Biro Jodoh

Mungkin disaat lo jomblo kelamaan, orang akan mencoba untuk campur tangan di kehidupan cinta lo. Entah emang orang itu iseng, usil, atau merasa simpatik sama kehidupan lo. Ga terkecuali, orang tua. Pengalaman teraneh yang gue harapkan hanya terjadi sekali seumur hidup adalah dicomblangin oleh nyokap gue sendiri. Waktu itu temen nyokap gue bawa anaknya, yang umurnya beberapa tahun di atas gue, dan pria ini alisnya tebel. Harus diakui, pinter juga sih nyokap nyari yang setipe-setipe sama selera gue.

Jadi pas ketemu, kita ngobrol-ngobrol, makan siang, ditemani nyokap dan temen nyokap ini. Karena temen nyokap ini orang pemerintahan yang sering keluar masuk negara orang, gue merasa penasaran dan pengen belajar dari pengalamannya, jadi gue spontan banyak tanya-tanya sama dia. Jujur, gue lebih tertarik denger kehidupan si om daripada cowo ini. Alhasil, gue duduk di sebelah om-om dan cowo itu duduk sebelah tante-tante (baca: nyokap gue). Terlihat seperti tante girang dan om senang lagi asik double date? Gue akui, sungguh sebuah kombinasi yang aneh. Percakapan sama si cowo pun terlihat terpaksa dan canggung karena nyokap yang ngusulin tukeran e-mail lah, tukeran Facebook lah, nomer HP ga kelupaan juga. Salah satu blind date tragis dalam sejarah hidup!

Sebenernya, bagian teraneh dari pertemuan itu adalah saat kita ber-4 sepakat untuk nonton bareng. Being the strange mom that she is, nyokap gue emang doyan nonton bioskop, ternyata si om temen nyokap gue ini ga kalah gaulnya jadi we thought it wouldn't be a bad idea. Justru di dalam bioskop itulah, saat formasi duduknya membuat gue sangat tidak nyaman, posisi nyokap di sebelah kiri gue, cowo ini di sebelah kanan gue, dan si om di paling ujung, di situ gue merasa "This is not working!" Dan sesaat sebelum gue pulang, gue pun hanya pamitan sama om-nya yang udah baik hati bayarin kita semua makan dan nonton, dan dengan cueknya, gue cuma senyumin si cowo ini doang.

Pengalaman blind date yang ga kalah aneh adalah saat salah satu temen gue nyomblangin gue sama temen baik cowonya. Jadi dia kenal cowo ini karena dia jadian sama temen baiknya, dan dari cerita temen gue ini, gue merasa kalo anaknya cukup asik, so I gave him a try. Percakapan awal yang dimulai dari telponan berjalan mulus, beberapa minggu berjalan, gue merasa nyambung sama ni cowo, tapi tentunya yang jadi penentu faktor klik yang paling penting dengan seorang cowo adalah saat ketemu face to face. Kita pun janjian ketemuan. Udah beberapa kali gue ketemu cowo untuk pertama kalinya di Senayan City, instantly, mall itu bukan jadi tempat asing lagi buat gue.

Gue lupa apa yang membuat gue sama dia sepakat ke PIM, when we could have stayed at Senayan City. Kita masuk ke mobil, ngobrol soal diri kita masing-masing, basic likes and dislikes questionnaire, dan juga cerita sedikit tentang kehidupan cinta. Then something happened, he plugged his iPod to his tape recorder. Semakin lama gue merasa ga nyaman karena gue merasa lagu yang dia pasang itu aneh. Aneh dalam artian sebenarnya! Saking anehnya pun gue sampe ga bisa describe what it was like, pokoknya gue merasa lagu itu haunting, almost kind of creepy. Dan walaupun gue ga punya takaran cowo yang kayak gimana yang masuk itungan, but sense of music matters somehow.

Tiba-tiba cowo ini inisiatif untuk ngajakkin temennya ikut ke PIM. So, yes, in the middle of this "so-called-date," he told me that he wants to pick up his friend. Gue bahkan gak tau kenapa dia punya ide itu. Saat kejebak macet, terjadi suatu kejanggalan yang buat gue semakin pengen diturunin di tengah jalan. Dia mencoba ngeluarin gombalan menyedihkan seperti, "Bulanpun kalah indah, Nad, sama lo." Astaga, gue siap muntah di mobilnya saat itu. Dan memang gue udah merasa mual bahkan sebelum dia mengeluarkan gombalan ajibnya itu! Di tengah situasi ilfeel seperti itu, hal tersulit adalah menunjukkan ekspresi muka yang ga ilfeel!

Setelah sampai di rumah temennya, gue pun disuruh nunggu di mobil selama kurang lebih 20 menit, dan dia pun turun dulu untuk menjemput temennya. The weird thing is, I felt better with his friend's company. Gue lebih banyak ngobrol sama temennya, bercanda-bercanda, sampe akhirnya gue sampe di titik dimana gue bener-bener merasa ga enak badan. Sesekali gue mulai batuk-batuk, dan si cowo pun tawarin gue untuk minum dulu, tapi gue memaksa dia untuk anterin gue pulang dengan alasan kakak gue udah nyariin (Hahaha! Modus!). Long story short, akhirnya berujung ga kemana-mana, cuma ngabisin waktu di jalan, jemput temennya, dan drop gue pulang. Tada! Didn't run smooth.

Gue baca salah satu quote yang bikin gue tersenyum miris: "I've been on so many blind dates, that someone should reward me with a seeing-eye dog." Menyedihkan, bukan? I'll save more of this for the next posts. Sejauh ini, blind date yang paling mujur sih yang paling gue kira ga akan mujur, I'll save this one for later. I guess it's true how they say things happen when you least expect them to. Anehnya, dicomblangin orang ga pernah mujur, tapi udah lebih dari 3 kali gue comblangin orang selalu berhasil! Mau comblangin mak comblang, ya mana bisa. Sama aja kayak nyantet dukun santet. Gue jauh lebih sakti tentunya! :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment