas, bukan kualitas.

Indonesia itu banyak bibit pembuat sejarah tingkat dunia. Mutunya gak kalah bersaing sama luar negri. Tapi sayangnya, yang berkualitas tinggi ini malah ngibrit cari duit di luar negri. Cuma sedikit yang memang mau buat negaranya maju, mereka terpatok sama kemajuan diri sendiri. Gue pun kaget saat denger Bapak-Bapak di depan gue lulusan MIT, Harvard dan Princeton. Looks can be deceiving, so to speak. Tapi mereka berjuang keras buat memperbaiki pendidikan di Indonesia, walaupun usaha tersebut masih tergolong kecil dibandingin apa yang luar negri udah lakukan buat pendidikan di negaranya, tapi keinginan awal itu aja menurut gue udah kemajuan yang bagus.

Mungkin lo mikir, "Ah, gue cuma anak muda biasa, bisa kasih perubahan apa buat negara?" Caranya sama seperti memulai perubahan apapun dalam hidup lo, cari bidang yang lo minati, dan dari sana pasti lebih mudah untuk buat perubahan. Seperti yang udah gue pelajari, yang membuat seseorang menjadi pahlawan bukan tombak atau pedang, tapi perjuangan yang diberikannya di medan perang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment