Ingin Lawan Butuh

Mungkin kali ini; gue harus sedikit rehat dari nulis tentang hal lain selain diri gue. Mungkin kali ini, gue harus belajar untuk melakukan sesuatu yang gue rasa cukup sulit untuk gue lakukan selama ini, and that is to focus on what I want. Selain gue ingin para pembaca blog gue untuk tau siapa orang di balik semua blog absurd ini, gue pengen ngebagiin sedikit dari apa aja yang gue udah alemin selama perjalanan hidup gue. Please note that I'm just simply telling you a little bit of my story, of what I've been through, and I'm not seeking for any attention, any kinds of praise or compliment, I'm just sharing to you the person behind all the writings.

Hai, gue Nadia, 18 tahun (Dan sejujurnya kurang begitu berminat menambah umur sendiri jadi 19 dalam hitungan beberapa bulan). Setiap social network menyediakan satu segmen untuk memperkenalkan diri lo ke seluruh dunia yaitu di-section "About Me," namun gue merasa itu selalu kurang untuk mendeskripsikan siapa pemilik profile itu sebenarnya. Gue gak merasa the most talented person di bidang menulis, I write because I love to write, I don't need more reasons to do so. Prinsip itu gue terapin seperti pada bidang lainnya, misalnya dalam bidang musik. Seseorang mungkin menyanyi karena suaranya bagus, tapi apakah suara bagus cukup buat menjadi seorang musisi sejati? Engga, menurut gue penyanyi yang baik adalah seseorang yang ga cuma punya bakat menyanyi, tapi juga yang melantunkan nyanyiannya dari hati. Karena untuk berhasil dalam melakukan sesuatu, you have to be able to make a connection. Penulis harus membuat koneksi kepada pembaca, sama halnya dengan penyanyi kepada audience-nya. I remember a quote that said, "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life."

Pekerjaan-- mungkin lo berpikir, "Geez, apa banget sih, you're 18, young lady, what could you possibly know about having a job? And I mean the true meaning of a REAL job?"

Well, let me tell you my friend... I know just enough.


Gue udah bekerja dari umur 16 tahun sebagai tutor, atau yang lebih dikenal dengan guru bimbel, not a common thing for Indonesians to work at this age, I know. Malah mungkin orang Indonesia bilangnya ini adalah wujud "eksploitasi anak," tapi gue sama sekali gak merasa dibebani, gue ngejalaninnya ya memang karena keinginan gue sepenuhnya. Pertama gue hanya ngajar anak-anak SD, tapi puji Tuhan lama kelamaan gue dipercayai dan dikirim anak-anak SMP-SMA. Again, I'm not an Einstenette, gue bukan orang terpintar di seluruh Jakarta, but I somehow find tutoring fun and I love dealing with kids, it's kinda funny how I learned so much as I teach. Pengalaman yang seru sih, jujur, banyak kejadian kocak dan lucu yang gak bisa gue ceritain disini satu-satu. Apalagi kalo ketemu temen-temen gue, mereka cuma bisa ngakak karena yang bisa gue omongin adalah anak-anak les gue, dan mereka mulai mencap gue sebagai emak-emak karena omongan gue seakan-akan gue udah punya banyak anak. Ya, gue ketemu mereka dari Senin sampai Jumat, bahkan sampai Sabtu kalo Senin-nya ujian, hidup gue perlahan menjadi bagian dari anak-anak les gue ini. Lalu di bulan Mei 2010, salah satu temen gue mulai ajak gue ke dunia Usheran, gue bahkan ga menganggap ini sebagai pekerjaan, karena ini menurut gue pekerjaan gaji buta, dimana lo cuma dibayar untuk berdiri dan terlihat cantik.

Juni 2010, gue mencoba suatu hal yang baru lagi; gue bekerja untuk salah satu perusahaan telekomunikasi sebagai SPG di PRJ. Berhubung saat itu gue masih bermukim di daerah Tangerang, gue nekat nge-kos sendiri di daerah Kemayoran untuk kerja di PRJ, semua orang mengira gue gila karena saat itu gue baru berumur 17 tahun, dan untuk bener-bener menjaga diri di daerah rawan seperti Kemayoran, butuh "anugerah ekstra." Anehnya, selama satu bulan penuh gue tinggal sendiri dan urus diri gue sendiri, gue diberi kekuatan lebih sama Tuhan untuk gak jatuh sakit satu haripun, karena waktu kerjanya bener-bener irasional menurut gue, gue bisa tidur jam 3 pagi dan bangun jam 7 pagi untuk kerja lagi, which I find amazing until this day! Bahkan anak kos di sebelah kamar gue diijinin untuk kecopetan, tapi gue bener-bener bersyukur dilindungin penuh selama tinggal sendirian disana. Tapi yang lebih anehnya, gue bisa lupa untuk SMS orang rumah karena tenggelam dalam kesibukkan gue sendiri selama PRJ. It was really one heck of an experience.

Di bulan Juli 2010 gue mengalami salah satu peningkatan terbesar dalam hidup gue, I landed a job being the Brand Ambassador for Mercedes Benz. Saat diberikan kepercayaan di usia muda, akan semakin mudah untuk merasa tertekan, tapi gue merasa tertantang untuk bisa dipercayakan tanggung jawab sebesar ini. Merekapun mengakui kalo mereka butuh seseorang yang lebih berpengalaman, tapi mereka mencoba mengambil resiko dengan mempekerjakan gue. Disini gue bekerja bareng Robert O' Connell dan Adam Edermo yang melatih gue untuk menjadi "wanita." Mereka mengajar gimana cara bicara seperti wanita, duduk seperti wanita, bahkan jalan seperti wanita. Miris bagaimana pengajaran untuk menjadi wanita dewasa diberikan oleh dua orang pria.

Mercedes punya berbagai event yang dibagi menjadi dua garis besar, sebagai penyelenggara atau sponsor. Kalau sebagai penyelenggara suatu event, gue dipercayai menjadi presenter dalam acara tersebut. Kalau sebagai sponsor, event Mercedes Benz dibagi menjadi 3; music, fashion and sports, karena disini Mercedes Benz hanya sebagai sponsor, biasanya pekerjaannya gak beda jauh cuma jadi pajangan aja. Gue bersyukur banget karena banyak pintu yang terbuka dari pekerjaan gue di Mercedes Benz.

Mungkin lo bertanya, "Loh, lo gak kuliah?" Dan jawaban gue akan selalu sama, belom. Sejujur-jujurnya, gue punya banyak cita-cita, banyak keinginan terpendam yang pengen gue gapai, dan gue merasa ini hanya bukan (atau belum) waktu yang tepat untuk gue mewujudkannya. Tapi semenjak perpisahan orang tua gue, gue merasa harus menjadi lebih dewasa berlipat-lipat kali ganda dari umur gue sebenarnya. Sama halnya seperti Mercedes Benz mengambil resiko mempekerjakan gue di usia dini, gue mengambil resiko untuk bekerja di umur gue sekarang ini karena seperti kata London Tipton di salah satu episode Suite Life of Zack and Cody,"Sometimes when you love someone, you've got to think of their needs first before you think about yourself." Kadang gue merasa, I'm losing my youth, girls my age think about boys and about what-to-wears on Saturday nights, I am stranded somewhere working my butt off even on weekends. Tapi gue gak menyesali apa-apa, gue belajar banyak dari semua pengalaman hidup gue; untuk mendahului apa yang dibutuhkan sebelum lo diberikan apa yang lo inginkan. Bener banget soal statement, "God never gives you what you want, but He gives you what you need." Karena tanpa rasa sakit, lo gak akan mensyukuri kesehatan lo. Tanpa orang yang meninggalkan lo, lo gak akan menghargai orang yang mau menderita dan selalu ada sama lo. Tanpa melalui hal-hal yang lo butuh untuk lalui, lo gak akan pernah dapetin yang lo inginkan. And it happens. I'm not the most religious person in the world, but in my life, what God did and will still do for me in the future are real, dan gue memang merasa, my whole life... It's been nothing but grace. Karena semua yang terjadi dalam hidup gue ga mungkin terjadi karena kekuatan gue sendiri, itu ga mungkin banget, butuh "kekuatan Ekstra" untuk bisa ngadepin semuanya. If for some people that is just not good enough, then you're just never going to feel satisfied. Because in life, sometimes all you've got to do is just-- keep the faith.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment