My Epiphany

Entah berapa liter air mata yang udah jatuh ke bumi selama sebulan terakhir. Sulit rasanya untuk tersenyum diatas hal-hal yang bisanya memberimu berbagai macam alasan untuk menangis. Tiba-tiba sesuatu mengingatkanku.

"Orang yang menabur dengan air mata akan menuai dengan sorak sorai."

Lalu aku melihat ke atas. Aku tahu Dia lihat. Mana? Katanya ada?

Tiba-tiba penglihatanku teralihkan oleh sebuah botol. Botol minum itu terlihat normal. Ga ada tanda-tanda yang membuat botol itu beda dari botol lainnya. Aku genggam, aku mulai melihat-lihat botol itu. Lalu mataku terpaku pada tulisan, "Dari mata air pegunungan..."

Mata air. Sumber daripada air yang ada di botol ini.

Mata air. Air mata.
Sekilas terlihat serupa, tapi dua arti yang sangat berbeda.

Akupun masih terdiam. Lalu pikiran kosong itu berubah menjadi renungan. Seakan ada seember air dingin yang menyiram hatiku. Aku bodoh. Aku tahu Dia pasti kecewa dengan apa yang aku pikirkan saat itu. Bahkan mengapa aku mempertanyakan hal itu dari awal, aku telah lupa, aku tak tahu. Dia bahkan bisa merubah air mata menjadi mata air kehidupan... Dan aku meragukan itu.

Aku bukan orang yang religius. Aku masih berbuat dosa, namun itu bukan hal yang aku banggakan dari diriku. Aku mau belajar untuk selalu jadi lebih baik. Aku bukan contoh orang dengan hidup yang sempurna. Aku bukan mencoba untuk mengada-ngada tapi memang segala segi kehidupanku ini hanya sebatas anugrah. Akupun bisa melangkah ke depan (atau menyeret diriku kesana), itupun semua hanya karena anugrah. Aku bisa hidup di dunia inipun sebuah anugrah yang tak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Kalau orang masih bisa mengeluh di balik segala kenyamanan yang mereka punya, aku hanya bisa berterima kasih atas nafas yang kuhirup tiap harinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment