Proses Pendewasaan

Growing old is a must, growing up is a choice.

Kalo kata Raditya Dika, manusia harus melewati tahap alay menuju pendewasaan. Itu bener. Pasti semua orang pernah lihat ke belakang dan berpikir, "And I thought that was cool?" Dari gaya rambut sampe gaya foto, I'm sure we've been through those days. Menurut gue, proses pendewasaan paling instan adalah rasa sakit. Orang yang paling berpotensi sukses adalah orang yang bisa mengubah kelemahannya menjadi keuntungan. Orang yang tahu kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Pemikiran absurd orang tua gue kalo tanggung jawab mereka berhenti di SMA dan sisanya adalah tanggung jawab anak-anaknya sendiri karena "tugas" mereka telah selesai membuat gue berpikir. Pola pikir mereka disebabkan pengalaman mereka, yang hanya disekolahkan sampai SMP. Gue pribadi ga suka disama-samain sama jaman dulu, menurut gue, dulu sama sekarang beda banget. Bahkan seseorang yang masih suka "hidup di masa lalu" seperti gue aja membenci hal seperti melihat ke belakang. Menurut gue yang paling bener adalah orang tua-- bahkan ibaratnya mati-matian-- mencoba agar anaknya bisa hidup jauh di atas kehidupan mereka dulu, tapi gue ga nyalahin mereka. Karena mau gimanapun juga, mereka tetep orang tua gue. Mungkin itu juga salah satu alesan gue masih kepikiran belom mau punya anak nanti ke depannya. Somehow, I just feel terrified that they'll end up like I did. I don't want to see them suffer the way I suffered. That's why I swore to myself that if one day I get to have kids, I'll make sure they'll have an amazing future that awaits ahead.

Kalo mau ngomongin soal perceraian, bayangin berapa juta anak Indonesia juga mengalami hal yang sama? Semua orang kalo ngomongin perpisahan orang tua gue ke gue pasti segan. Mereka takut nyakitin perasaan gue. Gue ngerti kok mereka kenapa berpikiran seperti itu. Karena sebagian besar pasti kurang mau terbuka dalam hal itu. Tapi memang itu yang membuat gue berpikir seperti sekarang. Rasa sakit. Butuh sakit untuk tau rasanya seneng. Butuh berada di bawah untuk bisa bener-bener merasakan nikmatnya di atas.

Jakarta keras ya? Mungkin pemikiran harus kerja di umur 16 tahun walaupun anak bontot, alias bungsu dari dua bersaudara, udah melekat pekat sama diri gue. Dan karena sifat yang ga bergantung sama orang lain inilah-- muncul rasa nyaman hidup sendiri tanpa pasangan. Tapi gue juga bersyukur akhirnya ada yang bisa merubah paradigma gue. I don't care if you're a Buddhist or a Muslim or a Catholic, atau bahkan mungkin lo ga percaya kekuatan ilahi, but this is guaranteed: Everything happens for a reason.

Pain is like the traffic jam. Mau lo Mercedes, mau lo bajaj, everyone stops at the same traffic light, right? The rules of the game are the same. Big or small, rich or poor, semua pasti ada di bawahnya. Yang ga pernah sakit tau ga apa? Zombie. Zombie itu apa? Manusia yang hidup tapi seluruh organnya udah ga berfungsi lagi, alias mati. Jadi kalo hidup ga pernah ngerasain sakit dalam hidup, sama aja kayak hidup tapi sebenernya mati.

Jadi buat orang yang bilang gue self-pity karena mengumbar hampir segalanya tentang hidup gue di blog, thank you for noticing. Karena seperti yang Oprah bilang-- setelah dilecehkan secara seksual dan verbal semasa hidupnya-- perbedaan dia dengan wanita lain adalah dia berani membuka masa lalu pahitnya dan menjadikan itu salah satu kekuatannya di masa depan. Ga heran kalo dia selalu come up with the most touching and unbelievable questions, setiap nonton episode Oprah, gue bisa sampe nangis terisak-isak saking tersentuhnya. Ternyata rasa pahit yang dia lalui udah di atas level kebanyakkan orang. Salah satu orang yang gue jadikan panutan, Joel Osteen, bahkan pernah bilang kalo apa yang ada di belakang tidak mempengaruhi apa yang telah tersedia di depan. Contohnya kaca yang ada di mobil. Kenapa kaca spion dibuat kecil? Karena ada pentingnya untuk melihat ke belakang, tapi kaca yang ada di depan untuk melihat ke jalanan dibuat jauh lebih besar. Kenapa? Karena yang di depan jauh lebih berarti dari yang di belakang. Namanya juga proses, setiap orang punya cara proses yang berbeda tentunya. I don't need your sympathy, really. I just want to welcome you to my reality. Dan gue ga perlu dijadiin seseorang yang harus di-look up to. Enggak. Gue sepenuhnya sadar kalo gue masih perlu banyak belajar. Gue ga sempurna, dan ga akan pernah sempurna. Yang pasti, jangan pikir kalau halangan terbesar itu adanya di luar sana. Engga. Halangan terbesar adalah diri kita sendiri. Yang di luar sana; segala sesuatu itu, pada dasarnya adalah mungkin. Jadi kalo ditanya, "Siap buat 2012?" Heck yes. I was born ready.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Setengah Gila Karena Cinta

Two is better than one? Is it weird if I thought to myself that for me it doesn't work that way sometimes? Setidaknya sendiri lebih baik karena diri sendiri ga bikin nangis-nangis sendiri. Sendiri berarti ga usah takut kehilangan, logikanya kan kalo ga punya apa-apa, ga bisa ilang juga pada akhirnya. Daripada punya, tapi ngebayangin ada yang bisa bikin seneng selain diri sendiri. Ngebayangin yang lebih baik. Ngebayangin perubahan. Mungkin sekarang bisa visualisasiin bakal end up berdua, tapi ada rasa ketakutan bakalan kembali ke dalam kesendirian. I mean, ngapain kalo ujung-ujungnya ditinggal sendiri juga? Gue sadar cinta emang bisa bikin gila. Parno. Bikin skenario sendiri di otak. Nungguin balesan sampe stress sendiri demi melihat kalimat singkat. Ga bisa makan. Ga bisa tidur. Udah kayak ga kenal lagi sama diri sendiri.

Nyiksa diri sendiri. Kepo. Penasaran lagi ngapain. Apa-apa dipantengin. Dicariin. Bilang ga kesel, tapi kesel. Ga marah, tapi marah. Baik-baik aja, padahal engga. Perlahan, otak mulai ga beres. Dengerin lagu keinget. Liat barang keinget. Liat kata-kata dikit, keinget. Kalo berbuat salah kayaknya nyesel banget, hampir benci sama diri sendiri. Pas ilang udah kayak... Ga tau alesan bangun di pagi hari. Nutup matapun jadi makin berat. Paling aman sih, ga usah jatuh cinta kali ya?

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Posting Malam Hari

Hidup itu seimbang, ada kalanya tertawa, ada kalanya menangis. Ada kalanya berjumpa, ada kalanya tiada. Ada kalanya menemukan, ada kalanya kehilangan. Aneh, bukan? Di kala semua cerita biasanya mengakui kalau penggunaan nama atau tempat hanya fiktif belaka, seharusnya mereka memberitahu semuanya-- kalau bukan cuma itu yang palsu, tapi ceritanya pun semua bualan semata. Happy endings. Do they even exist? Mungkin. Hidup terlihat sempurna hanya di layar kaca atau saat kita mendengarnya di telinga.

Ya. Musik. Bahkan lirik lagupun membuat semua orang berangan-angan. Too good to be true. That probably explains everything. Malam Natal, Christmas Eve. Natal jadi berbeda semenjak Oma sudah tiada. Tahun kedua merayakan Natal tanpa kehadiran Oma. Ditambah kepergian Om yang berumur 52 tahun... Semua terlihat begitu cepat. Sampai mimpiku terlihat buram. Dipikir-pikir, apa masih penting itu semua?

Desember dan Juli. Dua bulan yang seharusnya menjadi bulan paling menyenangkan, malah jadi bulan-bulan yang tidak ku tunggu-tunggu. Desember, dimana umat Kristiani selalu merayakannya dengan meriah, aku selalu menghabiskannya dengan merenung. Renungan itu kurang lebih berbunyi seperti ini, "Apakah tahun yang kulewati benar-benar sudah maksimal?" Kebanyakkan jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak. Juli, yang menandakan terjadinya hari kelahiranku, malah membuat aku bertanya-tanya, "Semakin hari semakin tua, lalu apa?" Mungkin aku sama seperti kalian, kita masih sama-sama mencari. Masih sama-sama belajar. Masih sama-sama mencoba. Masih sama-sama berlari. Entah kapan berhenti. Entah kapan berakhir. Melelahkan, tapi semoga terbayarkan.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Thumbs Up

"I have a habit. Bad habit, my mom says. I say, a gift."

Yang namanya penulis, paling 'ngena' kalo ngeliat tulisan. Saat buka website orang ini dan statement pertama yang gue baca adalah kalimat di atas, it literally inspired me to write a blog about this person.

Ga biasa-biasanya gue nge-blog soal artis Indo. Bukannya karena ga ada yang oke (Oke, fine, honestly I really think ga ada yang oke), tapi jarang banget ada yang menurut gue level of intelligence-nya itu pantes dijadiin public figure. Like a decent celebrity that can be a good example, for instance. People need someone to look up to, and kenapa negara Indo ga pernah beres dari dulu-- walaupun, ngomongnya banyak kemajuan and everything, well to me, the way I see it, is that the people- the role model that we're suppose to be admiring and follow- have not really qualified to make us a better population. I mean, apa ya, taste of music-wise, level of soap opera-wise, takes my breath away sometimes. And I mean it not in a good way, really. Well, uh, I can't really elaborate, but you get the picture.

Tapi ada satu seleb yang menurut gue sangat pantes dijadiin tolak ukur "bener engga"-nya artis Indo. Gue pertama liat dia di film layar lebar, ternyata dia punya relasi sama seseorang, I can't remember who and I can't be bothered to find out either, yang pasti someone with power (of course) or major links, to say the least. So, I thought, "Ah, another rich kid trying to be famous like the others; no talent, just relation with power, yada yada yada." But! I was proven wrong. I came across her personal blog a few years ago and thought to myself, "Wow, her brain is really... Something." Her english was outstanding, and yes, people with advanced skill of writing turns me on. She's a girl, I'm straight, so I meant that in a less provocative way, of course. Then I saw her ability to write music, followed her on Twitter and see her witty Tweets, it kinda hit me that maybe she's more than just a pretty face.

Dan bener banget, ternyata Sherina Munaf emang bukan sekedar seseorang yang jual tampang atau karena "link," she's really something, alright. Belom lama ini gue iseng baca website dia dan ternyata dia lagi kerjain satu project, it's called Thumbalip, I don't really know what but I'm excited to see her next move. She's definitely someone I would want to work with in the future, her brain is just... Too worthy and precious to be stranded on a country like Indonesia. It's no wonder why she is one of the few celebrities in Indonesia that has her account verified on Twitter (Talk about 2 million followers!). She is one of the, if not the only, celebrity in Indonesia that deserves a thumbs up. Artis Indo yang lainnya? Jari tengah aja.


...just kidding;)

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Runs In The Blood

Dari subuh di Twitter udah rame banget, jadi biar ikut meramaikan, gue mau ucapin: Selamat Hari Pahlawan! Kayaknya ga afdol banget kalo ga ngangkat satu tokoh yang dijadiin panutan di Hari Pahlawan ini. Jadi, siapakah kira-kira yang akan gue sebarin aib dan gue bocorin tentang keanehan-keanehannya? Yak, kehormatan tersebut gue berikan kepada sepupu cantik gue... Christina Jennifer Setiawan a.k.a @HeiHeiCJ.

Kecilnya aja udah keliatan ye... *keliatan ape?*

Beda 2 tahun tapi banyak orang mengira kita kembar. Yap, ga sedikit orang bilang kita mirip banget. Kecilnya dia ini tomboy, gue-nya ganjen kayak sesajen *lah, emang gue leak?!* Tapi semakin gede, gue semakin skater boy, dia semakin nyewek *ganggu bahasanya* Maksudnya makin dandan ala cewek, gitu. Dari dulu dia ini selalu sekongkol sama kakak cowo gue, Jason, buat jadiin gue bahan isengan. Fix, gue selalu jadi yang tersiksa, secara gue paling kecil juga dari bertiga. We practically grew up together, sempet satu SMP bareng dan apa-apa selalu bareng, dari dateng sekolah, pulang sekolah, bolos sekolah, you name it. Sampe setiap kali kalo mau bilang goodbye, kita bilangnya, "See you in less than 24 hours." Karena ya emang kita selalu di bawah 24 jam pasti udah ketemu lagi. Hubungan kita se-intens itu memang *serasa wawancara acara gossip*

Dari dulu dia emang dikenal sebagai orang yang bisa meramaikan suasana. Bukan meramaikan suasana dengan cara lari-lari keliling ruangan bawa petasan, tapi maksudnya selalu seru kalo dia ada disitu. Nah, dari dulu, dia sama kakak cowo gue suka acting ala-ala pembawa acara atau penyiar radio gitu. Secara, setiap pagi pasti dengernya Dagienkz-Desta, jadi mereka memang punya obsesi tersembunyi. Ternyata, kebawa dooong sampe gede. Pas ada opening kalo Prambors buka audisi penyiar, mereka dateng audisi. Kalo audisinya bawa ayam hamil mungkin udah bisa bikin omelette. Aseli. Itu lamaaaaa banget. Gue ceritanya lagi gak mood, jadi gak mau ikutan, cuma Titin dan Jason aja.

Ini salah satu proses audisi yang mereka ikutin...

Singkat cerita, dua-duanya gagal. Udah mikir kalo mereka mungkin bukan ditakdirkan jadi penyiar. Tau-taunya... Salah satu kandidat yang akan di training mengundurkan diri dan Titin dapet wildcard! Wildcard itu kesempatan di luar keputusan awal buat manggil salah satu orang yang udah gugur. Rumah Titin itu di Utara, tapi kantor radionya di Selatan, mana Titin udah mau praktek kerja karena hampir selesai kuliah pula. Galau deh dia menentukan pilihan. Tapi karena salah satu passion dia adalah jadi penyiar, akhirnya dia jalanin passion-nya.

Dari nge-MC bareng di sekolah lama dengan bayaran molen, sampe dapetin tiket gratis Java Jazz, Titin emang selalu bawa keberuntungan. Dia tau dari Utara ke Selatan tempat-tempat yang jual barang termurah, makanan paling enak (dan murah pastinya!), makanya paling enak kemana-mana sama dia. Ujan-ujanan di Dufan sampe nyeker, ke Bandung baru pulang jam 3 subuh, dari nangis, ketawa, berenang, pipis di kolam renang, mandi, semua udah ngerasain bareng deh. Dia juga belom pernah pacaran, makanya gue betah jomblo karena emang kita santai ngejalanin hidup percintaan. Tapi dia selalu dengerin gue kalo gue ngeluh, nangis-nangis sambil curhat, terus makan-makan lagi jadi happy lagi. Dia juga selalu manggil "Dede" dan karena dia manggil-manggil itu, semua orang jadi manggil gue "Dede" juga... Bawaan orok. Saking sehatinya, baru-baru ini gue tau kalo kita ga sengaja kebeli jaket kulit samaan. Dari semua brand di mall, warna jaket apapun, masa bisa sama? Gue sendiri aja serem.

Susah ya kalo jam terbangnya udah tinggi, udah ada hater dong sodara gue ini. Masa Facebook-nya di hack. Jadi kalo kalian cari Titin di Facebook, nama webnya facebook.com/asr.teguh, tapi username di web page nya itu bukan menandakan Titin cowo yang menjelma jadi cewe, tapi emang dia sempet di hack Facebooknya.




Gue belajar banyak sama dia. Ikutin passion lo dan selalu bersyukur. Gue percaya Tuhan selalu kasih hal-hal yang lebih dari yang kita pikirin. And guess what... Dreams really do come true :')



I love you full, Iting.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Irreplaceable

Kata orang, moving on adalah hal yang sulit dalam hal cinta-cintaan. Gue menemukan sesuatu yang lebih sulit diterima dalam hal beginian-- being replaced.

Lihat tempat kita dulu ditempatin sama orang lain emang gak asik. Contohnya bisa beragam sebenernya. Misalnya, dengan kehadiran seorang adik di tengah keluarga aja kadang kita jadi merasa 'tergeser' posisinya. Atau orang yang lebih pinter di kelas bikin kita bukan menjadi favorit guru. Atau mungkin orang yang kita sayang menemukan seseorang yang baru. Semuanya membuktikan kalo kita pengen dianggep, mean something to someone. Ya emang, maybe the things that happened made it impossible for you to stay, tapi tetep aja gak rela liat dia sama orang lain. It's sad to see them find happiness when you just lost your own.

Manusiawi sih sebenernya, manusia selain pengen dicintai kan dia harus mencintai, hukum alam yang ga bisa dilawan. Menjadi seseorang yang berarti buat orang lain mungkin salah satu keinginan terdalam kita. Dimana kita bisa buat hari-harinya bahagia, even if it means doing nothing with them. Yang disayangkan adalah saat kita masih bersedia memberikan semua yang kita punya, tapi dia udah gak lagi membutuhkannya, atau ada orang yang lebih baik yang bisa menawarkan yang kita ga bisa tawarkan. Hanya karena ada seseorang yang akan selalu lebih baik, bukan jadi alesan kita berhenti mencintai seseorang. Gue percaya akan ada satu orang yang ga akan bisa menggantikan elo, karena dia sadar sepenuhnya kalo elo tak tergantikan.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak Cupu

"Lo gak pernah pacaran, ga ngerokok, ga minum, ga pernah clubbing... Nadia... Masih ada cewe kayak lo ya di era ini?"

Call me a nerd, but I have nothing against the term, to be honest. I kinda like being the nerd among the clan. The one that you can tease or mock with all your might without having the slightest thought of being annoyed or offended. I like nerdy guys too. Suspenders, glasses, checkered shirts. Yes, you got the vision right. The nerdier, the better. I recently saw a movie that has Michael Cera starring in it, and yes, he turns me on, in a less provocative way, of course.

Boro-boro aneh-aneh sama cowo, dipegang tangannya sama cowok aja gemeteran. Yes, I would definitely want to know how it feels like to change boyfriends every week, tapi apa daya, mimpi tak sampai. Make-up ga beres, boro-boro bisa jalan lurus pake hak, kadang gue mempertanyakan jati diri gue sebagai wanita.

"Gue umur 19 mah lagi gila-gilanya 'berhubungan' sama cowo gue, Nad, waktu itu," kata temen gue yang berumur 23. "Gila, umur segitu, ya lagi menggebu-gebunya lah," dia melanjutkan ceritanya. Ini emang gue yang ga waras atau emang jaman makin edan sih? Gue kayaknya tinggal di dalem goa deh selama ini. What exactly am I missing out?

The answer? Nothing. Pertanyaannya sama kayak gini, "Do you want to have kids?" And my answer is as common as other girls would have to say about it. "Sure I do." But do I want to have kids NOW? 'Now.' You see, one word change the whole question. Of course not. Most of us aren't ready, even we have a hard time taking care of ourselves, with the laundry, and the chores, and the homework and other things to complicate life along. "So do you want to have sex?" Yes, at the right time, I do. But do I want to have sex "now" is when I have to shake my head and disagree with popular belief.

Bukan masalah siapa yang benar atau siapa yang salah. Kembali lagi sama pegangan hidup. Mereka bilang suruh coba dulu baru bisa ngomong. That is like saying, "You have to kill someone to know that it's illegal." Seperti halnya sama pisau. Pisau itu bisa digunakan untuk kebaikan, atau untuk kejahatan, depends on the person who has it, right? Pisau bisa digunakan buat masak, bisa juga untuk membunuh, the person who holds the knife make the call. But it doesn't take a genius to realize that you don't have to commit a sin to know something is wrong.

Mereka suruh gue 'cobain' aja pacaran. Dimana-mana orang ulangan harian (Baca: Pacaran) dulu, masa langsung Ujian Akhir (Baca: Menikah). Timing is everything, when the time's right, everything will be beautiful. Gue ga harus menurunkan standard gue, just to please people I don't even like, do something I don't even want to do, with the person I don't want to be with. "Ya elah, Nad, udah mau masuk kepala 2, boleh lah sekali-sekali pacaran." Kalo udah merasa siap, gue akan siap kok. "Umur segini jangan serius-serius amat, Nad, cari cowonya. Santai aja lagi." Ya, mungkin cara pandang gue beda. Harus serius dong, kalo main-main kapan abisnya?

Risih ga sih dicomelin sama orang-orang yang cara pikirnya berbeda jauh? SANGAT. But I look at it this way, I can go to their level any day if I want it to, endless night in clubs, smoke weed, crack, sleep with guys, but they can't go back to the level where I'm standing even if they want or plead or beg to.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Other Half

Gue pernah baca artikel, entah beneran atau rumor, kalo setiap orang punya 7 orang yang tersebar di seluruh dunia yang miriiiiip banget sama dia. As in physically. Itu membuat gue berpikir… Semua orang tau istilah “Soulmate,” tapi tentu definisi tentang kata itu selalu berbeda menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Ini mau cerita apa berdoa?). Apa definisi soulmate menurut kamu? Teman hidupkah? Sahabat kamu-kah?

Gue mau cerita sedikit tentang pengalaman gue beberapa hari ke belakang. Entah kenapa, I have this ability of people opening up to me, and I mean really open up to me, even at our first conversation. Gue bertemu seorang dokter gigi, parasnya ayu, tahi lalat yang ada di pipinya mengingatkan gue sama Paramitha Rusady saat jaman muda dulu. Dia ga cerita banyak, tapi entah kenapa kita tiba-tiba bicara soal cinta. Umurnya tergolong muda untuk seorang dokter gigi; 25 tahun. Gue melontarkan pertanyaan yang bisa dibilang gabungan antara basa basi dan keingintahuan, “Belom married?” Dia tersenyum manis. “Kemaren dilamar, tapi aku tolak.” Gue heran. Kenapa juga ditolak lamarannya? Akhirnya gue beraniin diri buat nanya, masalah dianggep kepo atau ga, urusan belakang. Jawabannya simple, “Aku belom siap. Dan belom mau serius juga.”

Serius lo?! Umur udah ga bisa bohong juga kali. 25 tahun, man. Akhirnya dia jelasin… Dia udah jalanin satu tahun sama seorang pria, beda 6 tahun lebih tua diatasnya. Dia bilang dia selalu anggap pria ini temennya, dan ga ada kata resmi bilang “jadian” juga. Ya tapi mereka jalanin hubungan, dan hubungan itu deket. Gue tanya lagi, “Tapi kalau ditanya temen-temen itu siapanya, dijawab apa?” Dia jawab, “Ya, pacar.” Santai banget jawabnya. Terus gue tanya lagi, makin lama makin terdengar seperti interogasi, “Keluarga kamu udah kenal dia?” Jawabannya mengingatkan gue kepada seseorang, “Ya aku ga gitu dekat sama Mama juga. Jadi dia ga banyak tanya.” Terus gue makin tanya lebih dalem, “Emang kenapa ga mau serius?”

“Aku bukan tipe orang yang bisa diajak married deh menurut aku, kayak Papa aku,” aku menyimpulkan kalau orang tuanya udah pisah, meskipun agak lancang tapi aku tanyakan juga, dan bener aja… Emang udah pisah katanya. “Aku orangnya karir banget deh. Dan aku ga menemukan alasan kenapa aku harus habisin hidup sama seorang pria kalo itu memperumit semuanya. Aku Muslim, jadi aku pikir, ya daripada aku nantinya semakin menyadari kalo hubungannya ribet, mendingan aku didik anak, pahalanya juga besar kok.” Ga gitu deket sama nyokap, karir banget, pengen ngadopsi anak tapi ga usah married, gue berasa ngobrol sama diri gue dari masa depan (Since she’s 6 years older than I am). Fix.

Terus gue cari permasalahannya… I searched for the roots. Takarannya gampang, ya coba gue bercermin sama diri gue sendiri. Gue menanyakan the million dollar question: Pernah disakitin banget ya sama cowo? Dia tersenyum sinis sambil agak menolehkan kepalanya sebelum dia melanjutkan ceritanya. “Aku udah ngelewatin semuanya. Yang namanya nangis-nangisan di kamar mandi, sakit hati parah deh. Pas aku pacaran sama cowo aku di SMA, aku ditinggal ke Belanda. Akhirnya ngejalanin LDR. Singkat cerita, satu tahun LDR, aku tahu dia selingkuh, dia sendiri ngaku. Belum lama ini, beberapa bulan yang lalu, setelah hampir 8 tahun kita putus, dia ngajak balikkan, bahkan mau married. Pas dia nyariin pertama kali aku merasa nyes-nyesan. Dia malah salahin aku, “Kenapa kamu ga pertahanin aku?” Tapi aku sadar kalo it won’t work out, penasaran aku terjawab juga, dan itu hilang. Katanya aku denger dia lagi pacaran sama cewe habis itu. Eh, kemaren aku dapet undangan dia mau married.”

Gue ketemu titik “pencerahan” hidupnya. Tuh cowo-lah yang mengubah persepsi dia tentang cinta. “Wow, it’s like the perfect ending to the fairytale, just 8 years too late,” pikir gue. Akhirnya dia bilang, “That’s why, gue ga mau married. Gimana mau kasi kepastian sama cowo, kalo aku sendiri belom percaya sama diri aku sendiri?” Gue kena banget pas dia ngomong gitu. Ni orang… Kayak soulmate gue. Dimana gue bisa melihat banyak gambaran diri gue dalam orang ini. Gue tanya terakhir, “Kamu bintangnya apa sih?” Jawabannya memperkuat pemikiran gue. Dia jawab, “Cancer.”

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kapan Gue?

(Lagi cari parkiran di Senayan City, abis nemenin @HeiHeiCJ siaran)

Titin: Iya, tinggi banget...
Nadia: Ganteng lagi.
Titin: Terus kemaren gue liat dia nge-Retweet cewenya, cewenya bilang, "Thanks ya lunch-nya," dia tulis, "Anytime."
Nadia: Aww...
Titin: Kapan ada yang bikinin gue lunch?
Nadia: Ngau... Iri.
Titin: Terus ada lagi dia nge-Tweet cewenya...
Nadia: Lo follow cewenya? Buset!
Titin: Kaga! Dia Retweet.
Nadia: Oh...
Titin: Cewenya bilang, "Duh, capenya abis seharian kerja," terus dia Retweet, "Aku tunggu di luar ya."
Nadia: AWWWWW... Kok baik!!! Asdfghjkl;lkjhgas *error*
Titin: Kapan ada yang nungguin gue di luar abis gue siaran?!

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Scared Or Scarred?

Recent Song On Play: In My Place (Acoustic)- Coldplay

"You're like a little sister to me..." Bullshark!
Ya, gue mencoba menjaga kata-kata yang dipake di blog biar semua kalangan bisa menikmatinya, bahkan anak-anak di bawah umur yang ngaku ke orang tuanya bikin PR padahal Facebook-an dan browsing di internet sekalipun. Pengalaman, jaman gue dulu Friendster.

Berapa banyak wanita disini yang pernah kemakan pria yang pake hubungan "Kakak-Dede" sebagai alibi HTS atau TTM-an?! Yak, gue pernah jadi salah satu korban juga. Gue sayang banget... Entah emang polos atau beneran cinta setengah mati, gue sampe ga pake otak gue. Perbedaan 5 tahun ga menjadi halangan buat gue (Emang selera gue tua... Tapi bukan Om-Om!). Saking cintanya (Atau kata lain, bodohnya...), gue bahkan rela anter jemput dia (Waktu itu masih ada supir) buat jalan bareng ke Dufan (Dimana tiket masuk dan segala pengeluaran gue yang tanggung), beli-beliin pulsa (Up to three times a week!), bahkan semua hal mengingatkan gue sama dia. Gue inget banget kalo warna favoritnya adalah hitam... Sampe-sampe semua orang yang jalan-jalan di mall pake baju hitam ngingetin gue sama dia (Bisa dibayangin berapa banyak orang pake baju item di mall?!).

Iya, gue sebodoh itu dulu. Pria yang sekarang udah menikah ini (Ga perlu deh kayaknya nulis nama) bisa dibilang adalah cinta pertama gue. Atau pemeras uang jajan gue lebih tepat kayaknya? Move on nya... Bisa dibilang sesuatu yang ga gampang. Dia adalah orang yang gue impi-impikan bisa jadi pacar pertama gue. Tapi pupus sudah harapan gue.

Pria berikutnya, bisa dibilang juga pria ideal. Suka main basket, lucu, ga jelek kok. Singkat cerita kita deket dan dia nembak gue... Karena deketnya baru beberapa bulan, gue suruh dia tunggu, rencananya 3 hari kemudian mau gue terima. Ternyata dua hari kemudian gue find out kalo dia nembak cewe lain... Sebagai "jaminan" kalo misalnya gue ga terima, dia masih ada cewe lain. Hebat ya, mentang-mentang hobinya otomotif, belom apa-apa aja udah punya ban serep. Thumbs up!

Yang berikutnya, temen baik kakak gue. Gue suka karena dia lucu banget, gue paling luluh deh kalo cowo lucu dan kocak, bisa memeriahkan suasana (Yak, kenapa gue ga berpikir cari di sirkus, I may never know)... Ternyata ritual yang selalu gue pull off with guys adalah making them wait after asking me to be their girlfriend. Gue suruh tunggu tiga bulan abis nembak, dia ga mau. Sekarang maksud gue gini, apa bedanya jadian nanti sama sekarang? Toh nanti jadi juga. Ya sabar, temenan aja dulu. Kan kita juga "road to jadian," menuju kesana kan. Eh, dia ga mau. Salah siapa jadi penantian seumur hidup sekarang? Sorry, Bet, kalo lo baca sekarang... I really did fall for you.

Pria berikutnya ga berbeda banyak, pengharapan gue ga banyak, gue kira cowo ini akan nembak gue dan kita akan jadian. Bukannya itu yang diinginkan semua orang yang lagi deket sama seseorang? For some reasons, dia tiba-tiba ngilang. Malam sebelum "aksi menghilang" dia, semuanya biasa aja. He wished me good night, sweet dreams, and (sekarang baru tau kalo cuma asal ngomong) I love you. Ga ada kabar... Tiga bulan kemudian cuma kelarin pake SMS yang bilang, "Sorry gue ga bisa ama lo"

Ga pake titik, ga pake koma. Udah gitu aja gitu.

Ternyata ga lama kemudian gue baru tau dari salah satu temen deketnya kalo gue membosankan menurut dia... Dan alasan kuat dia mengakhirinya adalah kita bukan dari ras yang sama.

Gue bertanya-tanya apa ada yang salah sama gue, kenapa gue ga jadian-jadian dimana temen-temen gue udah putus, jadian lagi sama yang baru, putus, balikkan sama mantan yang kedua, putus lagi, menikah... Gue ga jadian-jadian. Bahkan orang-orang kira gue yang terlalu tertutup sama cowo, padahal ga sama sekali. Oke mungkin gue dingin terhadap cowo, tapi please... I got my own issues. Gue baca satu quote yang mengukuhkan keinginan gue untuk single lebih lama lagi. It goes like this: "The best girls in this world choose to never have any boyfriends. Because the guys think they're not good enough, and they're right."

Akhirnya gue jatuh cinta lagi, kali ini sama sahabat gue sendiri. Kita udah kenal lama, kenalnya dari SD, tapi baru contact lagi karena temen gue ngasih MSN dia ke gue. Kita ngobrol banyak, klik luar biasa. Karena dia sekolah di luar, dia baru pulang untuk menetap di Indo dan saat itu kita ketemu setelah sekian lama ga berjumpa. Apalagi setelah kita ketemu itu, dia bilang di mobilnya, "I don't know why none of the girls I've been close to have made me feel like you do. You make sense to me." It felt right, everything felt right. Kasarnya, gue tinggal tunggu tanggal mainnya... I thought this was going to be it. Singkat cerita, dia menyatakan perasaannya via BBM, tapi gue ga jawab apa-apa karena menurut gue itu bukan "pertanyaan untuk jadi cewenya," hanya sekedar "ngungkapin apa yang ada di hatinya." Dia ajak ketemuan, gue kira dia akan tembak gue secara live. Menyiapkan diri lahir bathin...

We planned to meet on a Saturday night. "Asik, pertama kali malem mingguan sama pacar," I thought wishfully. Ternyata dia bilang dia mendadak harus ketemu sama orang lain. Gue agak kesel, tapi ya sudahlah... Mungkin diundur.

Besok paginya, hari Minggu, dia BBM gue. Ternyata dia bilang kemaren malem dia baru kopi darat sama cewe yang dia baru kenal di Facebook. Jleb. Gue tanya... "Loh, katanya... Lo suka sama gue?" Terus dengan polosnya (atau bodohnya), dia bilang dia cuma butuh mastiin apakah dia beneran ada feeling sama gue apa ga... Dan untuk cari tau itu, dia akirnya mencoba untuk ketemu dan jalan sama cewe lain. Gue shock. Gue jelasin, kalo misalnya emang dia beneran ada rasa sama gue, ga butuh cewe lain untuk memperjelas perasaan itu, ya perasaan itu ada dengan sendirinya. Intinya, gue bilang gue ga bisa cuma jadi pilihan kayak gitu, dia ngaku kalo mungkin dia belum siap jadian, entah kenapa kita jadi jauh setelah kejadian itu. Eh, ga sampe 3 bulan kemudian dia cari-cari lagi... Dengan seenak jidat dia bilang, "Gue mencoba cari cewe lain, I went out with like... 4 to 5 chicks, but none of them are you. They don't get me like you do. Mereka beda, ga kayak kamu." I'm like... Ya kali lo harus menempuh tiga sampe empat pertemuan dengan wanita berbeda untuk menyadari hal itu.

Gue ga mencoba mencari simpati dengan ceritain semua hal tentang kisah cinta gue. Gue cuma mau orang tau, kalo gue kayak gini ada sebabnya. Orang bilang gue pemilih, so be it, gue pemilih banget. Banyak orang yang mendengar cerita gue menyarankan gue satu hal: Jadilah orang yang lebih egois. Katanya sih, menurut mereka, being selfish sometimes makes you happier. Tentu aja, di saat kita mementingkan keinginan kita dibandingkan orang lain, kita terpuaskan. Tapi menurut gue kesenangannya sementara. Ada lagi orang-orang yang nyaranin gue untuk ngebales mereka yang pernah nyakitin gue, biar gue merasa enakkan. The thing is, when revenge is done, you'll feel satisfied... But then, now what? Itu cuma membuktikan kalo lo ga lebih baik dari orang yang nyakitin lo. Gue belajar satu hal yang sama setiap saat abis sakit hati, gue jadi semakin pintar. That is why there's a quote that said, "The smarter a woman becomes, the harder it will be for her to find the right man." Sumpah, ini bener banget. Kalo Taylor Swift selalu nge-hits lagu-lagunya karena secara frontal dia ceritain detail di lagu-lagunya, I swear I'll write a freakin' book about those guys who broke my heart. I'm so over crying over a guy, thinking this time will be right. We will fall in love for the right reasons, to the right person. When that time comes, that love will be worth the long wait, the tears and the pain. Right then we will forget we ever cried.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Enough Is Enough

Recent Song On Play: So Simple- Stacie Orrico
"Take it down, down, down and strip it to the core,
I don't really need much, less is more, more, more..."


Banyak orang diberikan kenyamanan tapi masih merasa belum terpenuhi. Banyak orang di sekeliling kita masih butuh bantuan, tapi kita cuek. Masalahnya bukan lebih atau kurang, tapi keadaan dimana kita merasa cukup. Masalahnya adalah, Tuhan selalu memberi kecukupan, tapi buat kita cukup selalu kurang. Manusiawi untuk selalu menginginkan lebih, tapi pernahkah terlintas kalau kadang yang kita punya sekarang, itu adalah definisi kesempurnaan? Mungkin roda kehidupan akan berputar, dan akankah kita sadar kalau saat itulah dimana kita menyadari kalau dulu kita punya segalanya? Jadi sebenarnya statement, "Don't take things for granted," atau bahasa simple-nya adalah untuk menyadari apa yang kita punya sekarang, itu yang kita perlu lakukan setiap hari. Semuanya, dari yang kelihatan sampai yang tidak terlihat, itu anugerah. Punya keluarga, teman, atau seseorang untuk dicintai, consider yourself the lucky ones. Emang bener, semua akan berasa lebih berharga kalo udah ga ada. Indahnya adalah, di saat kita kehilangan sesuatu, kita akan mendapatkan sesuatu juga. You lose some, you'll get some. Siapa bilang lagi kalo Tuhan ga adil? Hidup punya cara sendiri dalam mengajarkan kita banyak hal. Kadang kita harus mengikhlaskan segala sesuatu yang udah ga ada di hidup kita, biar sadar-- kalo suatu saat, cepat atau lambat, semuanya akan sirna jua.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teori Cacat

Gue jadi inget quote lucu yang pernah gue baca beberapa waktu yang lalu, "Kalo cinta seseorang, pake hati aja jangan pake jiwa. Jadi kalo nantinya harus sakit, cuma sakit hati, bukan sakit jiwa." Ternyata cinta berbanding lurus sama hal-hal yang terjadi di keseharian kita. Contoh simpel-nya gini: Kalo organ tubuh kita ga berfungsi dengan benar, itu dinamainnya cacat, kan? Jadi mata gunanya buat apa? Melihat. Kalo ga ngeliat, namanya buta. Kalo telinga, bukan beda bukan lain, hanya untuk mendengar. Kalo ga bisa mendengar? Namanya budek, conge, tingkat akutnya ya tuli.

Ya eya lah, ponakkan gue umur 4 taun juga tau beginian.

Jadi ibaratnya, kalo cinta itu harus gunain semua organ tubuh dan indera dengan sebaik mungkin. Mata untuk melihat dia sebagai pribadi yang utuh, termasuk segala kebaikkan yang orang itu telah lakukan buat kita, telinga untuk mendengarkan semua keluh kesah dia, mulut untuk menegur dan ngasi-tau kesalahannya, untuk saling membangun, dan yang paling penting adalah hati. Karena organ paling penting yang jadi penentu hidup dan mati kan hati, kalo mencintai ga pake hati, cintanya berarti udah mati. Fix.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BTW (Born This Way)

No, this is not a Coming-Out-Of-The-Closet post to declare that I'm a lesbian (Oh, you would sooo love to see that, wouldn't you? Better luck next time!), last time I check I still feel a sudden rush of adrenaline when I saw Chris Evans transform to Captain America. Those... Abs... *drools*
By the way, the movie sucked.

This is just to write about the person behind all this posts, if there happen to be a curiosity in your mind about the person blabbing all alone in cyber world. Lahir di keluarga yang separuhnya kuat budaya barat dan separuhnya lagi kuat sifat militer. Budaya barat bukan berarti standard hidup orang barat, lebih ke kebiasaan, seperti kemandirian terhadap segala sesuatu. Kalo militer mungkin membentuk sifat perfeksionis, which is something I'm not proud of. Kalo bisa jabarin beberapa poin penting from growing up, it's the following:

Jadi cewe jangan manja.
Prinsip ini membentuk karakter tomboy gue as I grew up. Cuek, ga menye dan gesit sana sini. Panas-panasan gapapa, keringetan-pun ga heran, akhirnya kadang gue mempertanyakan jati diri gue... Ya walaupun pas nunduk ke bawah tetep aja ada dua buah gunung (Oke, fine, bukit...) yang menonjol, pertanda kalo gue wanita tulen.

Jangan bergantung sama siapa-siapa, do things yourself.
Despite how I look like in real life, darah Jawa mengalir kental dalam tubuh gue. Jadi gue paling anti yang namanya nyusahin orang. Kira-kira begitulah pelajaran yang gue pegang, akhirnya gue dituntut untuk jadi cewe yang serba bisa. Ibaratnya kalo di rumah beresin kamar hayo, masak hayo, ngutak ngatik komputer hajar, no boundaries whether it's a man or a woman's job to do.

Ga perlu cowo untuk buat lo bahagia.
Nah, ini nih... Ini nih... Kalo lo bertanya-tanya kenapa gue ga jadian-jadian. Perpisahan Bokap dan Nyokap gue mengambil andil besar in terms of how I see relationships. Oma gue yang ditinggal Opa gue karena penyakit kanker, perceraian Nyokap gue sama Bokap, sampe Kartini sekalipun (Lah Kartini apa relasinya sama gue, yak?) mengajar gue kalo cewe tuh bisa kok berdiri sendiri. Bahkan di kesendirian lo, lo terkadang bisa lebih leluasa bergerak, gue ga against this opinion ya karena gue pribadi ngerasain itu.

Uang bukan segalanya.
Having it all doesn't guarantee you a complete and whole happiness. Buat apa lo jadi billionaire tapi lo gak punya temen? Sendirian di apartment mewah lo di Amerika tapi hidup lo kesepian... I know this point make me sound hypocritical, but I mean it. Having the most loving friends sometimes... Is all you need.

Above all... Do what you love.
I believe in this wholeheartedly. I don't see the point of living in luxury if what I'm doing is not me. I can look in the mirror and not recognize the person looking back at me and I can imagine how bad that would feel.

Kalo ditanya apa rasanya kerja semenjak usia muda... Ya ada enak ada ga enaknya. Ada lah pasti ego atau sifat kekanak-kanakkan yang ngelonjak, apalagi anak terakhir, gue merasa kehilangan hak gue sebagai anak bungsu. Gimana sih, masih muda, masih pengen seneng-seneng, bukan maksudnya mau habisin separuh hari gue di club atau buat belanja ya, lebih ke... Ketemu temen, ngabisin uang buat beli buku apa CD, being normal in general. Yang pasti dari awal gue lahir, kanak-kanak, remaja, sampe sekarang ini (Kalo mau ngaku masih remaja ga enak, bilang udah dewasa juga belom saatnya) gue ga merasa normal. Bukannya ga normal dalam artian keterbelakangan mental, mungkin lebih ke... Spesial.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dari Hati Ke Hati, Hari ke Hari dan Tai ke Tai

It is obvious. And I'm not going to lie because the title says it all...
Inspirasi blog ini adalah gejolak-gejolak di perut hasil dari makan kebanyakkan setelah menginap di Puncak. Ga perlu dong secara rinci gue jelasin seperti apa akibat dari perut gue yang menyebabkan gue bolak balik ke belakang terus?

...sorry bikin ilfeel.


Masa sukanya kalo gue lagi serius doang sih, ga suka pas gue lagi bercanda? I have a crazy and wild side to me too that I just don't show to anyone, you know;) Ngomong-ngomong soal ngasih liat aslinya seseorang, kalo lo udah tau aslinya seseorang, biasanya lo akan gimana sih? Menjauh? Apa malah makin suka?

In time, people show who they really are. How we respond to it determines who really are as a person. Ya tapi kalo orang ini emang ga baik buat hidup lo, derita lo untuk pertahanin dia dalam hidup lo. Banyak orang, particularly men (or should I say, boys?), mundur teratur saat udah liat aslinya gue; from my sweet (I mean disgusting) sides, my fun (actually, boring...) hobbies, and even my (not-so-interesting) background. Bahkan ada cowo yang bilang gue membosankan hanya karena gue suka buku. Ya sutra lah ya...

Ya mendingan langsung kasi liat aslinya sih, daripada berpura-pura suka padahal aslinya engga. Tapi mungkin beberapa orang lebih memilih hidup dalam kebohongan, karena takut ga diterima kalo mereka kasi liat aslinya mereka. Hasilnya? They live a double life. Bohongin diri sendiri lebih menyedihkan daripada membohongi orang lain.

Hati Ke Hati
Kejujuran, itu yang bisa membuat sebuah hubungan langgeng alias bertahan. People who are attached to each other need a heart to heart conversation. This is where they strip down to the core, dimana ga ada satupun yang diumpetin. Di saat kejujuran ambil alih suatu hubungan, gue rasa susah untuk konflik masuk ke dalam hubungan itu. Kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi itu yang kita butuhkan agar dua orang bisa mempertahankan hubungan tersebut. Ibaratnya, Bluetooth kan baru bisa connect kalo dua-duanya nyala, bahasa kerennya on the same page, baru bisa berfungsi seutuhnya. Apalagi saat lo menganggap semuanya hanya sekedar kebiasaan, di mana lo stuck di zona nyaman tersebut. Lo mungkin berpikir: Oke, gue mau telpon dia karena ya emang gue jam segini biasa telpon dia. Atau karena keseringan ngumbar kata-kata manis, lo jadi terpatok kebiasaan ngomong "Love you, honey," or like "Sweet dreams, Sayang," tapi nada lo datar. Deep down, lo ga ngerasa apa-apa lagi. What you need is a Heart to Heart conversation. Find out where is the pebble that made it feel rough to walk on. Kadang kerikil-kerikil kecil dalam satu hubungan malah yang bahaya. Mereka ga keliatan, tapi malah bisa merusak.

Hari Ke Hari
It is true how I once read a quote that says, "The key to a successful relationship involves falling in love over and over again. But with the same person everyday." Itu tuh bener banget. Mendapatkan sesuatu ga sesulit mempertahankan sesuatu. The challenge is to keep that feeling over and over every day, tanpa mengubah apa-apa. Tentu dari hari ke hari kita akan menemukan aslinya pasangan kita. Kadang di satu sisi, ada rasa dimana kita merasa kita deserve better, kita ga terima, but hey... Masa iya sih, lo cuma mau ada buat dia di saat dia seneng doang, dan saat dia lagi bukan dirinya yang sebenernya, lo akan segampang itu give up on them? Temukan satu alasan kenapa lo semakin cinta sama dia dari hari ke hari. Pasti ada deh satu orang yang lo pengen kasitau saat suatu kejadian menarik terjadi di hari lo. I didn't say a name, but somehow a name pops in your head, did it?

Tai Ke Tai
Day by day, lo akan menemukan satu alasan lagi yang akan menambah pemikiran kenapa lo ga usah mempertahankan hubungan lo. Disini deh, letak tantangan lo untuk lanjutin apa kelar. Ibaratnya lo makin hari makin tau kejelekkannya dia nih, tai-tai nya dia nih, dan itu kadang buat lo untuk mempunyai second thoughts. Yang lo perlu lakukan adalah menerima dan menyesuaikan. Toh, ga ada orang di dunia ini yang sempurna. Kalo semua orang mencari orang yang sempurna, ga ada yang nikah kali di bumi (dan itulah mengapa saya single, Saudara-Saudara...). Secara logika aja, orang ga ada yang sempurna. Justru saat lo menemukan orang yang mau deal with the worst scenario possible and where you're at your lowest, lo udah menemukan seseorang yang ibaratnya mau "memegang" atau handle tai lo nih (jangan dibayangin woy, gue tau frontal, tapi kadang gue butuh perumpamaan), lo dikaruniai seseorang yang mau menerima lo apa adanya, what else in the world could you possibly need?

Menurut gue orang yang ga bisa menerima lo apa adanya, ga pantes untuk ada di dalam hidup lo. Saat salah satu dari lo udah mulai nuntut-- in this case, I mean in a relationship-- that is when it's just not healthy anymore. At the end of the day, we need people to love us as who we are. Dimana seseorang bisa secara ikhlas menerima segala tingkah aneh lo, kebiasaan-kebiasaan lo yang ga biasa, hingga mimpi-mimpi absurd lo.

Random thought: Ironis ya ngomongin masalah relationships padahal sendirinya ga pernah jadian.

Hey, ga pernah jadian bukan jaminan ga pernah jatuh cinta. Bukan jaminan pula ga pernah sakit hati.

Yang gue heran adalah, kadang orang udah dapet pasangan yang sifatnya bagus, rupa ga buruk-buruk amat, tapi tetep aja disia-siain. Ya namanya juga manusia, kalo bisa merasakan yang namanya kepuasan sejati, udah ga lagi di bumi berarti.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pasangan Hidup VS Prinsip Hidup

Wow. Can't remember the last time I actually blog in Bahasa.
Lah ini niatnya mau blog pake bahasa Indo kenapa intro-nya pake Inggris yak?

Well, this random thought of mine just came in yesterday, jadi bahasa keren-nya ya... Fresh from the oven lah. Jadi gue kalo nge-blog kan kadang ditulis di HP dulu, atau di kertas, atau di Mac, ini ide kemaren yang terpaksa tertunda karena sambungan internet ga bersahabat. Tapi mumpung koneksi sembuh tiba-tiba (provider sedang galau nampaknya, kita cari uang bersama setelah libur lebaran ya, Mbak Operator), jadi langsung tumpah deh jadi blog.

Prinsip. Apa sih prinsip? Menurut gue prinsip itu pegangan hidup. Tentu cara di-raise orang kan beda-beda, your view on standards otomatis jadi beda-beda. Seberapa besar prinsip lo di hidup ini adalah pengukur seberapa jauh atau seberapa kuat lo akan bertahan kalo ada guncangan. Contoh kasarnya, kalo cowo punya prinsip hidup "SCSC" (Baca: Satu Cewe Saja Cukup), pasti, without a doubt, dia ga akan selingkuh. Ya secara jiwa, bohong deh kalo cewe bukan kelemahan cowo. Orang sekuat Ade Rai atau Dwayne Johnson aja pasti kelemahannya juga cewe. Fix. Tapi kembali lagi, seberapa besar cowo itu bisa berpegang pada prinsip hidupnya?


Iya, emang penting, perlu ada foto.

Gimana cara orang lihat apakah seseorang punya prinsip alias ga plin plan? Orang yang suka nyepelein hal-hal kecil biasanya ga bisa berpegang sama prinsip hidupnya. Kalo lo bilang, "Ya yaudah lah, gapapa selingkuh dikit, siapa juga sih yang bisa tahan sama satu orang aja seumur hidupnya," mungkin lo bilang, "Ya yaudah lah, gapapa boong sekali-sekali. Dia juga pasti pernah boongin gue," atau bisa juga, "Telat dikit gapapa lah, siapa sih yang ga pernah telat?!" Kalo lo tau banget orang yang suka kayak gitu, berarti lo tau just how much he/she worth. There's no excuse in cheating or lying or being late, that's like being absolutely okay for being a jerk. Justru kalo hal kecil aja dia ga bisa dipegang omongannya, gimana mau dipercayain sama hal-hal yang lebih besar? Apalagi cowo-cowo nih (buat para cewe), mereka tuh harusnya tau apa yang mereka mau, gimana ngeraihnya, dan pasti mereka ngelakuin apapun juga caranya buat ngeraihnya. Prinsip emang butuh kegigihan. Punya prinsip berarti orang itu punya integritas, ngomong A ya A, ngomong B ya B. Jujur ya memang ga gampang jadi orang yang berpegang pada prinsip hidup.

Seseorang yang berpegang pada prinsip hidupnya emang harus walk the extra mile alias lebih bersusah-susah sedikit. Tapi seseorang yang punya prinsip pasti ga gampang diinjek-injek orang, percaya deh. Nah, itu juga bisa jadi takaran dalam mencari pasangan hidup. Pasangan hidup yang ideal itu yang penting punya prinsip. Komitmen kan butuh banget yang namanya berpegang sama prinsip. Prinsip ini luas loh. Rajin kan juga prinsip, jadi kalo lagi diuji masalah finansial misalnya nih, tapi kalo prinsipnya "Kerjain yang terbaik walaupun pemasukkan ga asik," menurut gue cuma a matter of time sebelum nanti akan sepenuhnya berhasil. Kalo prinsipnya no nyeleweng allowed, atau no kompromi sana sini, udah aman deh. Kalo prinsip aja jelas, pasti tujuan hidup juga jelas. Fix.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Negara Maju

Sebelumnya gue mau ngucapin selamat Hari Kebangkitan Nasional, semoga yang baca ini bisa kasi kontribusi ke negara untuk membuat Indonesia lebih maju!

Entah kenapa di tahun ini gue banyak diijinin ketemu orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis, politik atau yang ga jauh-jauh dari orang pemerintahan. Perusahaan-perusahaan tersebut mungkin udah ga asing lagi di telinga kita, bahkan yang jadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Dari situ gue belajar banyak, dari yang mereka mulai segalanya dari nol sampe setiap hari Paris-Amsterdam-Hong Kong-Jakarta. Intinya hidup itu kayak roda, pasti berputar. Bisa keliling dunia itu bonus, tapi kalo bisa dapet wawasan kelas dunia di negri sendiri, kenapa engga, ya 'ngga? Berikut adalah beberapa pelajaran yang pengen gue share selama 5 bulan awal tahun 2011.

Salah satu event besar yang diadakan Telkom kemaren, gue bertemu dan ngobrol-ngobrol sama seorang Ibu yang memberitahu gue kalo salah satu wujud negara lain memperbaiki cara kerja suatu perusahaan adalah dengan memberi hadiah kepada mereka yang memberikan kritik dan komentar sebagai tanda terima kasih kepada konsumen yang mengikutsertakan diri mereka dalam pembangunan perusahaan mereka. Sedangkan Indonesia, kurang peduli sama kritik, bahkan cenderung ga memperbaiki diri kalo salah. Mungkin maksud Ibu ini adalah Indonesia terlalu menerapkan sistem musyawarah, alias suara yang paling banyak ya yang menang, walaupun itu salah. Contoh simpelnya aja saat lampu merah, walaupun lampu hijau belum nyala, tapi kalo semua mobil udah tancap gas, polisi pun gak bisa berkutik lagi. Indonesia tuh harus berani bilang engga sama hal-hal yang ga bikin kemajuan sama negaranya. Gue tau ini merupakan perubahan tersulit, karena Indonesia sangat nyaman dengan kebiasaan. Kadang kita nyalahin pemerintah, atau orang-orang tinggi negara, tapi gue rasa yang perlu diubah itu mindset kita sendiri.

Di suatu kesempatan yang gak kalah seru, seorang Bapak cerita tentang perjalanan menggali ilmunya ke Texas, dengan memperdalam ilmu Psikologi dan meraih gelar Professor-nya disana. Walaupun budaya negri Paman Sam tergolong liberal, tapi mereka punya standar tinggi di bidang pendidikan. Disana diutamain kualitas, makanya mereka menjor-jorkan beasiswa karena banyak otak encer yang gak dapet kesempatan yang sama dengan mereka yang berlebihan secara materi. Di Indonesia mah ya yang penting uang, uang dan uang. Uang bisa bawa orang kemanapun yang mereka mau. Kuantitas, bukan kualitas.

Indonesia itu banyak bibit pembuat sejarah tingkat dunia. Mutunya gak kalah bersaing sama luar negri. Tapi sayangnya, yang berkualitas tinggi ini malah ngibrit cari duit di luar negri. Cuma sedikit yang memang mau buat negaranya maju, mereka terpatok sama kemajuan diri sendiri. Gue pun kaget saat denger Bapak-Bapak di depan gue lulusan MIT, Harvard dan Princeton. Looks can be deceiving, so to speak. Tapi mereka berjuang keras buat memperbaiki pendidikan di Indonesia, walaupun usaha tersebut masih tergolong kecil dibandingin apa yang luar negri udah lakukan buat pendidikan di negaranya, tapi keinginan awal itu aja menurut gue udah kemajuan yang bagus.

Mungkin lo mikir, "Ah, gue cuma anak muda biasa, bisa kasih perubahan apa buat negara?" Caranya sama seperti memulai perubahan apapun dalam hidup lo, cari bidang yang lo minati, dan dari sana pasti lebih mudah untuk buat perubahan. Seperti yang udah gue pelajari, yang membuat seseorang menjadi pahlawan bukan tombak atau pedang, tapi perjuangan yang diberikannya di medan perang.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ingin Lawan Butuh

Mungkin kali ini; gue harus sedikit rehat dari nulis tentang hal lain selain diri gue. Mungkin kali ini, gue harus belajar untuk melakukan sesuatu yang gue rasa cukup sulit untuk gue lakukan selama ini, and that is to focus on what I want. Selain gue ingin para pembaca blog gue untuk tau siapa orang di balik semua blog absurd ini, gue pengen ngebagiin sedikit dari apa aja yang gue udah alemin selama perjalanan hidup gue. Please note that I'm just simply telling you a little bit of my story, of what I've been through, and I'm not seeking for any attention, any kinds of praise or compliment, I'm just sharing to you the person behind all the writings.

Hai, gue Nadia, 18 tahun (Dan sejujurnya kurang begitu berminat menambah umur sendiri jadi 19 dalam hitungan beberapa bulan). Setiap social network menyediakan satu segmen untuk memperkenalkan diri lo ke seluruh dunia yaitu di-section "About Me," namun gue merasa itu selalu kurang untuk mendeskripsikan siapa pemilik profile itu sebenarnya. Gue gak merasa the most talented person di bidang menulis, I write because I love to write, I don't need more reasons to do so. Prinsip itu gue terapin seperti pada bidang lainnya, misalnya dalam bidang musik. Seseorang mungkin menyanyi karena suaranya bagus, tapi apakah suara bagus cukup buat menjadi seorang musisi sejati? Engga, menurut gue penyanyi yang baik adalah seseorang yang ga cuma punya bakat menyanyi, tapi juga yang melantunkan nyanyiannya dari hati. Karena untuk berhasil dalam melakukan sesuatu, you have to be able to make a connection. Penulis harus membuat koneksi kepada pembaca, sama halnya dengan penyanyi kepada audience-nya. I remember a quote that said, "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life."

Pekerjaan-- mungkin lo berpikir, "Geez, apa banget sih, you're 18, young lady, what could you possibly know about having a job? And I mean the true meaning of a REAL job?"

Well, let me tell you my friend... I know just enough.


Gue udah bekerja dari umur 16 tahun sebagai tutor, atau yang lebih dikenal dengan guru bimbel, not a common thing for Indonesians to work at this age, I know. Malah mungkin orang Indonesia bilangnya ini adalah wujud "eksploitasi anak," tapi gue sama sekali gak merasa dibebani, gue ngejalaninnya ya memang karena keinginan gue sepenuhnya. Pertama gue hanya ngajar anak-anak SD, tapi puji Tuhan lama kelamaan gue dipercayai dan dikirim anak-anak SMP-SMA. Again, I'm not an Einstenette, gue bukan orang terpintar di seluruh Jakarta, but I somehow find tutoring fun and I love dealing with kids, it's kinda funny how I learned so much as I teach. Pengalaman yang seru sih, jujur, banyak kejadian kocak dan lucu yang gak bisa gue ceritain disini satu-satu. Apalagi kalo ketemu temen-temen gue, mereka cuma bisa ngakak karena yang bisa gue omongin adalah anak-anak les gue, dan mereka mulai mencap gue sebagai emak-emak karena omongan gue seakan-akan gue udah punya banyak anak. Ya, gue ketemu mereka dari Senin sampai Jumat, bahkan sampai Sabtu kalo Senin-nya ujian, hidup gue perlahan menjadi bagian dari anak-anak les gue ini. Lalu di bulan Mei 2010, salah satu temen gue mulai ajak gue ke dunia Usheran, gue bahkan ga menganggap ini sebagai pekerjaan, karena ini menurut gue pekerjaan gaji buta, dimana lo cuma dibayar untuk berdiri dan terlihat cantik.

Juni 2010, gue mencoba suatu hal yang baru lagi; gue bekerja untuk salah satu perusahaan telekomunikasi sebagai SPG di PRJ. Berhubung saat itu gue masih bermukim di daerah Tangerang, gue nekat nge-kos sendiri di daerah Kemayoran untuk kerja di PRJ, semua orang mengira gue gila karena saat itu gue baru berumur 17 tahun, dan untuk bener-bener menjaga diri di daerah rawan seperti Kemayoran, butuh "anugerah ekstra." Anehnya, selama satu bulan penuh gue tinggal sendiri dan urus diri gue sendiri, gue diberi kekuatan lebih sama Tuhan untuk gak jatuh sakit satu haripun, karena waktu kerjanya bener-bener irasional menurut gue, gue bisa tidur jam 3 pagi dan bangun jam 7 pagi untuk kerja lagi, which I find amazing until this day! Bahkan anak kos di sebelah kamar gue diijinin untuk kecopetan, tapi gue bener-bener bersyukur dilindungin penuh selama tinggal sendirian disana. Tapi yang lebih anehnya, gue bisa lupa untuk SMS orang rumah karena tenggelam dalam kesibukkan gue sendiri selama PRJ. It was really one heck of an experience.

Di bulan Juli 2010 gue mengalami salah satu peningkatan terbesar dalam hidup gue, I landed a job being the Brand Ambassador for Mercedes Benz. Saat diberikan kepercayaan di usia muda, akan semakin mudah untuk merasa tertekan, tapi gue merasa tertantang untuk bisa dipercayakan tanggung jawab sebesar ini. Merekapun mengakui kalo mereka butuh seseorang yang lebih berpengalaman, tapi mereka mencoba mengambil resiko dengan mempekerjakan gue. Disini gue bekerja bareng Robert O' Connell dan Adam Edermo yang melatih gue untuk menjadi "wanita." Mereka mengajar gimana cara bicara seperti wanita, duduk seperti wanita, bahkan jalan seperti wanita. Miris bagaimana pengajaran untuk menjadi wanita dewasa diberikan oleh dua orang pria.

Mercedes punya berbagai event yang dibagi menjadi dua garis besar, sebagai penyelenggara atau sponsor. Kalau sebagai penyelenggara suatu event, gue dipercayai menjadi presenter dalam acara tersebut. Kalau sebagai sponsor, event Mercedes Benz dibagi menjadi 3; music, fashion and sports, karena disini Mercedes Benz hanya sebagai sponsor, biasanya pekerjaannya gak beda jauh cuma jadi pajangan aja. Gue bersyukur banget karena banyak pintu yang terbuka dari pekerjaan gue di Mercedes Benz.

Mungkin lo bertanya, "Loh, lo gak kuliah?" Dan jawaban gue akan selalu sama, belom. Sejujur-jujurnya, gue punya banyak cita-cita, banyak keinginan terpendam yang pengen gue gapai, dan gue merasa ini hanya bukan (atau belum) waktu yang tepat untuk gue mewujudkannya. Tapi semenjak perpisahan orang tua gue, gue merasa harus menjadi lebih dewasa berlipat-lipat kali ganda dari umur gue sebenarnya. Sama halnya seperti Mercedes Benz mengambil resiko mempekerjakan gue di usia dini, gue mengambil resiko untuk bekerja di umur gue sekarang ini karena seperti kata London Tipton di salah satu episode Suite Life of Zack and Cody,"Sometimes when you love someone, you've got to think of their needs first before you think about yourself." Kadang gue merasa, I'm losing my youth, girls my age think about boys and about what-to-wears on Saturday nights, I am stranded somewhere working my butt off even on weekends. Tapi gue gak menyesali apa-apa, gue belajar banyak dari semua pengalaman hidup gue; untuk mendahului apa yang dibutuhkan sebelum lo diberikan apa yang lo inginkan. Bener banget soal statement, "God never gives you what you want, but He gives you what you need." Karena tanpa rasa sakit, lo gak akan mensyukuri kesehatan lo. Tanpa orang yang meninggalkan lo, lo gak akan menghargai orang yang mau menderita dan selalu ada sama lo. Tanpa melalui hal-hal yang lo butuh untuk lalui, lo gak akan pernah dapetin yang lo inginkan. And it happens. I'm not the most religious person in the world, but in my life, what God did and will still do for me in the future are real, dan gue memang merasa, my whole life... It's been nothing but grace. Karena semua yang terjadi dalam hidup gue ga mungkin terjadi karena kekuatan gue sendiri, itu ga mungkin banget, butuh "kekuatan Ekstra" untuk bisa ngadepin semuanya. If for some people that is just not good enough, then you're just never going to feel satisfied. Because in life, sometimes all you've got to do is just-- keep the faith.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lauk atau Pokok?

Di perjalanan pulang setelah anterin Titin ke kos-kosan, David, Jason, Chacha, Maria dan gue lagi asik ngomongin soal relationship yang bermuara ke perbincangan soal pelaminan.

Chacha: Ya pasti ada bosennya dong, secara tiap hari itu terus, itu terus.

David: Iya dong, anggep aja kayak makan. Pasti kan lauknya mau ganti-ganti. Kadang mau ikan, kadang mau ayam, atau kadang mau sapi.

Jason: Kalo kayak gitu mah, berarti ga bisa awet sama satu dong.

Nadia: Engga kali! Pasangan hidup itu bukan lauk. Tapi makanan pokok.

Semua: Maksudnya?

Nadia: Ya pasangan hidup itu kayak nasi. Yang lainnya hanya penambah, tapi yang jadi utamanya ya cuma satu itu. Semua harta lo bisa berubah-ubah, rumah, mobil segala macemnya. Karir atau pekerjaan lo bisa berubah-ubah. Semua cuma lauk, alias pelengkap. Tapi makanan pokok yang ngenyangin cuma satu; Nasi.

Maria: Widih. Dalem.

David: Tapi tetep aja dong, kadang lo bosen makan nasi, pengen makan mie, pengen makan pasta.

Nadia: Nah, lo liat aja sendiri, dari awal lo punya gigi pas masih kecil, udah makan nasi kan? Sampe sekarang lo masih makan ga tuh nasi? Sesuatu yang udah jadi bagian permanen dalam hidup lo, ga akan dengan gampangnya berubah. Liat aja rutinitas lo, kayak sikat gigi. Kalo dua hari berturut-turut ga sikat gigi, apa betah lo?

Maria: Ya iya lah, liat aja gigi David abu-abu.

Semua: (Tertawa terbahak-bahak)

Jason: Udah ah, ngomongin makanan gue jadi laper. Makan yuk.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Biro Jodoh

Mungkin disaat lo jomblo kelamaan, orang akan mencoba untuk campur tangan di kehidupan cinta lo. Entah emang orang itu iseng, usil, atau merasa simpatik sama kehidupan lo. Ga terkecuali, orang tua. Pengalaman teraneh yang gue harapkan hanya terjadi sekali seumur hidup adalah dicomblangin oleh nyokap gue sendiri. Waktu itu temen nyokap gue bawa anaknya, yang umurnya beberapa tahun di atas gue, dan pria ini alisnya tebel. Harus diakui, pinter juga sih nyokap nyari yang setipe-setipe sama selera gue.

Jadi pas ketemu, kita ngobrol-ngobrol, makan siang, ditemani nyokap dan temen nyokap ini. Karena temen nyokap ini orang pemerintahan yang sering keluar masuk negara orang, gue merasa penasaran dan pengen belajar dari pengalamannya, jadi gue spontan banyak tanya-tanya sama dia. Jujur, gue lebih tertarik denger kehidupan si om daripada cowo ini. Alhasil, gue duduk di sebelah om-om dan cowo itu duduk sebelah tante-tante (baca: nyokap gue). Terlihat seperti tante girang dan om senang lagi asik double date? Gue akui, sungguh sebuah kombinasi yang aneh. Percakapan sama si cowo pun terlihat terpaksa dan canggung karena nyokap yang ngusulin tukeran e-mail lah, tukeran Facebook lah, nomer HP ga kelupaan juga. Salah satu blind date tragis dalam sejarah hidup!

Sebenernya, bagian teraneh dari pertemuan itu adalah saat kita ber-4 sepakat untuk nonton bareng. Being the strange mom that she is, nyokap gue emang doyan nonton bioskop, ternyata si om temen nyokap gue ini ga kalah gaulnya jadi we thought it wouldn't be a bad idea. Justru di dalam bioskop itulah, saat formasi duduknya membuat gue sangat tidak nyaman, posisi nyokap di sebelah kiri gue, cowo ini di sebelah kanan gue, dan si om di paling ujung, di situ gue merasa "This is not working!" Dan sesaat sebelum gue pulang, gue pun hanya pamitan sama om-nya yang udah baik hati bayarin kita semua makan dan nonton, dan dengan cueknya, gue cuma senyumin si cowo ini doang.

Pengalaman blind date yang ga kalah aneh adalah saat salah satu temen gue nyomblangin gue sama temen baik cowonya. Jadi dia kenal cowo ini karena dia jadian sama temen baiknya, dan dari cerita temen gue ini, gue merasa kalo anaknya cukup asik, so I gave him a try. Percakapan awal yang dimulai dari telponan berjalan mulus, beberapa minggu berjalan, gue merasa nyambung sama ni cowo, tapi tentunya yang jadi penentu faktor klik yang paling penting dengan seorang cowo adalah saat ketemu face to face. Kita pun janjian ketemuan. Udah beberapa kali gue ketemu cowo untuk pertama kalinya di Senayan City, instantly, mall itu bukan jadi tempat asing lagi buat gue.

Gue lupa apa yang membuat gue sama dia sepakat ke PIM, when we could have stayed at Senayan City. Kita masuk ke mobil, ngobrol soal diri kita masing-masing, basic likes and dislikes questionnaire, dan juga cerita sedikit tentang kehidupan cinta. Then something happened, he plugged his iPod to his tape recorder. Semakin lama gue merasa ga nyaman karena gue merasa lagu yang dia pasang itu aneh. Aneh dalam artian sebenarnya! Saking anehnya pun gue sampe ga bisa describe what it was like, pokoknya gue merasa lagu itu haunting, almost kind of creepy. Dan walaupun gue ga punya takaran cowo yang kayak gimana yang masuk itungan, but sense of music matters somehow.

Tiba-tiba cowo ini inisiatif untuk ngajakkin temennya ikut ke PIM. So, yes, in the middle of this "so-called-date," he told me that he wants to pick up his friend. Gue bahkan gak tau kenapa dia punya ide itu. Saat kejebak macet, terjadi suatu kejanggalan yang buat gue semakin pengen diturunin di tengah jalan. Dia mencoba ngeluarin gombalan menyedihkan seperti, "Bulanpun kalah indah, Nad, sama lo." Astaga, gue siap muntah di mobilnya saat itu. Dan memang gue udah merasa mual bahkan sebelum dia mengeluarkan gombalan ajibnya itu! Di tengah situasi ilfeel seperti itu, hal tersulit adalah menunjukkan ekspresi muka yang ga ilfeel!

Setelah sampai di rumah temennya, gue pun disuruh nunggu di mobil selama kurang lebih 20 menit, dan dia pun turun dulu untuk menjemput temennya. The weird thing is, I felt better with his friend's company. Gue lebih banyak ngobrol sama temennya, bercanda-bercanda, sampe akhirnya gue sampe di titik dimana gue bener-bener merasa ga enak badan. Sesekali gue mulai batuk-batuk, dan si cowo pun tawarin gue untuk minum dulu, tapi gue memaksa dia untuk anterin gue pulang dengan alasan kakak gue udah nyariin (Hahaha! Modus!). Long story short, akhirnya berujung ga kemana-mana, cuma ngabisin waktu di jalan, jemput temennya, dan drop gue pulang. Tada! Didn't run smooth.

Gue baca salah satu quote yang bikin gue tersenyum miris: "I've been on so many blind dates, that someone should reward me with a seeing-eye dog." Menyedihkan, bukan? I'll save more of this for the next posts. Sejauh ini, blind date yang paling mujur sih yang paling gue kira ga akan mujur, I'll save this one for later. I guess it's true how they say things happen when you least expect them to. Anehnya, dicomblangin orang ga pernah mujur, tapi udah lebih dari 3 kali gue comblangin orang selalu berhasil! Mau comblangin mak comblang, ya mana bisa. Sama aja kayak nyantet dukun santet. Gue jauh lebih sakti tentunya! :D

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Terpuruk Bukan Yang Terburuk

Judul itu muncul disaat aku berdoa di malam hari. Doa itu indah, bukan? Dimana tubuhmu terdiam, tapi rohmu berbicara. Mengatakan hal-hal yang tidak seorangpun tahu. Hati nurani pun mulai mengeluarkan kata-kata yang tak pernah terlintas. Pergumulannya; yang terpendam perlahan muncul ke permukaan. Indahnya mengisi kekosongan yang hanya bisa diisi dengan berbicara dengan Tuhan. Yang terindah adalah aku bisa mengeluarkan segalanya. Membahas masalah adalah hal yang biasa, tapi aku bisa mencurahkan anganku, lika-liku hidupku, mimpiku, bahkan hingga keinginanku yang terliar sekalipun.

Cape juga ya pake bahasa baku. Yah, begini lah nasib penulis amatir, bahasa seenak jidat, pemakaian kosa kata sekate-kate, klimaks-nya kadang ada kadang engga. Sebenernya bahasa Indonesia lebih luas untuk di-explore loh. Penggunaan kata yang artinya sama aja ada banyak. Contoh: Aku, Saya, Ane, Aye, Eke (ya kan bancinya Made In Indonesia juga, jadi masuk itungan dong!), jadi sebenernya ga kalah asik & menantang untuk nge-blog pake bahasa Indonesia.

Orang yang kenal sama gue mungkin tau banget gue orangnya ga gampang terbuka. Emang gue gampang percaya, tapi gue sangat pemilih when it comes to letting them know about the slightest details of my life. Gue bersyukur, saat gue ada di keadaan yang membuat gue merasa orang terlemah sekalipun, gue diberkati oleh temen-temen yang ga pernah absen buat dorong gue supaya maju. Justru disaat lo jatuh lo bisa liat siapa temen lo sebenernya, ya ga sih? Bukan cuma yang ada pas segala sesuatu berjalan mulus dan ga ada hambatan. Gue teringat sama satu quote Oprah yang isinya, "Everyone wants to ride with you in the limo, but what you need is someone who will take the bus with you when the limo breaks down." Itu bener banget menurut gue. And please note that what the quote is about is not a matter of transportation! Gue percaya penikmat blog gue adalah orang-orang intelek yang ngerti apa yang gue omongin. Tentu mudah buat orang mengerumuni lo disaat lo seneng, tapi pas lo butuh saat lo down, masih ada ga? Kenapa tau siapa yang temen sebenernya itu penting, karena dengan siapa lo bergaul itu secara ga langsung akan menentukan hidup lo ke depan. Kalo lingkungan lo adalah lingkungan yang bawa dampak negatif, tentu hidup lo ga jauh-jauh ya jadi minus juga, begitu juga sebaliknya. Gue yakin semua orang pasti pernah ngerasain entah yang namanya di-khianatin, entah di-ngomongin di belakang, merasa diguna-guna (bukan disantet, tapi merasa di-take advantage) atau di-kecewain gimanapun bentuknya, tapi percaya sama gue, bertahan aja deh dalam proses yang emang lo harus lalui. I'll close my blog with one of my favorite quotes of all time, a classic, that says, "There comes a point in your life when you'll realize who matters, who never did, who won't anymore and who always will. So don't worry about the people in your past , there's a reason why they didn't make it to your future."




Salam cinta dari si Domba Betina

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karena Cinta Saya Kembali

Ya ampun. I'm such a bad blogger. Errr... Tapi kebanyakkan post gue ga penting sih, jadi gue ga bisa dibilang sebagai an authentic blogger. Posting-an terakhir gue di blog ini (last time I check) adalah pas Oktober tahun lalu. Wow, how time flew! Buat yang belom tau tentang blog gue yang ini, ya monggo dibaca-baca dulu. Mulai dari kenapa gue namain blog ini (established since April 2010) sampe ke hal-hal absurd seperti pacar misterius saya selama ini. Penasaran, kan?

EMANG DASAR KEPO LO!



...canda ding! :)

Caution: This blog contains un-funny materials that might make you poke the retinas of your very own two eyes, causing damage in your nerves, brain, and even toes. Hence, I will not be responsible for any kinds of refund, insomnia, kegalauan, or even mutation. Results may vary.

Tentu salah satu alesan gue nge-blog adalah supaya orang kenal sama gue. Tapi maksudnya bukan untuk jadi terkenal, tapi untuk pengenalan ke orang ga di kenal. Ya Tuhan, I forgot how much fun I used to get when I write things here.

Oke, judul blog gue kali ini terinspirasi sama restoran junkfood yang paling 'hip' di Jakarta (well, actually, all over the world, tapi di Jakarta sih emang ga ada matinya, 24 jam, bo!), yang baru buka cabangnya lagi karena sempet tutup saat salah satu saingannya 'nyenggol' restoran ini dari habitat aslinya (ngomong opo toh...). Yes, McDonald's Sarinah. Sempet vakum dari dunia kuliner karena salah satu pesaingnya mencoba peruntungannya di tempat McDonald berdiri, yang sayangnya berujung tragis, karena sekarang McDonald's kembali lagi di Sarinah, saudara-saudara! (Theme song di background: We Are The Champion.)

Yang paling 'ngena' banget adalah saat masih rekonstruksi ulang di Sarinah, gue sempet lewatin tempat tersebut dan disana banyak banner yang bertuliskan "Karena Cinta Kami Kembali" di dinding-dinding restoran, tepat berada di sebelah gambar sepatu dari si icon Ronald McDonald (eh bener ga, sih?) yang bernuansa merah-kuning, trademark dari lambang McDonald. You go, McDonald's! (sangat bertolak belakang dengan kebiasaan saya tidak memakan daging)

Anywhooooo... Can't wait 'til I post my random thoughts here again. Remember, comments and feedbacks are always welcome! Find me on Twitter by clicking here. Inget, KO-MEN-TAR. Lo ga komen, gue pensiun jadi blogger (ya eaa, emang penting banget ngancemnya...). Masa dalam sejarah gue nulis disini, baru pernah sekali dapet feedback di comment box. Sedih banget perjalanan gue sebagai penulis. 100 komentar pertama dapet buku gue di masa mendatang deh. (Ciah keren aje mimpinya!). I'll catch you later.




Salam cinta dari si Domba Betina

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS